Saturday, April 14, 2012

The Marriage Thingy








Pernahkah kamu ada pada kondisi seperti ini, kamu bangun di suatu hari yang random dan berpikir bahwa kamu akan menikah. Haha. Saya sendiri kaget dengan apa yang saya pikirkan. Namun pemikiran ini tidak ujug-ujug. Datang begitu saja.

Ada sebuah kondisi kehidupan yang membuat saya pada akhirnya berpikir bahwa saya akan menikah. Mungkin menikah itu menyenangkan. Haha lagi. Begini, saya akan cerita kepadamu bahwa, jika diibaratkan dengan sebuah kalimat, saya suka menyebutkannya:

“Hidupku sedang ranum-ranum-nya. Petiklah aku! petiklah aku!”

Semacam ada loncatan dahsyat yang sedang terjadi pada kehidupanku akhir-akhir ini. Saya sedang berada pada kondisi begini: saya mengerjakan apa yang yang saya suka, saya punya hidup yang menyenangkan, saya betul-betul memenuhi passion saya, saya punya komunitas yang oke, dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang mengerti, dan setiap bangun pagi saya selalu berpikir bahwa hari itu saya harus keren! Haha lagi dan lagi.

Tapi apa yang ingin coba saya tulis di sini adalah saya seperti diijinkan di awal tahun ini untuk mengerjakan project-project kejutan yang sebelumnya tidak pernah terpikir oleh saya. Dan saya ingin claim bahwa:

“Saya sedang jatuh cinta terhadap hidup. Dan saya sedang bahagia. Begitu saja. Dan saya ingin menikah. Tahun depan. Titik.”

Haha.

Oke. Saya sendiri kaget. Kok bisa saya begitu berani. Dan setelah saya pikir-pikir lagi dan sedikit merenung *tsah* ini yang saya temui, pernikahan bukanlah sebuah tujuan akhir. Pernikahan tidak akan membuat hidup saya bahagia. Pernikahan—memutuskan untuk hidup bersama dengan seseorang adalah keputusan yang besar. Tapi saya tidak akan memutuskannya dengan alasan orang itu yang akan buat saya bahagia.

Saya harus menikah karena ini: karena saya sedang bahagia. Dan saya ingin membagai kebahagiaan itu dengan orang yang tepat. Dan orang yang tepat itu adalah ... adalah ... yang kamu tidak perlu tahu dulu. Haha.


ingin punya yang kayak gini satu :p

Saya bahkan tidak tahu pernikahan saya akan seperti apa. Yang saya tulis di sini adalah konsep. Sebuah pemahaman yang saya temukan. Seiiring dengan berjalannya waktu. Saya mau memutuskan segala sesuatu jika konsepnya tepat. Saya ingin punya anak empat. Duh, tapi setelah saya pikir-pikir lagi. Terlalu banyak. Baiklah saya kurangi dua.

Sekali lagi pernikahan bukan garis akhir. Setelah itu saya masih harus berjuang untuk mengerjakan pernikahan saya. Duh, saya seperti orang tua saja. Tapi bukankah menyenangkan, menikahi orang yang tepat. Pasangan, sahabat, sekaligus teman tidur yang menyenangkan.

Hm, berbagi ciuman lembut sebelum tidur. Dan melakukan keliaran di malam hari.

*hush!*

Doakan ya.

love. 

7 comments:

  1. Asiiik kak Theo tahun depan mau menikah :D

    ReplyDelete
  2. reading this like, it's 'loud-speakering' my mind. this is how exactly I'm feeling these days.
    random but... ah. nice one, anyway :)

    ReplyDelete
  3. Been thinking of the exact same matter lately. Mungkin emang udah memasuki waktu2nya pengen ditemenin seseorang seumur hidup. hahaha.

    Well, best luck then, hope you (and I) find the right one, SOON! ;p

    ReplyDelete
  4. A very nice one,kak theo :) I love the way you think about marriage thingy ;)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...