Tuesday, August 29, 2017

Sebuah Ketersesatan (yang lain) Dalam Cinta





saparua suatu ketika


Tak ada hal-hal yang kebetulan di dalam cinta. Katanya suatu saat kau akan (kebetulan) bertemu dengan beberapa orang hingga satu orang dan kemudian di dalam proses berinteraksi dengan  mereka, kemudian kau akan (kebetulan) menemukan sepenggal dirimu di dalam diri mereka. Hal itulah yang barangkali membuat kau merasa mereka adalah (kebetulan) bagian dari dirimu, ataupun sebaliknya mereka pun merasa bahwa kau adalah rusuk yang terhilang itu. Jalin menjalin percintaan bisa jadi dimulai dengan segala macam hal yang  menurutmu (kebetulan) cocok (dengan idealisasi) tertentu, namun pada akhirnya menyerah di tengah jalan karena kecocokan tadi kemudian menjadi luntur seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga pada akhirnya setiap manusia belajar, bahwa tidak selamanya yang “kebetulan” di dalam cinta itu adalah benar-benar sebuah kebetulan. Rata-rata mereka yang beranggapan bahwa mereka telah saling menemukan akan lekang juga seperti Patti Smith dan Robert Mapplethorpe pun Marina Abramovich dan Ulay.

Alain de Botton dalam Essays in Love menulis begini: perbedaannya dapat dikategorikan ke dalam cinta yang dewasa dan cinta yang tidak dewasa. Tentu saja versi cinta dewasa lebih banyak disukai, filosofi cinta dewasa ini ditandai oleh sebuah kesadaran bahwa di dalam diri setiap orang terdapat hal yang baik dan buruk, cinta seperti ini penuh dengan kesederhanaan, ia menolak idealisasi, bebas dari kecemburuan, masokisme, atau obsesi, ini adalah sebuah bentuk persahabatan dengan dimensi seksual, menyenangkan, damai, dan ada unsur timbal-baliknya. Sedangkan cinta yang tidak dewasa (meski hal ini tak ada hubungannya dengan usia) adalah kisah tentang kesibukan yang kacau antara idealisasi dan kekecewaan, keadaan yang tidak stabil di mana perasaan ekstasi dan kebahagiaan yang berlebihan bercampur dengan kesan tenggelam dan mual yang fatal, di mana seseorang akhirnya menemukan sebuah jawaban yang juga bercampur dengan sebuah perasaan tersesat. Kau sendiri memilih tersesat dengan cara bagaimana?

Maka barangkali cinta adalah sebuah ketersesatan, tinggal kita memilih untuk tersesat ke dalamnya dengan cara apa. Seringkali saya pun bertanya kepada diri saya sendiri, bahwa cinta yang saat ini saya jalani, apakah sudah sesuai dengan ketersesatan yang saya inginkan, dan apakah ketika saya mencintai, saya sudah betul-betul tersesat dengan segenap jiwa dan raga saya untuk mengasih dan berterima dengan segala keadaan yang diberikan oleh cinta itu sendiri. Namun cinta juga adalah sesuatu yang menyebalkan, ia tidak selamanya menawarkan romantisme seperti yang kau baca di novel-novel, atau ia tidak selamanya seperti ciuman lembut di bibir, setiap kali kau menginginkannya. Ia pun dapat menyesatkan kita yang katanya sudah saling menemukan itu, ke dalam sebuah labirin perasaan yang lain; berputar-putar, gelap dan penakut. 





No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...