Friday, August 26, 2011

Sepasang


Mungkin kita adalah sepasang mata. Kamu mata yang sebelah kiri dan saya mata yang sebelah kanan. Mungkin kita adalah sepasang tangan. Kamu tangan yang sebelah kiri dan saya tangan sebelah kanan.

Ketika mata yang satu melihat ke sebuah pandang—otomatis mata yang lain akan mengikutinya. Kalau tidak mata itu akan juling. Ketika tangan yang satu bekerja, tangan lainnya akan membantunya. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan dua—lebih sempurna—saya rasa begitu.

Mungkin kita adalah sepasang sepatu usang. Yang satu akan menangis ketika sol sepatu pasangannya lepas. Kita akan diletakkan di rak yang sama, berdebu, dan berdesakan dengan sepatu usang lainnya. Tapi kita akan saling mengenali bau sepatu masing-masing.

Mungkin kita adalah sepasang sendal jepit. Dipakai bersama. Apapun warna kita. Kita akan membuat pemakai kita nyaman dengan empuknya. Kita akan saling mencari ketika pasangannya hilang. Seperti jepit, kita memang ditakdirkan untuk saling mengait—satu dengan lainnya.

Mungkin kita adalah sepasang bulu mata. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Jika ada di antara kita yang jatuh di pipi. Itu adalah tanda kita saling mengangeni. Jika yang sebelah kena maskara, pastinya yang sebelah juga akan kena.

Mungkin kita adalah sepasang lubang hidung. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Jika yang lainnya tersumbat, terkena pilek. Yang lainnya pun ikut terganggu. Tidak bisa leluasa bernafas.

Mungkin kita adalah sepasang telinga. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Selalu butuh dua, supaya bisa mendengarkan bunyi dengan lebih jelas. Termasuk kata “I LOVE YOU” walaupun kata itu dikatakan sambil berbisik-bisik.

Mungkin kita adalah sepasang celana dalam dan beha. Kamu celana dalam. Saya beha. Ketika yang satu berwarna hitam lainnya juga ikut-ikutan berwarna hitam. Tak ada alasan lain, supaya lebih matching dan sexy saja.

Mungkin kita adalah sepasang kaki. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Yang satu tidak akan melangkah terlalu cepat—terlalu lambat—terburu-buru. Kita akan saling menunggu. Kita akan saling sabar. Kita akan saling beriringan.

Mungkin kita adalah sepasang ... (kamu bisa melanjutkannya)—ketika diciptakan sepasang,  sudah seharusnya saya mengenalmu sebagai bagian di tubuh—hati saya yang sudah lama pergi. Ketika diciptakan sepasang, diberkatilah hari saya dan kamu dipertemukan. Ketika saya dan kamu diciptakan sepasang—saya bersyukur bahwa itu kamu dan bukan orang lain.

Ketika saya dan kamu diciptakan sepasang—saya begitu penasaran, hendak melayangkan banyak pertanyaan kepada pencipta. Tetapi yang keluar dari mulut saya hanya dua kata,

“Terima Kasih”

Dan hey, bukankah kata itu sepasang.

Dago 349. 26 Agustus 2011. 03:31—sayup-sayup terdengar suara adzan. Kalimat-kalimat yang saya tulis di atas begitu mengganggu di kepala saya, sebelum saya menuliskan mereka. Semoga setelah menulis ini, saya benar-benar bisa tidur.

1 comment:

  1. semoga bisa tertidur sekarang :) :)

    postingan ini pun diciptakan berpasangan, oleh anda yang menulis, dan sekarang diapresiasi oleh saya sebagai pembaca :) :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...