Tuesday, November 5, 2013

Sejumlah Alasan Kenapa Saya Mengangkat Lokalitas dalam Novel ‘Kei

Oleh : Erni Aladjai


Saya menyukai novel. Saya mulai membaca novel sejak usia saya delapan tahun.  Tentu novel anak-anak yang saya baca ketika itu. Membacanya masih di perpustakaan sekolah. Saya tinggal di pulau kecil. Terpencil. Ribuan mil jauhnya dari toko buku.

Seingat saya, di tahun 90-an, novel-novel banyak mengangkat lokalitas. Sayangnya, saya tidak mengingat nama penulisnya. Saya hanya mengingat latar novel-novel yang saya baca. Salah satunya berlatar di sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Tambora. Novel lainnya, bercerita tentang satu keluarga Jawa yang bertransmigrasi ke satu desa di Sumatra. Meski ingatan saya samar, namun saya ingat betul, kebanyakan novel anak-anak di tahun 90-an berlatar daerah.

Sejak itu, saya menyukai latar-latar lokalitas. Saya menyukai cara para penulisnya menggambarkan setting novelnya. Ada bunga-bunga. Hamparan sawah. Jejeran pohon nyiur. Hamparan laut. Gemericik sungai. Burung-burung pipit. Sekawanan lumba-lumba. Dan matahari pagi yang menembus atap rumbia rumah-rumah di desa. Membaca latar yang dideskripsikan pada masa itu membuat saya merasa kampung sayalah yang mereka tulis.

Seiring waktu, saya belajar menulis. Saya mencoba menulis novel-novel berlatar kota-kota besar, sayangnya saya tidak pernah berhasil. Saya rasa itu karena saya adalah anak kampung. Saya lebih banyak merekam panorama desa ketimbang kota.

Suatu hari, ada teman saya bercerita. Dia seorang pekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Dia baru saja mendampingi sejumlah anak remaja kota tur di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Di sana ada Suku Kajang yang memperlakukan hutan dengan baik. Teman saya ini gemas, melihat perilaku anak-anak kota. Mereka tak mengenal pohon kopi. Mereka terheran-heran melihat pohon cengkeh. Ketika dia menceritakan itu pada saya, saya berpikir hal-hal yang terbaikan oleh generasi mudah adalah mendalami wawasan nusantara. Di sinilah, saya kira, pentingnya novel-novel yang mengangkat budaya lokal. Sastra jangan sekadar berbicara tentang percintaan dua remaja yang bertemu di lapangan basket. Atau bertemu di dunia maya. 

Sastra untuk remaja harus lebih dari sekadar percintaan, persahabatan, atau motivasi-motivasi yang mendidihkan darah muda.

Untuk itu, inilah sejumlah alasan saya kenapa mengangkat lokalitas (baca: daerah) :

# Sama seperti sebagian orang, saya sudah jenuh membaca novel-novel berlatar kota besar yang membosakan. Perebutan harta. Pernikahan yang gagal. Percintaan lelaki kaya dan gadis miskin. Seksualitas kaum urban. Maka cara saya, adalah dengan menulisnya. Sebab saya tak punya hak untuk memberitahu para penulis agar menulis sesuai keinginan saya.

# Indonesia adalah Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara. Tapi amat sulit menemukan, kota-kota itu dalam novel-novel di Indonesia. Puji Tuhan, belakangan ini, latar-latar lokal sudah banyak diangkat dalam novel Indonesia.

# Belajar dari penulis-penulis China, kebanyakan justru mereka lebih bangga menulis tentang budaya-budaya dan sejarah daerahnya.  Di Indonesia, saya lihat, kecenderungannya, orang lebih bangga jika bisa menulis tentang latar-latar di luar negeri. (Saya sendiri, ingin punya satu saja novel berlatar luar negeri.) Dan latar luar negeri, selalu punya banyak pembaca di Indonesia. Ini sama halnya kita lebih menggemari makanan-makanan barat ketimbang Soto Betawi atau Sayur Asem.

# Daerah selalu kaya akan kearifan lokal. Belajar kearifan lokal dan adat istidat daerah tertentu, saya percaya bisa memanusiakan manusia.

# Berbagi cakrawala daerah pada yang mau menerimanya. Pada mereka yang ingin berwawasan nusantara.

Dalam novel saya ‘Kei, Kutemukan Cinta di Tengah Perang’, saya mengangkat adat orang Kei—Maluku Tenggara. Bagaimana adat bisa meredam konflik persaudaraan di sana. Saya bukanlah orang Maluku, tapi saya ingin belajar tentang Maluku. Saya ingin belajar tentang Jawa. Tentang Bali. Atau tentang Papua.

Ada kebanggaan tersendiri, jika saya lebih tahu tentang tarian daerah ini, makanan tradisional ini, perayaan budaya ini, adat ini, bahasa daerah ini. Kadar kebanggaanya berbeda, dari pengetahuan yang global atau internasional.



1 comment:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...