Thursday, April 29, 2010

Selimut Bulan

siang ini aku mengantuk,
karena semalam berbagi kamar dengan bulan.
berisik, bulan ngorok
ilernya kemanamana, bulan jorok
gulingku diambil juga, bulan egois.
eh, bangun pagi, selimutku berubah warna,
warnanya perak berkilau.

(2010)

Perut Luka

dulu, perutku pernah luka
kupukupu masuk, melompat sana sini
tiada henti, berkemah, menginap lama
hinggapi taman bunga kuning merah
yang turut menari dan bernyanyi
sayapsayap mungil patuh mendengarkan
singgah di pohon cengkih dengan rambut berponi
helaihelainya saling menggelitik
berpelukan penuh arti.


tolong!
kalau kau bertemu kupukupu
suruh lukai perutku lagi.


(2010)

Sunday, April 25, 2010

Senja di Kepala

aku duduk,
senja persis di atas kepalaku.
gaun pestanya meriah sekali.
kupikir untuk siapakah
ia berdandan?
bukan untukmu kan sayang?
“ah, senja, dia pacarku, jangan macam-macam.”

(2010)

Friday, April 23, 2010

Beha Senja

senja duduk di jendela.
hangat pantatnya menempel lama
ia pake celana dalam biru menyala.
behanya apa ya?

(2010)

Thursday, April 22, 2010

Kaca

siapa bilang hanya kau yang suka berdandan.

kaca juga. terkadang ia mencuri lipstikmu sedikit memolesnya di bibir, kemudian memonyongkan bibirnya. persis seperti yang kau lakukan sehabis mandi.

kaca suka ngambek kalau ada jerawat di jidatnya. kerutan di matanya. atau ketika krim pemutihnya bikin belang.

maskara palsu, pelembab KW2, sampai parfum kebanyakan citrus yang kau beli asal demi gaya. diamdiam suka di coba juga.

kaca pun tak pernah puas dengan dirinya.

(2010)

Rambut Pohon

rambut pohon rontok
sepanjang jalan cipaganti
menyatu bau shampoo dan air mengalir
yang belum sempat disisir

rambut pohon rontok
helaihelainya meninggalkan kepala pohon
terbang begitu saja
tak perlu mengantri

kemana rambut pohon pergi?
aku bertanya dalam hati.
mungkinkah beli shampoo lagi.

(2010)

Wednesday, April 21, 2010

enampuluhempat

pagi memasak dengan ceria. matahari ikut memanggang roti. enam dan empat sarapan bersama. ada sagu, ada teh, tinggal pilih mau yang mana.

sendok tak hentinya menyuapi aku dengan nilai, biasanya nilainilai itu dikunyah dulu, baru kemudian dimasukkan ke mulutku, supaya agak lembek tidak terlalu keras.

kursiterbalik duduk manis di sudut, kelihatannya rapuh, namun tak habis dimakan rayap. rayap mengeluh, karena giginya keropos, tapi kursiterbalik tidak. walaupun seumur hidup badannya aku duduki, dengan pantatku yang keras kepala ini.

eh, ada kue meniup lilinnya sendiri. piring kue saling bercanda dan mengoles krimgula di pipi. balonbalon langsing dan gendut, bercengkerama bernyanyi.

selamat ulang tahun, tahun ulang selamat, ulang selamat tahun, selamat tahun ulang.

dari semua, aku paling suka ‘tahun ulang selamat’ buat papa.

namanya Albert Erens, karena lahirnya di Yamtel.
coba kalau lahirnya di Jawa, bisa beda lagi. bisa jadi namanya Kartono, Margono, Subarkah, atau Samsudin.

(2010)

Monday, April 19, 2010

Maskara

pacar aku tak suka. aku pakai maskara.
alasannya, mataku sudah bicara,
bahkan kadang teriak, melompat, tertawa,
apalagi kalau kami bercinta.

pacar aku tak suka. aku pakai maskara.
maskara suka luntur di hatinya
bikin hatinya hitamputih, mirip dalmatians.
padahal aku suka, karena maskara, ia setia.

