Friday, June 24, 2011

Perjalanan Aceh – Hari Kedua

Aceh betul-betul membuat betah. Saya menyukai kota ini. Saya menyukai orang-orangnya. Saya menyukai hangatnya. Entahlah, Aceh semacam memiliki sihir sendiri. Ini adalah hari kedua saya di Aceh. Hampir tujuh sampai sepuluh objek wisata langsung dikunjungi hari ini.

Yang paling spektakuler bagi saya adalah ketika mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman. Masjid megah dan tersohor itu. Untung persediaan baju panjang saya lumayan, karena jika berkunjung kesini harus memakai baju muslimah untuk yang perempuan.

Dengan bermodalkan baju panjang dan pasmina, saya pun mampir. Rumput-rumput sekitar Masjid begitu terpelihara. Banyak muda-mudi yang selesai sholat dan duduk-duduk di halaman Masjid. Saya menuju ke gedung utama, tempat orang-orang biasa menjalankan ibadah.

Walaupun bukan muslim, saya dapat merasakan kekuatan pemujaan kepada yang Maha Kuasa begitu kuat di tempat itu. Tidak sabar mata saya berkeliling mencari hal-hal yang menarik. Saya menemukan banyak Al-Quran terletak pada lemari-lemari kecil di setiap sudut. Ada ibu-ibu yang sedang menyusui bayinya. Ada keluarga kecil yang juga sibuk mengganti popok anaknya. Sampai kepada beberapa gadis abege yang sedang tertawa-tawa kecil di sudut.

Tuhan hadir, mungkin DIA sedang ada di pojokan. Menatap saya yang sedang tercengang melihat kemegahan dan keindahan pikiran-Nya melalui manusia. Atau bisa jadi DIA sedang sibuk mendengarkan cerita di rumah-Nya itu. Tiba-tiba saya hanya ingin duduk lama. Hanya ingin menatap, merenung, merasakan kuasa-Nya yang begitu kuat, atau mungkin hanya ingin melihat mata bening-Nya...

Maka saya pun diijinkan. Persis di depan pandangan saya ada seorang gadis kecil. Setelah saya tanya umurnya baru dua tahun. Rambut pirang mata coklat bening. Saya jatuh cinta terhadapnya. Ia pun bisa merasakannya. Lalu kita terkoneksi, begitu saja. Saya memotretnya beberapa kali. Tanpa disuruh, ia pun bergaya. Selesai difoto, ia langsung buru-buru menghampiri saya melihat ke mata saya dengan matanya yang bening, kemudian tertawa sendiri melihat fotonya.

Saya juga ikut tertawa bersamanya. Ia minta lagi difoto tanpa bicara, hanya dengan bahasa balita. Saya memotretnya kembali dan kembali.. tiap selesai difoto, ia pasti pingin melihat gambarnya sendiri lalu tertawa lagi.

Tuhan melihatmu dan saya. Mata-Nya bening, sebening anak-anak. Dan siang itu saya melihat-Nya jelas di mata gadis kecil itu ...










*pic taken by me

2 comments:

  1. The, she's so cute! Hey, promise me, kita harus jalan-jalan bareng one day, ya! :)

    ReplyDelete
  2. huwow, lu banget adek kecilnya :D matanya belo hihi.
    narsis banget lagi hehe penerus aku nih kayaknya. *plak

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...