Thursday, September 8, 2011

Sweter Tua


Tak bisa tidur. Entah karena dingin—entah karena banyak bintang yang absen malam ini. Celana pendek lusuh kesukaan dan sweter tua favorit teronggok. Kamu pasti akan protes sama saya, karena bahkan untuk urusan tidur saja, saya harus fashionable. Saya harus punya baju tidur yang matching, walaupun itu nantinya hanya akan berakhir kepada kaos longgar dan celana paling pendek.

Oh saya tak suka lingerie—belum suka. Saya tidak mau sompral. Siapa tahu nanti saya berubah pikiran. Tapi kali ini—seperti biasa, saya menggosok gigi, mengepang rambut. Krim malam saya habis. Tak masalah. Toh, saya masih awet muda. Seperti yang sering kamu katakan. Tapi mungkin itu rayuan kamu.

Lalu di sana. Ada sweter tua itu. Warnanya biru tua. Sudah ada beberapa bolong disana-sini. Tapi saya suka. Memakainya selalu membawa sensasi sendiri bagi saya. Saya akan membuatnya sebagai ritual tidur saya. Sebelum memakai sweter itu, saya akan menciumnya—mengingat lagi bau tubuhmu.

Semoga kamu tidak keberatan.

Jadi saya tidak perlu repot-repot lagi menulis surat cinta untukmu. Yang perlu saya lakukan adalah membekukan bau tubuhmu ke dalam amplop merah muda dan mengirimkannya untukmu. Pak pos akan mengantarkan ke alamat kantormu. Ketika kamu buka, kamu akan sumringah—pipi itu yang selalu buat saya gemas akan memerah.

Bahwa saya sayang kamu.

Kali ini saya meniduri swetermu dulu. Kelak, kalau sudah waktunya kita—mungkin akan tidur bersama. Bemimpi nyenyak di bawah selimut.

Sultan Agung. 8 September 2011. 13:19

2 comments:

  1. hahaha....
    semoga cepat halal untuk tidur bersamanya yaa...

    love still in the air :)

    ReplyDelete
  2. ya,sweater tua emang bikin nyaman :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...