Thursday, January 9, 2014

Bacarita Dengan Revelino Berry




Ketika di Ambon, saya tidak punya waktu yang banyak untuk langsung “bercerita” dengan Berry. Akhirnya setelah di Bandung. Saya melakukannya. Walaupun hanya lewat emailSeperti komitmen saya, blog ini kedepannya akan mendedikasikan “isi-nya” kepada segala sesuatu yang berbau lokal. Tentang Maluku. Tentang anak-anak Maluku. Tentang kegiatan-kegiatannya. Terlalu berat. Tapi saya mau mencoba dari yang kecil-kecil.

Semoga bacarita dengan Berry, bisa singgah di hati. Ini doa saya kepada pembaca.

Saya: kapan mulai menulis puisi?

Berry: menulis puisi, pertama kalinya ya Pas sekolah dulu, pelajaran Bahasa Indonesia. Hehehe. Mulai senang dan suka menulis sejak 2010, selepas acara Tribute to Bing Leiwakabessy meski tidak sering.

Saya: pernah tembak cewek pakai puisi?

Berry: tembak cewek pakai puisi belum pernah ( semoga bisa seperti Pablo Neruda :D )

(Amin. Sudah jarang ternyata cowok-cowok melakukannya. Padahal bagi perempuan-perempuan tertentu, ditembak pakai puisi, bisa bikin bergetar :D )

Saya: ada buku favorit yang mempengaruhi selama menulis puisi?

Berry: kalau buku favorit tidak ada, tetapi  ada beberapa yang mempengaruhi, isinya tentang tips menulis, lupa judul tapi membantu dan ngaruh. Hehehe.

Saya: ada puisi favorit dari penulis tertentu dan kenapa suka sama karyanya?

Berry: suka Bird Opinion dari Nietszche. Semacam gambaran puisi lahir dari hasil perenungan. Tapi favorit sekali itu milik Weslly Johanes, “Barangkali cinta memang harus buta” selalu enak untuk dicoba menafsir berlawanan.

(baca bagian ini, jadi ingin segera mungkin coba bacarita dengan Weslly Johanes. Sayangnya saat ini Weslly sedang vikaris di daerah Tanimbar Selatan. Tapi siapa tahu saya bisa menulis surat untuknya.)

Saya: bagaimana menurut kamu tentang minat baca anak anak muda Maluku?

Berry: minat baca anak muda Maluku masih kurang. Entah kenapa, kurang diracuni mungkin.

Saya: boleh cerita sedikit tentang #MalamPuisi? apa yang bikin acara ini menarik untuk dikunjungi?

Berry: sastra (dalam hal ini puisi) di Ambon hari ini sementara dalam perjuangan membangun segmennya sendiri. #MalamPuisi menjadi salah satu kegiatan yang berupaya membawa puisi untuk mendapat tempat selain genre-genre seni lain. Selain itu malam puisi juga mempertemukan anak-anak kreatif dan suka puisi entah penyair, penyair pemula, bukan penyair pemula bahkan yang bukan penyair. #MalamPuisi layak dikunjungi, karena selain sebagai alternatif menikmati bentuk-bentuk seni, suasananya yang cair  membuat kita lebih bisa menikmati meski bukan seorang yang paham seni sastra, puisi-puisinya variatif,  ruang jumpa “tanpa tembok”, tongkrongan. Banyak hal menarik di sana.

Bagian #MalamPuisi, saya setuju dengan Berry. Dan sangat mendukung adanya kegiatan ini. Saya diundang ke sana untuk membaca puisi. Terus terang saya sendiri belajar banyak. Rasanya ingin bilang bahwa: sebuah sentuhan “seni baru” di Ambon, Maluku sedang lahir. Bahwa anak-anak muda di sana tidak pakai embel-embel kata “kreatif” untuk membuat sebuah acara kreatif.

Bahwa anak-anak muda Ambon, Maluku, tidak perlu mencari galeri terkemuka untuk “memamerkan” karya mereka supaya dianggap “keren.” Tapi karya mereka tidak dibuat-buat. Karya mereka turun ke jalan. Berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Ya, semangat ini yang saya pelajari ketika terlibat dengan kegiatan-kegiatan mereka beberapa hari kemarin.


Revelino Bervion Nepa. Lahir 13 September, penyair yang aktif bersama Bengkel Sastra Maluku, tergabung dalam Kelompok Seni Manis Pait. Berry juga aktif sebagai rapper di Molukka Hiphop Community (MHC) dan juga aktivis tenaga kependidikan. Silakan temui Berry di twitternya @revelinoberry .  

1 comment:

  1. nggak sabar ikut sundaymeeting besok sama kaka Theo, asyiik pasti seru :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...