Saturday, January 28, 2017

10 Buku yang Menemani di Tahun 2016






Satu kebiasaan yang harusnya dibiasakan kembali adalah membaca buku. 2016 sudah lewat, dan kini kita sudah masuk ke tahun 2017. Saya memutar ingatan saya kembali ke sepanjang tahun kemarin, dan mencoba untuk mengingat-ingat, buku-buku apa sajakah yang saya baca.

Dan semoga di tahun 2017 ini, kita lebih rajin lagi membaca ya. Ini adalah 10 buku yang menemani saya di tahun 2016:

1. Doa dan Arwah, Ayu Utami

Buku ini tidak dibeli di tahun 2016. Tetapi saya membaca buku ini hampir di beberapa kesempatan sepanjang tahun kemarin. Ada perasaan personal yang coba dibagi oleh Ayu Utami ketika bercerita banyak tentang Ibunya di dalam buku tersebut. Dan entah mengapa pada saat yang sama, saya juga turut merasakan keterhubungan dengan Ibu saya. Intinya, saya senang membaca pengalaman Ayu Utami bercerita tentang Ibunya, doa, dan arwah.

2. The Brontes, Keluarga Bronte

Adalah sebuah buku lama yang saya dapat ketika bermain "bertukar buku kesukaan" melalui facebook. Saya mendapat buku ini dari Karina, seorang fotografer, saya sudah berteman dengannya di sosial media, namun hingga hari ini, kami belum pernah bertemu sekalipun. Buku ini berisi puisi-puisi yang ditulis oleh keluarga Bronte pada jaman itu.

3. Membunuh Orang Gila, Sapardi Djoko Damono

Saya suka cerita-cerita pendek Sapardi di dalam buku ini. Tetapi dari semua cerita pendek yang ada di dalamnya, yang paling saya suka ada dua. Pertama adalah, tentang anak kecil (kalau tidak salah bernama Rini) dengan payung hitam yang menunggu Ayahnya pulang dari kerja di bawah pohon asam di tengah hujan. Namun hingga cerita itu selesai saya baca, Ayahnya tidak pulang-pulang. Saya lupa judulnya apa. Kedua adalah, Rumah-rumah, halaman 74. Saya suka cerita pendek ini, karena tentang rindu. Ada kalimat-kalimat dalam cerita pendek ini yang berbunyi begini:

"Saudara tinggal di dalam rumah juga, bukan? Saudara pasti pernah merindukan rumah, tetapi pernahkah saudara merasa dirindukan rumah?"

3. Avianti Armand, Negeri Para Peri

Saya suka bagaimana Avianti membangun cerita-cerita pendeknya. Mereka seperti sudah di-design terlebih dahulu. Mungkin ini juga pengaruh latar belakang Avianti yang adalah seorang arsitektur. Cerita-cerita di dalam Negeri Para Peri bagi saya gelap dan menyentak. Karyanya harus dibaca dalam satu helaan nafas panjang. Dua atau tiga kata kemudian titik, berhasil menimbulkan rasa penasaran. Ketagihan dan tidak mau berhenti.

4. The Soul in Love, Deepak Chopra

Buku ini berisikan kumpulan-kumpulan puisi dari beberapa penyair-penyair besar seperti: Rumi, Mirabai, dan Tagore. Saya membeli buku ini di pasar buku bekas daerah Blok M. Beberapa puisinya bisa dibaca dengan random jika kamu suka. Dan tidak perlu lekas menghabiskan buku ini. Ia dapat dibaca pelan-pelan saja. Satu puisi kesukaan saya di dalam buku ini berbunyi begini:

"Let lovers be crazy; disgraceful, and wild
Those who fret about such things
Aren't in love."

5. Gadis Peminta-minta, Toto Sudarto Bachtiar

Buku puisi kesayangan. Saya pun senang melihat Toto menulis puisi-puisinya. Terkadang saya seperti dibawa kepada jaman ketika ia masih hidup. Bagaimana ia melawan di dalam puisi-puisinya, tetapi ada juga ketika ia benar-benar merasa patah. Tetapi satu puisi kesayangan saya, yang akan terus saya baca berulang-ulang adalah:

"Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
hidupnya tak lagi punya tanda."

6. The Life of Oscar Wilde, Hesketh Pearson

Biografi tentang Oscar Wilde. Buku ini saya beli di Kineruku dengan harga yang tidak terlalu mahal. Berisikan perjalanan Oscar Wilde, dan bagaimana akhirnya ia juga menerbitkan satu-satunya novelnya yang berjudul The Picture of Dorian Gray.

7. Kota Ini Kembang Api, Gratiagusti Chananya Rompas

Jika senang buku puisi, yang satu ini juga bisa menjadi pilihan. Dulu sekali saya rajin mengikuti haiku Anya lewat grup facebook Bunga Matahari. Senang, karena buku ini akhirnya diterbitkan ulang oleh Gramedia, setelah sempat diluncurkan di Ubud Writers pada tahun 2008. Puisi-puisi pendek Anya menggemaskan. Salah satu kesukaan saya berbunyi begini:

"hujan
bunga-bunga kecil
berjatuhan"

8. Buku Tentang Ruang, Avianti Armand

Saya juga membeli buku ini di tahun kemarin. Puisi-puisi Avanti di dalam buku ini masih gelap tetapi menyentak. Saya tidak hafal semua judul puisinya yang ada di dalam buku ini. Tetapi saya merasa, Avianti adalah satu dari sekian banyak penulis yang dapat bercerita tentang perpisahan dengan indah.

9. Second Sex, Simone De Beauvoir

Buku ini adalah hadiah dari kekasih saya. Ia memberikan buku ini, dan saya belum selesai membacanya. Tetapi di sini Simone bercerita banyak tentang risetnya tentang perempuan dan pengalaman-pengalaman seksual pertama. Menyenangkan membacanya, seperti membaca diary saudara perempuanmu.

10. Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Theoresia Rumthe & Weslly Johannes

Bukan mau narsis. Tetapi saya memang perlu memasukkan judul ini ke dalam daftar 10 buku yang menemani saya di tahun 2016. Buku ini berisi puisi yang ditulis berbalas-balasan oleh saya dan kekasih, lahir di bulan September tahun kemarin. Bagi yang belum mendapatkan bukunya, cetakan ke-dua telah beredar di toko-toko buku kesayangan. Ini adalah salah satu kalimat-kalimat kesukaan saya:

"ini adalah bungamu, suatu ketika, ia akan mekar, merambatkan akar-akarnya seperti belantara. lelaki yang memasukinya hanya mereka yang memiliki kunci dan mau menyesatkan diri" 






No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...