(2010)

Celana Dalam Hujan

hujan pakai celana dalam. ada hello kitty, ada tasmania. ada yang ehem! berenda.

satu hari celana dalam hujan ada yang hilang. raib. hilangnya begitu saja.
klise! hilangnya di tali jemuran.

ceritanya hujan lagi mencuci banyak sekali, termasuk celana dalamnya, jemurnya juga di tempat biasa. Eh, tak tahunya, pas celana dalam yang berenda mau dipake. tak ada.

di tempat yang berbeda. keluarga labalaba, sedang tertawa ria. mereka punya rumahbaru.

bentuknya segitiga, banyak bolong di sana sini.

(2010)

Sunday, April 18, 2010

rumahbaru

aku suka rumahbaru ini. entah kenapa aku mulai berpikir, untuk beli perabotan lucu, bantalbantal kecil warna oranye. tibatiba kepingin belajar memasak, padahal sebelumnya aku anti memasak. kepingin punya teras belakang, tempat bermain dengan angin, atau menyisir rambut rumput. kepingin punya balkon kecil supaya, senja bisa menghangatkan pantatnya, di kursi kayu, kalau letih.

kepingin belajar, bersihkan kamarmandi sendiri. yang kadang sudah disikat setengahmati, kotorannya tak mau pergi. bikin kecoa betah lamalama. atau mungkin kita justru harus belajar pada kecoa, tentang kesetiannya. kesetiannya terhadap lubang kakus. yang selalu jadi rumahbaru-nya.

ada yang lebih setia dari itu?

rumahbaru, kelak menjadi taman tertawa dan mungkin menangis. tapi menangis di rumah, lebih baik daripada menangis di jalan. hatihati tetanggamu suka menggosip. kalau sudah begitu, ibuibu yang lain kerap ikutan. padahal ibuibu itu selesai menggosip biasanya menangis, dan mereka tak berani menangis di rumah mereka sendiri. sebaliknya aku, aku mau menangis di rumahbaru. rumahku sendiri.

apa yang akan kau beli pertamakali kalau kau punya rumah baru? kau jawab sofa.

supaya sofa bikin kau ketiduran. memangnya sofa tahu lagu nina bobo? atau bagaimana kalau sofa yang mengantuk dan butuh tidur? pindah ke rumahbaru-ku saja. menginaplah kalau perlu. semoga kau betah.

apa yang akan kau beli pertamakali kalau kau punya rumahbaru? ku jawab balon.

aku ingin beli banyak balon. balon warnawarni. supaya tiap hari banyak yang mampir di rumahbaruku bawa banyak kado.

rasanya seperti ulangtahun. setiap hari.

(2010)

Wednesday, April 14, 2010

Sudah-kah Kamu Mencintaimu?

Saya suka menikmati langit Bandung ketika malam. Sedang cerah-cerahnya. Banyak bintang, dan wanginya kecium sampai bawah. Syukurlah kalo bintang masih rajin mandi, tidak seperti...ehem, tak usah lah diteruskan.

Saya suka mengamati burung-burung yang suka mampir di tali jemuran tetangga sebelah. Mereka suka cerewet pagi-pagi. Saya suka penasaran, mereka lagi ngobrol apa ya? Mungkin, mereka juga lagi penasaran, kenapa celana dalam manusia itu harus warna-warni.

Saya suka duduk di teras belakang. Berlama-lama. Padahal pemandangannya masih sama. Rumput yang selalu dipotong sama Pak Jum, tiap dua hari sekali. Pohon cengkih dengan tupai di atasnya. Tembok yang tak tinggi-tinggi amat. Kupu-kupu, kadang ada yang kawin.

Saya suka duduk di closet berlama-lama. Cerita panjang lebar dengannya. Tentang pacar. Tentang mawar. Tentang mimpi yang tak kelar-kelar. Percayalah, closet tidak akan membocorkan ceritamu. Paling-paling, ia meneruskannya ke septik tank dan sampai ke selokan. Jadi intinya, kalau pacarmu brengsek, ia sudah berada di tempat yang semestinya: selokan.

Saya suka menikmati muka saya di kaca. Lama.

