Showing posts with label #SemacamInterview #TentangMaluku. Show all posts
Showing posts with label #SemacamInterview #TentangMaluku. Show all posts

Sunday, February 23, 2014

Tentang Musik Bagus Amboina (semacam review Album Cinta Ambon Loleba Project)









Saya mau bercerita tentang mereka. Hari Jumat yang lalu, tepat ketika hari kasih sayang, saya diundang untuk membawakan acara launching album sekaligus konser cinta Ambon oleh Loleba Project. Saya tidak sendiri, melainkan ditemani dengan Gerry Pelmelay.

Ini adalah proyek keroyokan oleh Figgy Papilaya, Carlo Labobar, Cello Quezon, Delon Imlabla, Ronny Bonaparte, Aditya Titaley, Michael Mailuhu, Frans “hayaka” Nendissa, Grace Huwae. Sebelumnya beberapa nama yang ada tergabung dalam beberapa proyek, seperti Par-C, Huheba, kemudian ketika beberapa diantara mereka berkumpul, akhirnya tercetus ide untuk membentuk sebuah proyek bernama “Loleba Project.”

Arti kata Loleba sendiri adalah sebuah tali pengikat atap. Tali itu berasal dari serutan pohon kelapa. Ia mungkin hanya sebuah tali kecil. Tetapi bayangkan fungsinya, ia sebagai pengikat, ia sebagai pemersatu.

Di malam itu mereka akhirnya meluncurkan album mereka bertajuk, Cinta Ambon. Saya akan cerita sedikit tentang album mereka. Sebagai orang awam yang jarang sekali menikmati musik asli Ambon. Setiap kali pulang ke Ambon saya  hanya menemukan musik musik remix tidak jelas dengan lirik-lirik yang “padede” (baca: istilah Ambon untuk “cengeng”) dan saya sendiri merindukan sebuah musik bagus khas Ambon dengan lirik-lirik yang kuat dan penuh harapan.

Dan Loleba project berhasil memuaskan kerinduan saya. Album Cinta Ambon memiliki 11 track. Dengan 9 lagu dan beberapa medley. Mereka me-remake kembali beberapa lagu lama seperti “Sio Mama” ciptaan Melky Goeslaw. Kemudian track favorit saya sendiri adalah “Nusaniwe” ciptaan Jhon Pattirane. Nusaniwe juga adalah single pertama Loleba sudah diluncurkan duluan.

Album Cinta Ambon ini sendiri membawa semangat baru. Campuran aransemen vokal dan musik juga rap membuat basudara yang mendengarkan album ini seperti pulang ke rumah, duduk di teras minum teh sore-sore ditemani pisang goreng hangat dan cerita ringan mama dan papa.

Selain itu ada satu track Medley Permainan yang ada di album ini. Dari mulai Lemon nipis, Sahureka reka, Tumbu balanga, Tumbu kalapa, dan Enggo lari. Seperti di bawa pulang kembali di masa kanak kanak, bau matahari dan keringat, sekaligus keceriaan anak-anak.

Album Cinta Ambon berisi dua kata: “Panggel Pulang” bahwa kemanapun kita pergi, kakimu akan kembali ke tanah raja-raja. Seperti Loleba yang kebanyakan mengikat atap rumah. Mendengarkan album ini seperti membuat basudara pulang ke rumah.


*jangan lupa beli albumnya info @lolebamusic atau hubungi. 085216558199. 

Thursday, January 9, 2014

Bacarita Dengan Revelino Berry




Ketika di Ambon, saya tidak punya waktu yang banyak untuk langsung “bercerita” dengan Berry. Akhirnya setelah di Bandung. Saya melakukannya. Walaupun hanya lewat emailSeperti komitmen saya, blog ini kedepannya akan mendedikasikan “isi-nya” kepada segala sesuatu yang berbau lokal. Tentang Maluku. Tentang anak-anak Maluku. Tentang kegiatan-kegiatannya. Terlalu berat. Tapi saya mau mencoba dari yang kecil-kecil.

Semoga bacarita dengan Berry, bisa singgah di hati. Ini doa saya kepada pembaca.

Saya: kapan mulai menulis puisi?

Berry: menulis puisi, pertama kalinya ya Pas sekolah dulu, pelajaran Bahasa Indonesia. Hehehe. Mulai senang dan suka menulis sejak 2010, selepas acara Tribute to Bing Leiwakabessy meski tidak sering.

Saya: pernah tembak cewek pakai puisi?

