Wednesday, April 18, 2012

Kiblat




Satu kata tentang ayah. Kiblat.

Inspirasi terbesar saya adalah ayah. Tak ada ayah yang sempurna di muka bumi ini. Tapi apa yang saya lakukan. Tapi seperti apa saya sekarang adalah dikarenakan saya dibesarkan oleh seorang ayah yang keren.

Dibesarkan oleh ayah dan ibu yang adalah seorang pendeta. Ayah pernah ditempatkan di sebuah kepulauan di daerah Maluku Tenggara, namanya adalah Pulau Larat. Dan itu juga yang merupakan asal mula nama tengah saya, Laratwaty.

Dibesarkan oleh ayah ibu yang adalah seorang pendeta. Membuat saya sangat familiar dengan bunyi mesin tik setiap sabtu malam. Itu adalah saat dimana biasanya ayah mengetik catatan khotbah dan ibu membaca. Begitupun sebaliknya ayah menulis catatan khotbah dan ayah membaca. Bahkan ayah pernah menjabat sebagai penulis renungan jemaat yang dikerjakannya selama bertahun-tahun.

Ketika di rumah, ayah selalu menekankan akan pentingnya membaca. Saya yakin inilah akar sebenarnya kenapa saya jatuh cinta dengan menulis. Di rumah dulu kami punya semacam perpustakaan kecil. Dengan buku-buku yang sangat beragam. Koleksi buku ayah dan ibu akan banyak sekali. Tetapi sebagain besar tidak terselamatkan ketika kerusahan Ambon.

Satu hal yang bikin saya salut adalah ayah tidak pernah absen membaca. Ketika duduk di sore hari. Ketika sedang bepergian. Ketika ada waktu selang apapun ia akan membaca. Lalu tulisan ayah pun penuh dengan filosofi. Saya selalu memperhatikan ayah ketika berkhotbah ada gesture yang khas. Dan saya percaya bahwa gesture tersebut menurun kepada saya.

“Doakan saya bisa jadi penulis terkenal.”

Sebuah pesan singkat yang saya kirim kemarin siang.

Dibalas dengan sebuah telepon.

“Kita di sini berdoa dari utara, timur, barat, selatan. Tiap pagi kita berdoa buat nona selalu.”

Begitu kata ayah di telepon kemarin siang.

Ayah kiblat. Ketika ia beri saya restu, saya aman.

love. 

1 comment:

  1. Ngiriiiiii...!!! I do miss my bapak =,(

    Sukses The...

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...