Tuesday, May 28, 2013

Sembunyi Sembunyi




Menakjubkan ketika menjalani sesuatu dalam kondisi “sembunyi sembunyi” tak ada yang terselubung padahal. Setelah dewasa, tak ada yang terselubung. Malam itu di gerbong kereta api nomer tujuh. Dengan AC gerbong kereta yang lumayan dingin. Duduklah seorang perempuan.

Ia sendiri begitu nekat. Ia ama sekali tidak tahu apa yang ia lakukan. Hanya mengikuti kata hatinya saja. Hanya mengalir. Hanya mengikuti arah kakinya melangkah. Tak ada batasan, mungkin dalam hatinya, ia hanya kepingin jadi orang bebas.

Ia seperti melawan arus. Ia seperti memberontak. Tapi, ia tidak suka kata “memberontak” mungkin lebih pas dengan menikmati sesuatu penuh-penuh. Keputusan dan konsekuensi. Segala sesuatu dimulai dengan menimbang nimbang apapun yang ada di kepala dan apapun yang ada di hati. Ia menyukai sesuatu yang seimbang.

Pada dasarnya ia adalah pejuang. Ia tidak suka menyerah kepada keadaan. Jadi jika ada yang mengomentari sok tahu. Ia tidak akan mendengarkan orang itu. Ia keras kepala. Tetapi, ia memang lebih suka disebut keras kepala dan bukan keras hati. Hatinya sebetulnya lembut. Perpaduan itu yang membuat peremuan itu seksi. Ia mempertanyakan segala sesuatunya bukan hanya dengan kepala tetapi juga dengan hatinya.

Di gerbong kereta yang dingin, perempuan itu duduk manis. Menuju sebuah kota. Dimana, di sana akan ada ciuman panjang sebelum akhirnya lelap. 

1 comment:

  1. Seringkali, tempat paling asyik untuk sembunyi adalag dadamu sendiri. Terima kasih sudah berbagi, Theo.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...