Friday, June 2, 2017

Selamat Menjalankan Ibadah Rindu











Bagiku rindu adalah sebuah pekerjaan rumah. Jika kehidupan adalah sekolah maka dapatkah kau bayangkan kau mengerjakan rindu sebagai pekerjaan rumahmu seumur hidupmu. Aku kembali ke meja penuh dengan tulang-tulang ikan dan percakapan-percakapan tentang hidup yang dilalui di kota-kota perantauan. Kau duduk dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah yang digulung sampai siku, kemudian memperhatikanku bercerita dengan dua pupilmu lekat-lekat. Sesekali mengangguk, meletakkan sebelah lenganmu di atas meja, sekilas kuperhatikan bulu-bulu halus pada lenganmu, dan rambut-rambut halus yang tumbuh di rahangmu. Aku sengaja makan sedikit malam itu. Barulah ketahuan setelahnya bahwa aku adalah si tukang makan banyak, aku adalah si tukang tertawa besar. Namun, kau yang pemalu, bahkan sejak pertama bertemu tidak berani menatapku lama.

Aku punya pertanyaan untuk diriku sendiri, sejak saat itu hingga sekarang, berapa banyak rindu yang sudah kukerjakan? Berapa banyak lagi rindu yang harus kukumpulkan supaya kelak aku naik kelas? Berapa banyak lagi rindu yang harus kujalani sebagai ibadah hingga pada akhirnya aku mendapatkan sebuah pahala? sayang sekali, semua pertanyaan ini belum dapat kujawab. 


Saumlaki, Ambon, Namlea, Bandung, Jakarta, Salatiga, Jogjakarta, Solo, adalah sebagian kota yang kita jejaki bersama. Malam itu ketika pulang meninggalkanmu bersama meja makan yang penuh dengan piring berisi tulang-tulang ikan, sesampaiku di rumah, aku lupa untuk mengirimkan pesan pendek kepadamu: aku rindu. Keesokan harinya, aku terbang di atas pulau Yamdena dan lahirlah kalimat-kalimat pendek berbunyi: perempuan dan gelisah.     

Saturday, May 27, 2017

#sebuahcatatanharian : Seni Berbicara Kepada Kawan-Kawan dengan Skisofrenia






Setiap orang tidak pernah miskin karya. Mengalami kebuntuan, iya, namun miskin, tidak. Bagi saya, mengajar adalah sebuah karya. Ketika mengajar, bukan berarti saya tahu segalanya dan merasa lebih pandai dari mereka yang saya ajar. Namun sebaliknya, saya datang dengan keinginan untuk belajar.
Beberapa potret di atas adalah ketika saya mengajar seni berbicara di depan umum kepada teman-teman skisofrenia dan bipolar di galeri gerilya tempo itu. Datang tanpa siasat tahu banyak, malah membawa pulang banyak kejutan. Ternyata teman-teman skisofrenia dan bipolar patut dicintai, sebagaimana kita mau selalu dicintai.
Lalu apapun karya yang sedang kamu kerjakan, jangan lupa bersungguh-sungguh melakukannya. Karena ketika sungguh-sungguh, karya yang keluar dari hati, tidak pernah balik menyakitimu.

[foto dok. panitia berakal berkuasa]

Thursday, May 18, 2017

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran




foto oleh lukman hakim

Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang paling akhir? Bagaimana sampai dia tertuang di atas kertas?

Puisi tercipta dari hal-hal yang paling keseharian di dalam diri saya. Jika ditanya seperti apa prosesnya, saya senang mengamati. Senang mengamati hal-hal kecil di sekitar saya, misalnya rumput-rumput hijau, daun kering dengan teksturnya ketika melangkah, air dari dahan yang menetes pada kulit, hujan di jendela pendar cahaya dari lampu-lampu mobil ketika gelap, dan kelopak kekasih. Hal-hal semacam itu senang saya amati lekat-lekat dan lambat-lambat. Setelah diamati lalu saya sambungkan dengan rasa yang ada di dalam diri saya. Kemudian proses selanjutnya adalah menuangkannya ke dalam kertas.

