Tuesday, November 5, 2013

Semacam Review Saya Untuk “Kei” Yang Ditulis Oleh Erni Aladjai



Saya menyukai cara Erni bercerita. Saya pribadi yang asli orang Kei, karena Ayah dan Ibu saya berdarah langsung Kei, tidak banyak tahu mengenai falsafah dan adat istiadat yang ada di sana. Karena sejak kecil saya dan kakak-kakak saya sudah dibesarkan di Ambon. Yang saya tahu Ayah selalu berbicara dengan bahasa Kei, ketika sedang berada di pertemuan dengan keluarga.

Ada getaran hebat ketika pertama kali saya menerima buku ini di tangan saya. Karena pertama, Kei adalah kampung halaman saya dan kedua saya pernah merasakan mencekamnya kerusuhan yang terjadi di Ambon ketika tahun 1999.

Dua hal inilah yang membuat saya akhirnya merasa “klik” dengan Kei. Ketika membaca Kei, seperti ada suara yang berdesak-desakan di dalam kepala dan hati saya yang “memanggil pulang” ada sebuah rasa rindu yang cukup dalam untuk melihat kampung halaman saya dengan kedua mata saya sendiri. Kampung dimana nenek moyang saya berasal. Kampung dimana kedua orang tua saya berasal. Dan kampung dimana, saat ini saya membawa darahnya kemana-mana. Bahwa saya terlahir sebagai seorang perempuan Kei.

Ketika Erni bercerita tentang kerusuhan, perasaan saya pun ikut terguncang kembali. Saya tidak merasakan kerusuhan yang terjadi di Kei, tetapi saya ada di sana, ketika kerusuhan terjadi di Ambon, pecah di Januari, 1999. Kerusuhan yang dikarenakan oleh sebuah kepentingan. Ya, saya setuju bahwa kerusuhan itu memang sudah direncanakan oleh beberapa pihak. Yang pada akhirnya mengkambing-hitamkan agama. Begitu menyesatkan.

Sebagai keluarga protestan yang dibesarkan di lingkungan minoritas, pada waktu itu Ayah dan Ibu saya yang bekerja sebagai pendeta, mereka melayani di sebuah jemaat di daerah Kebun Cengkih. Kami berada di posisi yang sangat terjepit. Kami sudah diancam untuk harus segera keluar dari rumah kami sendiri. Beserta dengan gosip yang beredar “bahwa kalau tidak keluar, nyawa adalah taruhannya.” Satu kepala pendeta waktu itu dihargai dengan beberapa puluh juta saja.

Ibu, saya, dan kakak sudah diungsikan ke rumah tua kami. Yang waktu itu berada di daerah yang cukup aman. Sedangkan Ayah saya tetap keras kepala tidak mau meninggalkan rumah. Ia bersikeras bahwa itu adalah hak miliknya. Dan tidak mungkin ia akan terusir dari hak miliknya sendiri. Ketika itu kerusuhan di Ambon pecah lagi beberapa kali, usah perdamaian sudah coba dilakukan. Saya ingat semua pemuka agama dikumpulkan untuk berunding dan membacakan kesepakatan damai. Bahkan Ayah dan Ibu pun turun untuk ikut pawai bersama. Tetapi sia-sia. Kesepakatan perdamaian bersama itu tidak berhasil juga.

Pada bulan Juli, di tahun yang sama. Entah kerusuhan sudah pecah keberapa kalinya di Ambon, situasi memanas, dan akhirnya Ayah harus keluar dari rumah kami. Ketika itu hanya ada beberapa orang kristen yang tersisa di Kebun Cengkih. Beberapa rumah dijaga oleh aparat keamanan. 

Ketika itu tanggal 23 Juli tahun 1999, menjelang siang hari terdengar suara-suara yang dengan lantang meneriakan nama Allah Maha Besar di kejauhan. Mereka menggunakan truk-truk besar. Dan mereka menuju rumah kami. Ayah saya termasuk yang punya intuisi. Saya tidak tahu apakah itu adalah intuisi atau memang itu “jalannya.” Dengan hanya membawa dua tas karung berisi beberapa surat penting kami, ia keluar dari rumah hendak menuju rumah Dokter Lenny Matoke, tetangga kami, yang waktu itu rumahnya dijaga oleh aparat. Suara-suara dan bunyi truk semakin mendekat. Ayah terus berjalan. Seperti ada yang memaksa kakinya untuk terus melangkah. Ayah seperti tahu bahwa jika ia lengah sedikit, maka itu mungkin adalah ajalnya. 

Ketika ia sedang ada di langkah-langkahnya, ia mendengar ada yang memanggil seperti berbisik “Bung Abe, lewat sini! Jangan lewat situ!”

Belakangan Ayah cerita bahwa suara itu adalah Kakak Ros Ubuarin. Tetangga kami yang lain, beragama muslim, dan sesama orang Kei. Kakak Ros menunjukkan jalan supaya tidak berpapasan langsung dengan truk-truk yang sedang menuju rumah kami. Dengan langkah tergesa-gesa Ayah pun maju dan terus maju, akhirnya berada di sebuah rumah yang lebih aman. 

Dan Ayah saya selamat.

Bertahun-tahun semenjak kerusuhan, saya hidup dengan cerita ini. Cerita ini adalah saksi, bahwa di dalam setiap hati nurani manusia, ada cinta kasih, dan persaudaraan. Dan ikatan itu lebih tinggi daripada agama yang seringkali menjadi pembeda diantara kita.

Cerita ini membuat saya percaya bahwa, cinta kasih tidak bisa ditawar. Ia mutlak dan murni ada di dalam setiap hati yang terbuka dan mau mendengarkan.

Ketika menulis ini, saya menelepon Ayah untuk kembali mendengarkan ceritanya. Ia kembali menceritakannya, dan saya selalu mendengarkan ceritanya dengan bergetar. Dan ketika menuliskannya saya kembali berkaca-kaca.

Membaca Kei, Erni seperti membuka kembali sebuah diary lama saya. Yang tidak pernah saya ingin ada orang lain yang membacanya. Dan kali ini saya menuliskannya kepadamu. Buku Kei yang ditulis oleh Erni seperti mengkonfirmasi kembali keyakinan dalam diri kita semua bahwa, manusia itu sama, sama-sama terbuat dari kesalahan, tidak ada yang terlalu suci untuk saling menghakimi orang lain, apalagi punya hak untuk menghilangkan nyawa orang lain.


No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...