Wednesday, April 14, 2010

Surat Cinta Buat Kamu. Kalau Kamu Mau.

Kenapa suka hujan? kamu pernah bertanya.

Tidak ada alasan khusus, kalau saya suka, ya suka saja. Begitu pun kalau saya tidak suka, ya tidak suka saja. Kadang tidak ada alasan khusus. Suka hujan, mungkin sama seperti, suka pakai sendal jepit, suka pakai lipstick, suka pakai blush-on, suka pakai anting gede, suka pakai celana pendek, suka warna orens, suka sore, atau suka kamu.

Suka. Ya, suka saja, tidak perlu alasan.

Tapi setidaknya, menurut saya hujan itu cerewet sekaligus bikin nyaman. Atau ke-cerewetan yang nyaman. Buktinya? Kegiatan tidur di hari hujan, nyaman sekali untuk dilakukan. Walaupun saya jarang melakukannya. Bukannya apa-apa, masa mau tidur di ruang siaran ketika hujan? Yang ada juga di es-pe. Karena biasanya saya siaran siang-siang.

Sama halnya ketika ditanya, kenapa suka puisi? saya tidak bisa menjawab. Hanya diam saja, mengangguk-angguk, kemudian senyum-senyum sendiri. Saya pikir itu senjata yang paling ampuh, ketika tidak mau menjawab, atau memang tidak tahu jawabannya.

Maaf, saya memang tidak tahu. Serius.

Tapi diam-diam saya suka menulis puisi. Mula-mula dinikmati sendiri, lama-lama mulai suka pamer. Jujur, tulisan saya biasa-biasa saja. Prosesnya juga biasa-biasa saja, hanya dari tulisan pensil di dalam notes kecil yang sering saya bawa kemana-mana, kemudian saya pindahkan ke PC kantor, karena saya belum punya PC pribadi di kos. Sesederhana itu.

Eh, eh, kamu doakan saya ya, supaya segera punya netbook :-)

Menulis puisi itu seperti memindahkan rintik hujan ke dalam kertas. Kadang deras. Kadang rintik satu-satu. Kadang gerimis tipis-tipis. Butuh spasi atau tidakbutuh spasi sama sekali, untuk meninggalkan hening, setelah deras panjang. Terserah penulis-nya saja. Kalaupun, tak ada hening, silahkan pembaca mencipta ‘hening-nya’ sendiri.

Kamu, pembaca saya. Selalu setia. Bagaimana menurutmu?

Hujan, siaran, dan puisi. Saya suka semua. Mereka cerewet. Tapi punya sisi hening. Mungkin itu jawabannya, kenapa saya suka puisi: pendek, cerewet, dan hening. Sama dengan cut siaran saya yang pendek-pendek, tapi ada jeda iklan atau lagu. Dan tetesan hujan yang pendek-pendek, tapi ada hening panjang setelah derasnya berlalu.

Dan kamu. Saya suka. Karena kamu hening itu. Mencintaimu takbutuh spasi.

4 comments:

  1. ya, dan aku suka tulisan-tulisanmu, cinta :)

    ReplyDelete
  2. Dan aku juga menyukai tulisan-tulisanmu yang seharum kayumanis itu :-))

    ReplyDelete
  3. saya senang dengan tulisan-tulisannya...ingin belajar :)

    ReplyDelete
  4. Terima kasih juga Andrew, saya juga sedang belajar :-)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...