Wednesday, May 15, 2013

Seperti Rollercoaster


“Gue takut jatuh cinta sama lo.”

“Uhm, iya. Yang buat takut itu karena banyak batasan-batasan ya. Kadang semua nggak seperti yang dimau ya.”

“Lo, orang yang menarik. Gue suka sama lo. Hanya saja kita nggak bisa.”

“Yang bikin excited itu, ketika bagian dari diri kita bilang “iya” dan bagian lainnya bilang “tidak.”

***

“Kenapa jadi bahasan yang sulit ya, padahal ini bisa jadi penyemangat di saat-saat sulit dan di saat-saat sepi. Kita juga nggak tahu apa yang bakal terjadi, yang penting kita nggak saling menyakiti, jadi apapun kita nantinya.”

“Kenapa sulit? Karena lo dan gue menahan sesuatu. Si ‘menahan’ ini yang nggak enak. Gue suka kok si ‘letupan-letupan kecil’ ini dan gue mau rasain si rollercoaster ini penuh-penuh.”

“Betul, dan jangan lupa pakai safety belt-nya loh.”

Semua untuk kebaikan. Semua untuk kebaikan.

***
Walaupun seperti rollercoaster. Ada perasaan yang turun naik. Ada banyak pertanyaan di kepala. Semua butuh dicerna dengan baik. Semua butuh mendengar ke dalam. Tetapi yang saya rasakan kemudian adalah perasaan santai yang sebelumnya tidak pernah saya miliki ketika sedang bersama.

Santai sekali. Rasanya seperti memakai sendal jepit. Atau pakai bikini. Dan di depanmu adalah pemandangan lautan biru yang begitu luas. Kali ini saya tidak mau mempertanyakan bagaimana nantinya. Melainkan saya hanya ingin menikmati setiap harinya.

Akhirnya kami sepakat bahwa kami akan menjalaninya. Bentuk hubungan yang entahlah seperti apa ini. Hanya menjalaninya dan fokus kepada hal-hal yang baik. Bahwa akhirnya kami juga sepakat bahwa ketika kami fokus kepada hal-hal yang baik, maka kami pun akan mendapati kebaikan juga.

Seperti hukum tabur dan tuai. Ketika saya  bangun pagi, saya hanya bilang kepada diri saya sendiri bahwa, jika memang ini adalah jalannya, saya mau menjalaninya dengan sederhana.

Keputusan ‘menjalani’ punya konsekuensi. Dan ketika berpikir bahwa konsekuensi dari semua hal ini adalah sulit. Saya tidak mau jadi orang yang sulit. Saya mau jadi orang yang sederhana saja. Saya mau lebih santai menghadapi segala sesuatunya.

Konon, saya ini kan orang yang keras kepala. Tetapi untuk yang satu ini, bukan hanya saya yang keras kepala. Tetapi ada kesepakatan bersama. Bahwa kita akan menjalani (apapun bentuk hubungannya), saling mengisi, dan jika bertemu lagi nanti kami akan berciuman di bawah bintang-bintang.

Hahaha.

Rasa-rasanya memang, seperti pergi ke loket beli karcis, mengantri panjang, bergandengan tangan, dan naik rollercoaster.

Deg-degan tapi nikmat.

3 comments:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...