Kaca, diam-diam, cerewet juga. Suka tiba-tiba berbisik, kalau ada hutang yang belum saya lunasi yaitu mencintai diri sendiri.

Dan saya kadang tidak suka melakukannya.

(2010)

Surat Cinta Buat Kamu. Kalau Kamu Mau.

Kenapa suka hujan? kamu pernah bertanya.

Tidak ada alasan khusus, kalau saya suka, ya suka saja. Begitu pun kalau saya tidak suka, ya tidak suka saja. Kadang tidak ada alasan khusus. Suka hujan, mungkin sama seperti, suka pakai sendal jepit, suka pakai lipstick, suka pakai blush-on, suka pakai anting gede, suka pakai celana pendek, suka warna orens, suka sore, atau suka kamu.

Suka. Ya, suka saja, tidak perlu alasan.

Tapi setidaknya, menurut saya hujan itu cerewet sekaligus bikin nyaman. Atau ke-cerewetan yang nyaman. Buktinya? Kegiatan tidur di hari hujan, nyaman sekali untuk dilakukan. Walaupun saya jarang melakukannya. Bukannya apa-apa, masa mau tidur di ruang siaran ketika hujan? Yang ada juga di es-pe. Karena biasanya saya siaran siang-siang.

Sama halnya ketika ditanya, kenapa suka puisi? saya tidak bisa menjawab. Hanya diam saja, mengangguk-angguk, kemudian senyum-senyum sendiri. Saya pikir itu senjata yang paling ampuh, ketika tidak mau menjawab, atau memang tidak tahu jawabannya.

Maaf, saya memang tidak tahu. Serius.

Tapi diam-diam saya suka menulis puisi. Mula-mula dinikmati sendiri, lama-lama mulai suka pamer. Jujur, tulisan saya biasa-biasa saja. Prosesnya juga biasa-biasa saja, hanya dari tulisan pensil di dalam notes kecil yang sering saya bawa kemana-mana, kemudian saya pindahkan ke PC kantor, karena saya belum punya PC pribadi di kos. Sesederhana itu.

Eh, eh, kamu doakan saya ya, supaya segera punya netbook :-)

Menulis puisi itu seperti memindahkan rintik hujan ke dalam kertas. Kadang deras. Kadang rintik satu-satu. Kadang gerimis tipis-tipis. Butuh spasi atau tidakbutuh spasi sama sekali, untuk meninggalkan hening, setelah deras panjang. Terserah penulis-nya saja. Kalaupun, tak ada hening, silahkan pembaca mencipta ‘hening-nya’ sendiri.

Kamu, pembaca saya. Selalu setia. Bagaimana menurutmu?

Hujan, siaran, dan puisi. Saya suka semua. Mereka cerewet. Tapi punya sisi hening. Mungkin itu jawabannya, kenapa saya suka puisi: pendek, cerewet, dan hening. Sama dengan cut siaran saya yang pendek-pendek, tapi ada jeda iklan atau lagu. Dan tetesan hujan yang pendek-pendek, tapi ada hening panjang setelah derasnya berlalu.

Dan kamu. Saya suka. Karena kamu hening itu. Mencintaimu takbutuh spasi.

Saturday, April 10, 2010

Salib Yang Terluka

tubuh telanjang tergantung
tanpa nama tanpa kenal tanpa kasih
gigil malam menembus tulang
nyeri rusuk dan limpa pecah tertahan
remuk redam hancurlebur, itu muka siapa?
harapan tertunda salib terluka

diri mulai gelisah tak sanggup berbicara
kata-kata larut dalam jantung
bercampur dalam darah
anyirnya selimuti malam
erang kesakitan tertelan runcing paku
berapa pukulan, entah?
harapan tertunda salib terluka

mungkinkah, kawat berduri hanya hiasan
seperti sinetron di tivi-tivi.
dan kematian hanya skenario dengan bayaran mahal
antara produser dengan pemain.
harapan tertunda salib terluka

ketika kematian berteriak di ujung-ujung golgota
dan maut menjemput di jalan-jalan berpasir
kaukah yang berani menjawab: YA.
kaukah itu yang sanggup membeli kematian?


(2010)

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...