Monday, December 20, 2010

Mungkin sepi hanya perjalanan

didedikasikan kepada: Kembali Sepi – Buat Gadis Rasid, di sini

Ini bukan review. Ini hanya tulisan pendek yang coba saya buat kepada teman musisi favorit saya. Salah satunya adalah Galih Su atau yang biasanya kita kenal dengan nama Deugalih.

Mendengarkan lagu Galih adalah membawa saya kepada perjalanan. Menelusuri sungai panjang, hanya ada batu-batu besar, gemericik air, angin yang bertiup di muka.

Yang didengarkan adalah sepi. Lalu, saya duduk dengan kopi, kemudian mulai mendengarkan diri saya sendiri. Perjalanan panjang itu kemudian menghentikan saya kepada bongkahan yang ada di hati saya sendiri. Alih-alih hendak berjalan mendekat kepada bongkahan itu. 

Tapi saya terlalu takut. Saya tidak berani mendekat. Saya melihat ke arah kiri dan kanan, tidak ada siapa-siapa kok, kenapa musti takut. Tangan saya gemetar, ketika hendak menyentuh bongkahan di hati saya. Cukup keras—lalu kini saya melihat saya sudah membuka kertas pembungkusnya perlahan.

Bibir saya mulai bergetar. Mata saya basah—sedikit. Terus terang, saya agak malu kalau kedapatan menangis. Jadi saya buru-buru menghapus air mata saya sebelum mereka jatuh menyatu dengan aliran sungai. Larut lalu mengalir. Terseok-seok sedikit dengan batu-batu sungai tapi tetap mengalir.

Bongkahan itu kini terlihat. Saya melihatnya dengan jelas. Telinga saya mendengarnya dengan jernih. Tak ada pemisah lagi diantara saya dengannya. Pelan-pelan saya memeluk bongkahan itu, entah kenapa saya begitu pengecut meninggalkannya sendirian selama ini.

“Brengsek!”

Kata itu keluar perlahan dari bibir saya. Tiba-tiba saya sadar satu hal, bongkahan itu bukan benda asing—atau punya orang lain. Itu punya saya sendiri. Kemudian saya memeluknya erat. Lalu mulai menangis sekencang-kencangnya.

ooo tenang.. ujarmu tenanglah

Sepenggal lirik dari kembali sepi. Menguatkan saya. Begitu sejuk mengalir perlahan di pipi. Saya mulai memberanikan diri untuk berdiri, memasukkan kaki saya ke air sungai yang dingin. Dinginnya menerpa telapak kaki saya yang telanjang.

antara daun daun hijau, padang lapang dan terang
anak anak kecil tidak bersalah

Sepucuk lirik dari lagu Buat Gadis Rasid, mengangkat muka yang tertunduk untuk sedikit menghela nafas lalu menghirup udara. Kini saya biarkan memenuhi paru-paru saya, membelai sedikit bongkahan, yang masih ada—tidak lagi tersesat. Mungkin sepi hanya perjalanan. 

Kopi saya habis, saatnya saya pulang.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...