Seperti apakah tempat yang 'paling liar' di muka bumi menurut Theo? Bagaimana kamu memaknai kata "LIAR" itu sendiri? Apa kamu punya kenangan atau ingatan tertentu mengenai kata LIAR? :)

Tempat ‘paling liar’ di muka bumi itu menurut saya adalah di dalam kepala manusia. Karena ada dunia yang tidak berbatas di dalam sana. Jika harus memaknai kata ‘liar’ maka saya akan melihatnya sebagai sebuah ‘petulangan rasa’ bagaimana kita berani untuk menjelajahi setiap rasa yang ada di dalam diri kita, rasa apapun itu dengan berani. Kenangan tentang kata ‘liar’ sendiri ketika berumur dua belas atau tiga belas tahun, saya pernah mengendap-endap keluar dari rumah tengah malam, hanya untuk menonton bioskop tengah malam, tanpa izin kepada kedua orang tua saya, hihihi.

'Keliaran' macam apa yang menurutmu mengalir dalam dirimu? Dari mana dia berasal, dan bagaimana kamu berteman dengannya?

Saya senang dengan hal-hal yang datang kepada saya di kali pertama. Baik itu kalimat-kalimat yang datang pertama kali, maupun setiap rasa yang datang untuk pertama kali. Saya tidak suka menyuntingnya. Karena sesuatu yang lebih ‘mentah’ itu biasanya jauh lebih jujur. Itulah sebabnya, mengapa saya tidak pernah menyunting puisi-puisi saya, terkecuali urusan diksi. Segala sesuatu yang lebih ‘mentah’, lebih ‘apa adanya’, lebih ‘jujur’ memiliki keliarannya sendiri. Dan itu ada di dalam saya.

Bagaimana caranya menemukan puisi di sekitar kita? Harus mulai dari mana? Bisakah kita berpuisi tanpa kata-kata?

Saya percaya bahwa inspirasi mampu menjawil siapa saja yang ia kunjungi. Permasalahannya adalah siapa yang peka dan siapa yang tidak. Jika ketika dijawil, lalu orang tersebut abai, maka inspirasi sudah pasti mencari orang yang lain. Jadi jika mau menemukan puisi yang ada di sekitar kita, kuncinya hanya satu: jangan abai. Berpuisi bagi saya tidak perlu dengan kata-kata kok. Hal ini bisa kita contohi dari bagaimana alam raya berpuisi, itu bisa melalui pelangi, warna-warni senja, deru angin kena muka, asin laut yang menempel pada kulit, maupun jejak pasir pada telapak kaki.


Bagaimana tempat kelahiran Theo memengaruhi karya-karya Theo, cara Theo melihat dunia, atau cara Theo berproses secara kreatif?

Ambon, tanah kelahiran saya, sangat mempengaruhi karya-karya saya, cara saya melihat dunia, hingga kemudian cara berproses kreatif saya. Ayah dan Ibu saya sudah mengenalkan saya kepada ‘dunia panggung’ ketika saya masih sangat kecil. Saya dengan dua kakak perempuan saya juga tumbuh dengan mencintai menyanyi sejak kami kecil. Tidak hanya menyanyi, baca puisi, akrab di panggung untuk bermain drama/teater kecil-kecilan, Ayah dan Ibu pun tak lupa mengenalkan kami kepada buku. Ketika remaja, saya ingat, saya sudah membuat karangan cerita pendek pertama saya, walaupun cerita pendek itu tidak selesai hingga sekarang.

Latar belakang alam Ambon yang eksotis pun merangsang saya yang tumbuh di sana untuk mencipta. Entahlah, tetapi saya merasa lautan tidak hanya sekedar berwarna biru, tetapi ada gradasi warna yang jauh lebih kaya. Dan pegunungan pun tidak melulu berwarna hijau. Ia bisa saja berwarna seperti telur asin. Di situlah saya belajar untuk melihat segala kemungkinan di dalam segala ketidakmungkinan.

Apakah setiap hari Theo berpuisi, atau meluangkan waktu untuk melahirkan karya kreatif? Bagaimana Theo bersetia (atau tidak bersetia) pada seni dan kreativitas di dalam diri Theo?

Apakah setiap hari Theo berpuisi? Jika pertanyaan ini ditujukkan kepada saya sekarang, maka jawabannya adalah iya. Karena saya sedang mempersiapkan sebuah karya buku puisi selanjutnya. Tapi, terkadang saya juga tidak berpuisi dalam waktu yang lama kok.

Namun yang penting bagi saya adalah melahirkan karya kreatif, itu musti dilakukan setiap hari, jika tidak berpuisi, paling tidak saya menulis untuk blog, jika tidak menulis untuk blog, paling tidak saya menulis sekelebat kalimat-kalimat yang lewat di kepala saya di dalam buku catatan kecil yang suka saya bawa atau di laman notes telepon genggam saya. Jika proses ini diabaikan oleh saya, saya suka gelisah dan rungsing.

