Thursday, April 26, 2012

Oh, Mata Indahmu




Tak ada yang lebih menyenangkan selain menatap matamu lama-lama. Mata teduh menyenangkan. Pupil hitam yang membesar ketika kamu sedang bahagia. Dengan bulu-bulu mata yang panjang juga lentik.

Aku berpikir dan mengulang kembali. Apa yang biasanya membuat aku jatuh cinta. Bagaimana biasanya aku jatuh cinta. Perasaan seperti apa yang aku punya ketika aku jatuh cinta.
Yang aku tahu selalu ada perasaan menggelitik yang muncul di hati ketika melihat bagian tubuhmu yang satu itu ... ya matamu.

Sederhana sekali jatuh cinta itu ternyata. Kadang ia datang tanpa gejala. Diam-diam seperti pencuri. Lalu kamu akan kaget, karena ternyata mereka telah ada di sana. Diam-diam menguasaimu.

Hari itu kita bertemu di tempat yang sama. Seperti biasa aku dengan buku-buku. Kamu dengan senyum khas dan matamu. Ah, matamu lagi. Aku suka sekali matamu. Kita tak mengobrol banyak. Aku terlanjur tergila-gila. Denyut jantungku tak menentu. Aku tidak bisa menahan senyum yang muncul terus-terusan di wajahku.

Senyum jam sembilan lebih lima belas menit. Begitu lebar. Pipiku mulai panas. Memerah sedikit.

“Jangan lupa nanti malam. Tepat jam 9. Di tempat yang sama.”

Isi pesan darimu yang kamu selipkan di antara buku-buku yang aku baca.

Hatiku berdetak kian kencang. Riang sekali. Karena malam ini kita akan bertemu. Dan kelanjutannya apa ya? hatiku begitu senang. Kali ini aku akan memiliki dirimu utuh. Memiliki matamu utuh lebih tepatnya. Memikirkannya saja buat hatiku bergetar sangat. 

Jarum suntik. Sarung tangan plastik. Beberapa obat penenang. Semoga tidak ada yang terlewatkan. Kali ini semoga aku tidak melesat.

Demi kelancaran pertemuan kita malam ini. Aku memeriksa kembali isi tasku dengan seksama. Sebelum menarik resleting tasku.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...