Wednesday, September 21, 2011

Arok Dedes






Saya suka dengan cara Pramoedya Ananta Toer menggambarkan Dedes dalam buku ini. Bukan berarti Arok dan tokoh lainnya tidak penting. Tapi seorang Pramoedya berhasil merasuk emosi saya sebagai seorang perempuan untuk lebih paham apa arti cinta yang terbelah menjadi dua sekaligus patah hati.

Dedes terkenal akan kecantikannya. Menurut cerita bahkan di seantero muka bumi kerajaan Tumapel dan Kediri-pun. Tidak ada yang secantik Dedes. Dedes atau juga yang mendapat gelar Ken oleh Yang Suci Belangkangka. Dan semua orang yang mengenalnya memiliki kisah cinta yang unik. Ia yang diculik oleh Tunggul Ametung dan dinikahi secara paksa—kemudian dijadikan sebagai Paramesywari di kerajaan Tumapel mendampingi Tunggul Ametung sebagai Akuwu pada zaman itu.

Pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta tersebut kemudian tidak berhasil dengan rukun. Dedes tumbuh menjadi seorang perempuan yang hanya menjalankan perintah suaminya sebagai formalitas. Ia menjalankan kehidupannya sebagai Paramesywari di Tumapel dengan titah dan kekuasaan yang ia miliki. Kapan saja ia menurunkan titah maka semua akan menjalankannya.

Tak ada cinta kepada Tunggul Ametung. Dedes hanya kebetulan dipilih. Semacam ada kehidupan yang digariskan kepadanya oleh Jagad Dewa—kekuasaan tertinggi untuk di kemudian hari bertemu dengan cintanya yang sebenarnya—Arok.

Dalam hal ini saya mengerti bahwa di dalam perjodohan ada pertemuan yang—sengaja—diatur oleh kekuasaan tertinggi. Walaupun mengalami kawin paksa dengan Tunggul Ametung akhirnya saya paham bahwa Dedes pun akhirnya oleh kekuasaan tertinggi dipertemukan dengan Arok. Arokpun sengaja dipilih. Untuk kemudian jatuh cinta kepada Dedes. Tetapi dikala waktu itu datang, Arok telah menikahi Umang.

Saya pun terlibat emosi antara kisah cinta Dedes—Tunggul Ametung—Arok—dan Umang. Saya berpikir bahwa terkadang saya seperti Tunggul Ametung, memaksa orang lain untuk mencintai saya. Lalu saya juga merasa seperti Dedes yang akhirnya jatuh cinta lantas patah hati karena merasa diduakan. Kemudian saya akan seperti Arok, tidak bisa memilih karena hidupnya telah digariskan. Dan saya pun adalah Umang—gadis yang jattuh cinta terhadap Arok sejak ia masih kanak-kanak, menikahinya ketika dewasa.

Betapa kayanya pemikiran seorang Pramoedya. Buku ini mengajarkan kudeta sekaligus cinta. Atau memang di dalam cinta pun kita harus belajar strategi kudeta—menggulingkan seseorang dulu baru mendapatkan yang kita inginkan.

Ah, ini bukan ide yang bagus teman.

Toh, kalau Dedes betul-betul menginginkan Arok—sudah semestinya ia bisa menggulingkan Umang sebagai Paramesywari ke dua di Tumapel.

Tapi Dedes tidak melakukannya. Ia patah hati—tapi tidak melakukannya.

Di salah satu coffee shop. Siang ini. 15:20 

1 comment:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...