Monday, March 25, 2013

Hujan Yang Kurang Ajar!


Dalam perjalanan saya selalu memikirkan sesuatu yang random. Hubungan-hubungan yang telah lalu. Wajah kekasih yang kemarin, yang telah pergi meninggalkanku. Lalu bau tubuhnya. Legit bibirnya. Dan kenangan.

Dan katanya ketika hujan turun selalu membawa banyak memori berhamburan di kepala. Memori-memori itu lalu mengepul-ngepul seperti hangatnya kopi yang baru saja disajikan. Mereka tiba-tiba muncul seperti baru.

Seperti baru kemarin kamu mengalaminya. Tetapi mereka datang begitu saja berhamburan di kepalamu. Mungkin tepat ketika banyak orang mengatakan bahwa ketika hujan, itu akan menjadikan kita lebih melankoli daripada biasanya.

Ya, ini soal kekasih. Berulang-ulang kali saya selalu diingatkan oleh Ibu, bahwa hati-hati memilih kekasih. Hati-hati ketika jatuh hati. Karena ini bukan persoalan yang sederhana. Bahwa seringkali cinta selalu mengubah manusia menjadi seseorang yang tidak menyenangkan. Dan hal ini memang benar adanya ketika, urusan hati yang tidak benar itu akan membuat kita juga akan rungsing di luar.

Lalu suatu ketika aku bertanya kepada Ibu. Apa Ibu juga pernah rungsing soal cinta. Iya katanya. Waktu itu Ibu punya pacar dua. Tetapi yang satu terlambat untuk melamarnya. Jadinya Ibu menikah dengan Ayah. Kalau waktu itu Ibu menikah dengan “Om Siapa Itu Namanya” mungkin sekarang ini tidak ada kamu.

Jadi sebenarnya persoalan dulu itu sederhana saja. Hanya soal siapa cepat dan dia yang dapat. Begitu pikir saya. Sedangkan sekarang lebih sulit. Bukan masalah siapa cepat. Tetapi siapa yang bisa meyakinkan.

Laki-laki yang punya keyakinan akan dirinya akan mampu meyakinkan orang lain. Akan mampu meyakinkan kekasihnya untuk hidup bersamanya. Sayang sekali laki-laki yang seperti itu jarang ditemukan di jaman digital sekarang.

Saat ini yang saya perhatikan adalah banyak laki-laki yang penakut. Mereka tidak percaya sama diri mereka sendiri dan itu yang membuat mereka sulit percaya kepada orang lain. Bisa seperti itu atau bisa juga itu semua karena saya selalu punya ekspektasi yang terlalu tinggi teradap orang lain.

Kembali ke hujan. Mungkin hal-hal dan pemikiran seperti ini datang hanya ketika hari sedang hujan. Membua saya kepada melankoli yang terlalu berlebihan. Nah, bisa jadi saya juga dipermainkan oleh hujan.

Hujan yang kurang ajar! Yang buat saya rindu legit bibirmu.




7 comments:

  1. sayah juga rindu nunu.. *loh kok curcol :p
    -dev-

    ReplyDelete
  2. Betapa hujan memiliki kenangan dalam tiap rintiknya.

    ReplyDelete
  3. "bukan masalah siapa cepat, tetapi siapa yang bisa meyakinkan.."
    I DO LOVE THIS PART, KAK THEJOW :*

    ReplyDelete
  4. kereennn.. hujan itu emang punya jiwa kalo kata akuuuu, bukan cuman peristiwa alam... :)

    ReplyDelete
  5. Tapi hujan juga yang menyamankan hati.. ^^

    ReplyDelete
  6. Terima kasih hujan. Sudah mewakilkan air mata orang-orang yang patah hati =') sukak postingannya kak.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...