Saya memilih untuk bersetia pada seni dan kreativitas di dalam diri saya. Saya pikir ini adalah persoalan membuat pilihan saja. Gairah saya tidak akan jauh-jauh dari seni dan kreativitas. Hidup dan memilih untuk melakukan kegairahan secara sadar dan penuh, saya anggap sebagai sebuah pencapaian di dalam hidup. Dan yang paling terpenting dari melakukan semua kegairahan ini adalah melakukannya dengan hati bulat, bukan hanya sekedar keren-kerenan. Supaya tidak menyesal ketika mati nanti.


[tulisan ini dalam versi bahasa inggris juga diterbitkan oleh Hanny Kusumawati untuk laman behind the pages di beradadisini.com]

Sunday, April 2, 2017

(Semacam Ulasan) Buku Burial Rites, Hannah Kent









*Kadang aku serasa melihatnya kembali—rumah pertanian itu, terbakar dalam gelap. Kadang aku bisa merasakan perihnya musim dingin di paru-paruku, dan sepertinya aku melihat lidah-lidah api itu terpantul di samudra, airnya begitu aneh, kerlap-kerlip oleh cahaya. Malam itu aku sempat menoleh sejenak. Aku menoleh untuk mengamati api itu, dan andai kujilat kulitku, masih bisa kurasakan asinnya. Asap itu. Dulu tidak selalu sedingin ini. Aku mendengar bunyi langkah kaki.

Adalah sebuah prolog. Kemudian aku melihatnya. Ia berambut hitam panjang. Tubuh kurusnya tersingkap dari lengan dan tulang pipinya yang mencuat sedikit. Ia sedang duduk dan melihat ke jendela. Sementara udara di luar berdentum menghantam jendela. Musim dingin yang berat belum berakhir.

“Agnes, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya menjelang kematianmu sendiri?”

Aku memberanikan diri bertanya kepadanya. Ia tidak bergerak dari tempat ia duduknya sama sekali. Ia masih melihat ke jendela. Temaram sinar bulan yang memantul ke tumpukan salju di pekarangan, membuat malam itu tidak terlalu pekat.

“Aku.. aku belum siap.” Jawabnya perlahan, ia lalu mengembuskan nafasnya pelan.

Aku mendengarkan embusan nafasnya. Berat. Kali ini ada jeda di antara kami. Kemudian aku merasakan ruangan di Stora-Borg itu kini melayang-layang.

“Aku, aku belum siap..” ia tiba-tiba melanjutkan kalimatnya, “tapi satu hal yang mungkin menyenangkan adalah bertemu dengannya.”

“Natan, maksudmu?” tanyaku kemudian.

Ia  menjawabku hanya dengan mengangguk.

** “Di Geitaskard kami suka berjalan-jalan di salju pada saat-saat senja, dan salju itu berdecit di bawah injakan kaki kami. Pernah, sekali waktu, aku terpeleset di salju, dan kusambar lengan Natan hingga dia hilang keseimbangan. Kami tergelimpang bersama-sama, tertawa-tawa, dan di tanah ia mendorongku hingga telentang, sehingga kami tengadah memandang bintang-bintang di atas sana. Dia menyebutkan nama-nama rasi bintang itu untukku.”

Agnes kini memalingkan wajahnya dan melihat lurus ke arahku. Aku yang sedari tadi tidak pernah melihat matanya secara langsung ketika bicara, kini agak merasa sedikit gelisah. Aku lalu menggeser pantatku di kursi dan membetulkan posisi dudukku.

Kini, mataku langsung melihat ke arah matanya, dan menajamkan telinga untuk mendengarkan ceritanya selanjutnya. Sementara deru angin masih saja memburu di luar, aku menunggu Agnes melanjutkan ceritanya kembali.

Ia lalu melanjutkan ceritanya, “menurutmu, ke sanakah kita akan pergi setelah kita mati?” tanyaku kepada Natan waktu itu. “Aku tidak percaya ada surga,” Natan kemudian berkata kepadaku.

Ruangan itu lengang lagi untuk beberapa saat. Tapi kini terasa ada sesuatu yang mencair di dalamnya. Rasanya seperti menggenggam salju pada kedua telapak tanganmu, cairan dingin itu mencair di telapak tanganmu, meninggalkan rasa gemetar kemudian.

Untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah kesunyian. Kesunyian yang aneh.


***


Apa yang membuat saya berdegup kencang kepada buku sungguh aneh—biasanya sebelum membeli, buku-buku itu tampak memanggil saya. Ketika saya menyentuh, memegang punggung mereka, membaca sekilas bagian sinopsis, saya biasanya jatuh cinta duluan dengan tema yang diangkat. Saya tidak akan melewatkan membaca halaman hak cipta terjemahan dan sebagainya, kemudian dilanjut dengan membaca halaman persembahan. Tema-tema menyenangkan bagi saya, salah satunya tentang: kematian.

Saya menghabiskan buku ini di dalam kereta menuju Solo. Saya bertemu dengan Agnes di dalam kepala saya. Hannah Kent menggambarkan Agnes dengan metaforanya sendiri. Bahwa menghadapi sebuah kematian, bukanlah sebuah perkara yang gampang, karena menghadapi mati adalah persoalan yang berbeda daripada menghadapi hidup. Tak ayal lagi, Burial Rites, kemudian memenangkan sejumlah penghargaan.

Satu hal yang juga sangat berarti dan mesti diberikan penghargaan adalah, Tanti Lesmana, terima kasih sudah menerjemahkannya dengan sangat mumpuni. Termasuk metafora-metafora yang sangat mewakili. Seperti kalimat-kamlimat ini: “aku ingin memetik langit sekepal-kepal dan memakannya.”

Bagi yang menyukai metafora yang (tidak biasa) mungkin akan menyukai buku ini.



-
* bagian epilog
** bagian percakapan Agnes dengan Natan di halaman 269.


Saturday, April 1, 2017

APRIL: Selamat Merayakan Kesenangan-Kesenangan Kecil











Setiap orang pasti punya satu kesenangan kecil di dalam dirinya, yang jika dilakukan olehnya, akan membuat orang tersebut bahagia. Itu hanya satu kesenangan kecil. Bayangkan, jika di dalam diri tiap orang ada berpuluh-puluh kesenangan kecil, maka betapa bahagianya orang tersebut.

Namun persyaratannya sederhana saja, kesenangan kecil tersebut harus dinikmati penuh. Ada sebuah buku yang berjudul, The Little Way of Hygge, the danish way to live well, yang ditulis oleh Meik Wiking. Buku ini membahas tentang kebahagiaan yang dimaknai oleh orang-orang di Denmark. Dan mengapa pada akhirnya Denmark disebut sebagai negara paling bahagia di dunia.

Hygee (dibaca: hyu-gah) adalah sebuah konsep yang dipakai oleh orang Denmark untuk kemudian (bisa dikatakan) menjadi bahagia. Menurut buku tersebut, ‘Hygge has been translated as everything from the art of creating intimacy to cosiness of the soul to taking pleasure from the presence of soothing things.’

Jika diterjemahkan dengan bebas, maka dapat dikatakan seperti ini, Hygee adalah sebuah seni untuk menciptakan suasana intim bagi kenyamanan jiwa untuk menikmati kesenangan dari keadiran hal-hal kecil yang menenangkan.

Masih ingat dengan hashtag #bahagiaitusederhana yang sering kita pakai? konsep Hygee ini juga mengajak kita untuk menikmati kesenangan-kesenangan kecil sehingga ada sebuah rasa penuh di dalam dan membuat kita bahagia.

Kesenangan-kesenangan kecil ini dapat berupa: menulis di dalam temaram lampu, menikmati kopi di pagi hari sambil menghirup aroma rerumputan, berlama-lama duduk di kloset dan melihat semut-semut berjejer di dinding, membaca buku pelan-pelan dan menikmati setiap visual yang muncul di kepala, berciuman dengan kekasih dan menikmati lembut bibirnya, mengamat-amati kelopak matanya ketika sedang tidur, memakai lipstik merah untuk sebuah hari yang rasanya tawar, duduk di dekat jendela angkot dan menikmati setiap hiruk pikuk di jalan, mengobrol intim dengan kekasih tentang hal-hal yang akan dilakukan ke depan, atau tertawa.

Semua hal di atas ini (dan akan dapat bertambah lagi) jika dilakukan dengan penuh-penuh, dengan sebuah kesadaran akan kualitas, maka dapat dijamin bahwa #bahagiaaitusederhana bukan hanya sekedar hashtag.








Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...