Berry: tembak cewek pakai puisi belum pernah ( semoga bisa seperti Pablo Neruda :D )

(Amin. Sudah jarang ternyata cowok-cowok melakukannya. Padahal bagi perempuan-perempuan tertentu, ditembak pakai puisi, bisa bikin bergetar :D )

Saya: ada buku favorit yang mempengaruhi selama menulis puisi?

Berry: kalau buku favorit tidak ada, tetapi  ada beberapa yang mempengaruhi, isinya tentang tips menulis, lupa judul tapi membantu dan ngaruh. Hehehe.

Saya: ada puisi favorit dari penulis tertentu dan kenapa suka sama karyanya?

Berry: suka Bird Opinion dari Nietszche. Semacam gambaran puisi lahir dari hasil perenungan. Tapi favorit sekali itu milik Weslly Johanes, “Barangkali cinta memang harus buta” selalu enak untuk dicoba menafsir berlawanan.

(baca bagian ini, jadi ingin segera mungkin coba bacarita dengan Weslly Johanes. Sayangnya saat ini Weslly sedang vikaris di daerah Tanimbar Selatan. Tapi siapa tahu saya bisa menulis surat untuknya.)

Saya: bagaimana menurut kamu tentang minat baca anak anak muda Maluku?

Berry: minat baca anak muda Maluku masih kurang. Entah kenapa, kurang diracuni mungkin.

Saya: boleh cerita sedikit tentang #MalamPuisi? apa yang bikin acara ini menarik untuk dikunjungi?

Berry: sastra (dalam hal ini puisi) di Ambon hari ini sementara dalam perjuangan membangun segmennya sendiri. #MalamPuisi menjadi salah satu kegiatan yang berupaya membawa puisi untuk mendapat tempat selain genre-genre seni lain. Selain itu malam puisi juga mempertemukan anak-anak kreatif dan suka puisi entah penyair, penyair pemula, bukan penyair pemula bahkan yang bukan penyair. #MalamPuisi layak dikunjungi, karena selain sebagai alternatif menikmati bentuk-bentuk seni, suasananya yang cair  membuat kita lebih bisa menikmati meski bukan seorang yang paham seni sastra, puisi-puisinya variatif,  ruang jumpa “tanpa tembok”, tongkrongan. Banyak hal menarik di sana.

Bagian #MalamPuisi, saya setuju dengan Berry. Dan sangat mendukung adanya kegiatan ini. Saya diundang ke sana untuk membaca puisi. Terus terang saya sendiri belajar banyak. Rasanya ingin bilang bahwa: sebuah sentuhan “seni baru” di Ambon, Maluku sedang lahir. Bahwa anak-anak muda di sana tidak pakai embel-embel kata “kreatif” untuk membuat sebuah acara kreatif.

Bahwa anak-anak muda Ambon, Maluku, tidak perlu mencari galeri terkemuka untuk “memamerkan” karya mereka supaya dianggap “keren.” Tapi karya mereka tidak dibuat-buat. Karya mereka turun ke jalan. Berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Ya, semangat ini yang saya pelajari ketika terlibat dengan kegiatan-kegiatan mereka beberapa hari kemarin.


Revelino Bervion Nepa. Lahir 13 September, penyair yang aktif bersama Bengkel Sastra Maluku, tergabung dalam Kelompok Seni Manis Pait. Berry juga aktif sebagai rapper di Molukka Hiphop Community (MHC) dan juga aktivis tenaga kependidikan. Silakan temui Berry di twitternya @revelinoberry .  

Tuesday, January 7, 2014

Bacarita Dengan Tero Borut




Suatu ketika ada sebuah pertanyaan oleh seorang teman. Ia berkata: adakah penyair-penyair muda asal Maluku? Saya terdiam. Ada, jawab saya di dalam hati. Sayang sekali mereka tidak kelihatan. Mungkin saatnya untuk memunculkan mereka walau itu hanya di blog saya.

Saya: kenapa senang puisi?

Tero: suka saja, sulit untuk benar-benar menjelaskan kenapa suka sesuatu. Banyak hal yang bisa menjadi musabab, mungkin tidak sama sekali sebagai sebab. Tetapi kalau disuruh beralas-alasan, sebagian mungkin karena ada kesenangan tersendiri bermain dengan kata-kata. Dan lebih pokok lagi, mungkin karena menemukan cara untuk menyembunyikan isi kepala dan hati lewat bahasa yang samar.

Saya: “menyembunyikan isi kepala dan hati” <-- merujuk pada kalimat ini, rasanya tidak ada yang perlu “disembunyikan” justru kadang puisi bisa buka hati kita dengan jelas. Menurut kamu?

