Wednesday, September 7, 2011

Bau Hujan


Saya misterius. Seperti Bau Hujan.

Mereka menyebutnya petrichor. Datang tiba-tiba ketika hujan pertama. Menggoda hidungmu dengan segala rupa. Lalu membekukannya di sana. Tak ada parfum yang persis sepertinya.

Tentu saja, ketika itu saya begitu belia. Hanya mengenal diary sebagai tempat curhat. Saya bahkan pusing kalau hendak bercerita kepada Mama. Atau kepada dua kakak perempuan. Saya ingat pernah menerima kartu ucapan ulang tahun di usia saya yang ke sepuluh kalau tidak salah.

Diberikan oleh kakak perempuan saya yang pertama, selisih umur kami sepuluh tahun. Berarti ketika itu ia sudah berumur dua puluh. Saya lupa isi kartu itu apa, tapi seingat saya. Ia merayakan usia saya yang ke sepuluh, dan bilang bahwa sebentar lagi saya akan jadi “nona-nona.” Sebutan kepada perempuan yang sebentar lagi dewasa.

Kartu itu mungkin sudah hilang. Mengingat saya dan keluarga sempat berpindah rumah beberapa kali. Tapi mendapatkan kartu ucapan itu romantis. Sama halnya ketika saya mendapat surat cinta pertama kali, ketika umur saya dua puluh atau dua puluh satu. Surat sepanjang 7 lembar itu berisi ungkapan cinta dan ayat Alkitab. Untunglah si pengirim tidak mengirimkan saya isi kitab Kidung Agung. Pastinya saya akan malu, setengah mati.

Yang saya ingat adalah saya membalas surat cinta itu dengan ogah-ogahan. Karena terus terang saya tidak tertarik kepada si pengirim. Lalu bahkan saya tidak mengingat dia sebagai cinta pertama. Saya hanya mengingat dia sebagai si pengirim “surat cinta” pertama. Walaupun jika hendak jujur, menerima surat cinta darinya, berhasil membuat saya deg-degan. Sampai-sampai tak bisa tidur. Itu perasaan yang menyenangkan.

Hari ini saya bertemu lagi dengan Bau Hujan. Bau misterius. Kesukaan saya. Tak ada parfum yang bisa menyamainya. Tapi kini saya tak lagi misterius. Saya begitu lugas. Persoalan hati akan dengan gamblang saya ceritakan. Tetapi hanya kepada orang tertentu yang saya percaya. Berbahagialah orang-orang itu. Karena untuk urusan yang satu ini, saya tidak banyak berurusan dengan banyak orang. Sangat pemilih.


Seperti Bau Hujan. Ia hanya memilih orang yang peduli akan kehadirannya.

Dan seperti menemani, ia datang menghampiri saya. Hari ini, saya duduk-duduk dengannya. Di atas meja, ada buku kumpulan cerpen Y.B. Mangunwijaya dan kopi yang sudah hampir dingin. Bau Hujan lalu bercerita. Awalnya, saya tidak terlalu mempedulikannya. Tapi lama-lama ceritanya begitu menarik.

Ketika mendengarkan seseorang bercerita, saya biasanya akan memandang ke dalam mata orang itu. Dan mencoba merasakan apa yang ada di kepalanya. Memperhatikan ucapan yang keluar dari mulutnya. Bau Hujan lalu begitu cerewet. Ia bilang ia sedang jatuh cinta pada seseorang yang sulit.

Saya diam lalu merenungkan kalimat itu “jatuh cinta pada seseorang yang sulit” yang sulit itu cintanya atau orangnya? Akhirnya saya bertanya begitu. Bau Hujan juga tampak bingung hendak menjawab pertanyaan saya. Kalau urusan cinta, bukan rasanya yang sulit saya kira. Tapi lebih kepada pribadi kita. Akhirnya kalimat-kalimat itu meluncur dari bibir saya. Saya tak berani menatap wajahnya. Saya takut kalau-kalau Bau Hujan menangis. Lalu nantinya ia tak wangi lagi.

Oh, betul saja. Sesuai perkiraan saya, ia pun menangis. Ada air mata jatuh di pipinya. Bening sekali. Jatuh di pipinya yang empuk. Saya merasa tidak enak. Karena sama sekali tidak dapat membantu persoalannya. Tak lama kemudian ia pamit.

Untuk pertama kalinya, ketika saya bertemu Bau Hujan seperti mendapat surat cinta. Isinya pernyataan dan air mata—juga untuk pertama kalinya saya menghirup Bau Hujan dalam-dalam, menghirup air matanya yang ternyata ... wangi.

Jalan Tasik. 3 September 2011. 16:07 

3 comments:

  1. Theooo... tulisannya memang selalu menyentuh! ughh... yang salah cintanya atau orangnya? Ternyata cinta ga pnrh salah y? *lho. wkwkw..

    ReplyDelete
  2. baca ini saya semakin kangen hujan.... ah, musim ini dia terlambat datang di kotaku

    ReplyDelete
  3. wangi hujan memang bikin hmmm.... ;)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...