Wednesday, March 6, 2013

Tuesdays With Morrie





Namanya Morrie. Ia bukan Kakek saya. Tapi saya suka kepadanya. Saya suka caranya bercerita. Saya suka memperhatikan ketika Morrie sedang bercerita tentang hal-hal yang menyangkut tentang hidup.

Kita bertemu setiap hari Selasa. Dan setiap hari Selasa itupun Morrie selalu bercerta tentang hal-hal yang mungkin tidak bisa saya temukan dari orang lain.

Satu ketika Morrie pernah bercerita kepada saya tentang kematian, ia mengatakan bahwa “begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus mati.”

Kalimat-kalimat ini sangat dalam. Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Tetapi menjalani saat-saat hidup saya yang sekarang. Ada baiknya untuk saya lebih berhati-hati dengan pilihan-pilihan saya untuk terus hidup.

Morrie juga bercerita tentang nilai. Bagaimana di dalam hidup kita harus punya nilai-nilai. Nilai-nilai ini harus kita bentuk sendiri. Bukan karena dibentuk oleh orang lain atau lingkungan sekitar kita.

Dan saya setuju. Sulit sekali untuk hidup di jaman sekarang dan tidak memiliki nilai yang kita yakini lalu menjalaninya. Karena jaman tidak akan memberikan sebuah nilai yang baik. Sayalah yang harus membentuknya.

Pada hari saya berteu lagi dengan Morrie, ia bercerita tentang keluarga. Ia mengatakan bahwa keluarga adalah sebuah landasan yang kokoh. Bayangkan kalau ia tidak punya keluarga, bagaimana ia menanggung semua yang ia rasakan pada saat ini.

Saya sendiri memperhatikan bagaimana Morrie berinteraksi dengan kedua anak laki-lakinya. Rob dan Jon. Morrie tidak pernah segan-segan untuk menyatakan bahwa ia sangat menyayangi mereka. Dan ia menunjukannya.

“Pengalaman punya anak itu tidak ada bandingannya. Dan itu tidak bisa digantikan oleh apapun. Walaupun saya harus dibayar mahal untuk itu.” Ujar Morrie.

Saya setuju. Saya belum punya anak. Saya sedang berpikir untuk menikah. Dan Morrie mengajarkan pengalaman tentang anak yang sangat luar biasa kepada saya. Mungkin suatu saat nanti ketika saya punya anak, paing tidak saya sedikit belajar untuk tidak segan-segan menunjukkan rasa sayang kepada mereka.

Begitupun dengan pernikahan, Morrie mengatakan kalimat-kalimat yang bagus sekali:
There are a few rules I know to be true about love and marriage: If you don't respect the other person, you're gonna have a lot of trouble. If you don't know how to compromise, you're gonna have a lot of trouble. If you can't talk openly about what goes on between you, you're gonna have a lot of trouble. And if you don't have a common set of values in life, you're gonna have a lot of trouble. Your values must be alike.

Oh Morrie yang baik. Saya bisa melihat kerut-kerut di wajahnya. Gerakan tangannya yang sudah semakin lemah. Dan kakinya yang sudah semakin kurus. Ia selalu suka duduk di dekat jendela. Dan melihat ke arah luar, dengan pemandangan kembang sepatu yang ada pada potnya.

Ia sangat menghayati pemandangan itu. Pemandangan sederhana. Yang membuat saya masuk ke dalam berbagai pengalaman-pengalaman yang sangat dala tentang kehidupan.

Morrie akhirnya meninggal. Dan dimakamkan tepat pada hari Selasa.

Morrie bukan Kakek saya. Tapi saya cuma mau bilang: Terima kasih Morrie untuk mengajarkan saya banyak hal tentang hidup. 

1 comment:

  1. aku juga pernah baca buku ini kak theo. yang paling mengena adalah ketika Morrie mengajarkan untuk mematikan rasa adalah dengan membiarkan diri kita tetap merasa. :)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...