Wednesday, September 7, 2011

Nasihat


Jelas sekali kalau patah hati bukan melulu tentang air mata yang jatuh di pipi. Atau jatuh cinta bukan hanya tentang perut yang berbunga-bunga. Mereka adalah siklus. Seperti ayah bertemu ibu. Dan kini terulang saya bertemu dengannya.

Misterius. 

Tidak ada yang pernah bisa memprediksi apa-apa. Jatuh cinta dan patah hati berlaku kepada siapa saja, pria baik-baik maupun pria brengsek sekalipun. Jatuh cinta—patah hati—sepaket. Seperti parsel lebaran.


Tapi lebaran kini telah usai. Remah-remah nastar dan kastengel mungkin masih ada di dalam kotak kue dan belum sempat dibersihkan. Ayah yang sibuk dengan tanaman-tanaman di belakang rumah. Ibu yang sibuk dengan mengetik. Dan saya yang mungkin saat itu masih kecil, belum paham apa itu jatuh cinta dan patah hati.

Ketidakpahamanan membuat saya penasaran. Ingin mencoba seperti apa  jatuh cinta dan patah hati itu. Saya tidak bisa hanya memilih satu. Keduanya seperti sendal jepit lusuh yang berjalan beriringan. Keduanya tak bisa dipisahkan. Seperti ayah dan ibu. Saya tak bisa memilih hanya jatuh cinta kepada ayah atau ibu saja.

Ketika jatuh cinta kepada ayah, adakalanya saya patah hati. Sebaliknya ketika patah hati kepada ibu—bisa jadi ayah yang memberikan saya cinta. Lalu patah hati yang lain pun menyusul dalam keadaan yang berbeda. Sayang sekali ayah tidak pernah bilang, bahwa saya harus mencintai pria yang seperti apa.

Tapi ayah berpesan bahwa, ketika hidup—hiduplah dengan tulus-tulus saja. Pesan singkat yang tidak bisa saya lupa. Di satu sisi saya mengartikan ayah menginginkan saya hidup—mencintai seperti merpati. Dan di sisi lainnya, saya mengartikannya sebagai hidup—dan  patah hatilah dengan tulus.

Tidak bisa memilih hanya satu. Konsekuensi adalah bayanganmu sendiri. Mengikuti kemanapun kakimu pergi. saya ingin menelepon ayah dan mengajaknya makan siang. Bercerita tentang pria. Hanya saja beliau jauh. Bahkan antara saya—cinta anak perempuannya dengannya pun terhalang jarak.

Kalau sudah begini, yang dapat saya lakukan adalah mengingat-ingat nasihatnya. Dan menjalani kehidupan saya hari ini dengan tulus. Baik dalah keadaan jatuh cinta maupun patah hati.

Dago 349. 6 September 2011. 13:03

1 comment:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...