Friday, November 8, 2013

Generasi Digital Adalah Generasi Pamer



Sadar atau tidak sadar, banyak orang yang mengejar untuk kelihatan “keren” coba perhatikan sekelilingmu, semua orang berlomba-lomba untuk punya gadget terbaru, semua orang aktif di sosial media untuk, memosting foto sedang liburan kemana, atau nongkrong sama siapa, atau meng-RT pujian ketika dipuji di twitter, bahkan yang lebih dangkal adalah berlomba-lomba melakukan “unjuk gigi pencitraan” supaya mendapat banyak follower.

Lain halnya ketika kita bermain path atau instagram, kita akan memosting pose-pose foto kita dengan berbagai gaya, dalam rangka mendapat pujian atau mengejar-ngejar komentar yang bikin hati kita senang. Ya ujung-ujungnya supaya kita dibilang cool. Kita dibilang keren. 
Yang muncul dalam kepala saya ketika melihat fenomena ini adalah: generasi digital adalah generasi  pamer.

Tapi selamat datang di era digital, teman-teman. Dan selamat datang di era “ketika lo nggak pamer, lo nggak keren.”

Oke, tulisan ini dibuat bukan untuk menegur siapa-siapa. Tulisan ini dibuat untuk menegur diri saya sendiri yang terkadang juga melakukannya.

Berbeda dengan jaman dulu, ketika banyak orang tidak banyak bicara, tetapi mereka menghasilkan sesuatu. Banyak musisi yang kemudian bisa menghasilkan lagu bagus tanpa perlu berkoar-koar dulu di twitter. Banyak penulis yang menghasilkan buku bestseller, tanpa perlu pamer dia begadang malam-malam ketika menuliskannya. Banyak fotografer yang sukses dengan pekerjaan memotretnya, tanpa perlu “pamer” dulu di facebook, instagram, dlsb.

Sedangkan jaman sekarang mau liburan saja, harus pamer dulu dengan status “Lagi packing nih.” Ujung-ujungnya pengin ditanya, “mau kemana sih?”

Yang lagi kencan sama pacarnya, harus pasang status “malam mingguan dulu ya, sama hunbun.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Ejieee.”

Atau status sok sibuk yang biasanya kita sengaja lakukan, contoh: “duh, meeting to meeting nih. Sudah kopi ke berapa ya.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Sukses ya!” atau “Semangat!”

Hal lainnya, ketika kita pasang status nowplaying sebisa mungkin kita cari musik yang lagi update banget dan kalau bisa yang susah, supaya ketahuan kalau kita memang mendengarkan musik-musik yang “keren” dan tidak biasa.

Ternyata semua yang kita lakukan di atas ini hanya untuk satu kata: pamer. Kita adalah generasi yang senang memamerkan hal-hal yang terlalu dangkal untuk berlomba-lomba disebut “keren.”

Suatu hari obrolan saya dengan beberapa sahabat tentang betapa banyak orang saat ini banyak yang berlomba-lomba untuk terlihat keren dengan hal-hal yang dangkal.

Mereka lupa bahwa orang-orang “keren” tidak pernah berupaya dengan keras untuk “berteriak” kepada dunia bahwa ia sudah melakukan sesuatu.  Orang “keren” yang sebenar-benarnya “keren” tidak perlu pamer.


18 comments:

  1. Tulisannya muanisssss mbak. ini buat saya juga sih, merasa diri mulai "pamer" makanya mulai selow di jarsos manapun itu. hanya melihat2 dan ya benar makin kesini makin jadijadi..

    ReplyDelete
  2. hahahaa iya setuju banget sama nona manis ini. bersyukur deh gak begitu menghayal punya aja mesti bilang dalam hati nanti tunggu udah kerja dulu.. hehhe karena sadar gak mampu beli gadget2 terbaru kaya orang2..

    ReplyDelete
  3. sepaket ehh sepakat usi Theo :)))

    ReplyDelete
  4. SETUJUUUUU! *kemudian 'tertampar'* #plak

    "Orang “keren” yang sebenar-benarnya “keren” tidak perlu pamer."

    OK! Mari belajar untuk jadi keren yang sebenar-benarnya keren. B))

    ReplyDelete
  5. Merasa sedang bercermin membaca kata-kata ini. Terima kasih sudah mengingatkan, mbak Theo :)

    ReplyDelete
  6. Ini adalah perilaku manusia di masa kini.....
    Yang santai paling asyik..... :)

    ReplyDelete
  7. Mainstream ya nona. Aku juga sudah menyadari. Sdg berusaha juga utk menahan hasrat pamer :)

    Paragraf terakhir favorit sekali "Mereka lupa bahwa orang-orang “keren” tidak pernah berupaya dengan keras untuk “berteriak” kepada dunia bahwa ia sudah melakukan sesuatu. Orang “keren” yang sebenar-benarnya “keren” tidak perlu pamer."

    ReplyDelete
  8. Wow! Merasa tertonjok dengan tulisan ini! Dengan mempublish berbagai hal personal ke sosial media untuk dapet tanggepan orang, saya pikir saya ini keren.. ternyata malah norak ya.. hahaha... :D

    *mulai sekarang akan berusaha menahan diri.. hehe...

    ReplyDelete
  9. agak ngeri ya klo mikirin gmn skr identitas (dan ga jarang: kredibilitas) seseorang terbentuk secara maya via socmed. heuheu...

    ReplyDelete
  10. baca postingan ini bikin saya senyum-senyum sendiri. belajar untuk tidak pamer :)

    ReplyDelete
  11. ah ga dosa ini. tak apalah. heuheu.
    dan lagi, bukannya menulis di blog juga "pamer" ya?

    ReplyDelete
  12. Kalo menulis di blog itu bukan "pamer" , hanya menuangkan pikiran atau berbagi pengalaman dan informasi. Syukur-syukur menambah wawasan si pembaca :D

    Tapi semua tergantung isi dari blognya. Ada baiknya memandang semuanya dari sisi yg lain. Ah tapi namanya juga manusia jaman sekarang, selalu nyinyir thp apapun, mau benar atau salah :))

    ReplyDelete
  13. kak Theo, aku malu membaca postingan ini. Terimakasih sudah mengingatkan agar tidak "pamer" :'D
    talk less do more ;))

    ReplyDelete
  14. infonya sangat menarik...
    mantap...

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...