Wednesday, April 14, 2010

Sudah-kah Kamu Mencintaimu?

Saya suka menikmati langit Bandung ketika malam. Sedang cerah-cerahnya. Banyak bintang, dan wanginya kecium sampai bawah. Syukurlah kalo bintang masih rajin mandi, tidak seperti...ehem, tak usah lah diteruskan.

Saya suka mengamati burung-burung yang suka mampir di tali jemuran tetangga sebelah. Mereka suka cerewet pagi-pagi. Saya suka penasaran, mereka lagi ngobrol apa ya? Mungkin, mereka juga lagi penasaran, kenapa celana dalam manusia itu harus warna-warni.

Saya suka duduk di teras belakang. Berlama-lama. Padahal pemandangannya masih sama. Rumput yang selalu dipotong sama Pak Jum, tiap dua hari sekali. Pohon cengkih dengan tupai di atasnya. Tembok yang tak tinggi-tinggi amat. Kupu-kupu, kadang ada yang kawin.

Saya suka duduk di closet berlama-lama. Cerita panjang lebar dengannya. Tentang pacar. Tentang mawar. Tentang mimpi yang tak kelar-kelar. Percayalah, closet tidak akan membocorkan ceritamu. Paling-paling, ia meneruskannya ke septik tank dan sampai ke selokan. Jadi intinya, kalau pacarmu brengsek, ia sudah berada di tempat yang semestinya: selokan.

Saya suka menikmati muka saya di kaca. Lama.

Kaca, diam-diam, cerewet juga. Suka tiba-tiba berbisik, kalau ada hutang yang belum saya lunasi yaitu mencintai diri sendiri.

Dan saya kadang tidak suka melakukannya.

(2010)

3 comments:

  1. huaaa.....
    nice one perempuan sore!
    tulisanmu selalu menginspirasi... >,<

    ReplyDelete
  2. Peluk diri lu sendiri, The, biar tau kalo dia disayang ... =)

    ReplyDelete
  3. #Nats: Thanks ya sudah mampir sayang #Deya: Iya, gue harus sering-sering meluk diri sendiri :-))

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...