Tero: tergantung yang bikin puisi. Kalau mau samar bisa jadi samar, kalau mau langsung ya bisa langsung, tapi bahkan yang telanjang pun akan bisa jadi sangat samar. Seperti puisi-puisi manjaling tampias. Saya percaya yang benar-benar tahu makna sebuah puisi hanya yang membuat. Orang lain hanya menebak. Bahkan kalimat yang terucap pasti lewat mulut saja sering bercabang.

Saya: apa maksudnya “kalimat yang terucap lewat mulut saja bisa bercabang”?

Tero: kelas ringannya mungkin kalimat-kalimat bersayap. Kalimat seperti kutemui kau malam nanti, instead of nanti malam kau kutemui. Rasanya kalimat kedua jauh lebih pasti.

Saya: oke, sekarang kita masuk proses kreatifnya. Bisa cerita biasa tulis puisi dimana? Ada ritual khususkah? Dan bisa bagi puisi sepotong yang tercecer di hape atau notes kah?

Tero: tidak ada tempat khusus. Tapi pantai dan gunung jelas membantu. Saya kebetulan selalu membawa satu buah buku yang belum habis dibaca kemana-mana dan pena. Karena selalu bawa ransel. Tetapi kalau ada ide, biasanya dicatat di notes hape atau dibikin jadi draft sms.

mari kuseberangkan engkau ke hari baru
biar hidupmu menetap di pucuk
biar matari menghangati mimpimu tiap kali ufuk menyala

(ini adalah bagian favorit saya dari sepenggal puisi yang Tero kirim. Bagian ini rasanya hangat. Dan jika saya bisa mewarnainya. Warnanya adalah biru langit.)

Saya: boleh tahu referensi kamu apa?

Tero: jaman masih SD, ada semacam buku wajib yang dibaca dari kelas 4-6 yaitu AA. Navis, NH Dini, dan Hamka. Dan saya baru tahu kalau di jaman itu Achdiat K Mihardja sebenarnya tidak boleh dibaca, tapi ketika SD itu saya masih ingat bahwa, kita harus membuat resensinya. Tapi semua buku-buku itu lupa. Pas SMA justru jatuh cinta dengan Emha, Markesot lalu catatan pinggir, Goenawan Mohammad, yang juga mempengaruhi gaya-gaya menulis sampai awal-awal kuliah. Lalu ketika kuliah di Jatinagor, kenal Pram, Camus, sedikit Satre dan Marguez. Dan justru yang dibaca sampai selesai (berkat pacar saya) adalah supernova, Dee. Tapi kalau buku yang kena banget itu ya Pram yang Bumi Manusia, dan Paulo Coelho yang Alcemis. Mainstream sekali sebenarnya.

Saya: menurut kamu seberapa jauh pengaruh “membuat resensi” dalam menulis?

Tero: berpengaruh banyak. Membuat kita memaksa diri untuk mengerti tentang isi bukunya. Juga bikin berani berpendapat tentang buku yang sedang kita baca. Dan yang paling saya ingat adalah resensi itu bagus untuk mendamaikan saya dengan Ibu Mainake. (Tero dulunya aktif naik gunung semasa SMA. Dan itu yang membuat ia terlambat masuk pelajaran bahasa. Ibu Mainake adalah gurunya.)

Saya: lalu menurut kamu, bagaimana dengan minat baca anak-anak Maluku sendiri?

Tero: agak kurang. Kurikulum di sekolah tidak kondusif. Dan televise bikin anak-anak jadi lebih visual. Beda dengan jaman saya. Saya kasih lucky luke dan asterix untuk keponakan saya, tapi sampai sekarang belum dibaca-baca. Dan satu lagi perpustakaan tidak kondusif. Tidak membantu minat baca anak-anak Maluku dengan baik.

Ini hanya sedikit percakapan saya dengan Tero. Ia bukan penyair. Ia hanya anak muda yang senang menulis. Beberapa dari buah pikirannya adalah puisi. Tidak ada salahnya kita kenal sedikit dari pemikirannya.







Tero Borut bernama lengkap Muhammad Burhanudin Borut. Sekarang aktif membantu kampanye damai di @ambonbergerak, juga aktif menjadi provokator damai dengan teman-teman komunitas kreatif di Ambon. Dan saat ini sedang menuntut ilmu di Australian National University. Tero bisa ditemui di twitternya @Tero2_Boshu. Atau blognya di:  http://terometamorfolio.blogspot.com/

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...