Sunday, June 19, 2011

Di dalam Gelas Anggur



Dwayne di dalam gelas anggur.

Tampak ia berenang-renang di sana. Telanjang. Sesekali, bibir mungilnya menyeruput anggur yang ada di permukaan tubuhnya sedikit demi sedikit. Di kejauhan Millo dan King memandanginya. Lalu masing-masing menorehkannya dalam dua medium yang berbeda. King menulis di diary mungilnya. Sementara Millo melukis, melayangkan kuas dengan warna-warna di atas kanvas kesana dan kemari.

Mereka menuangkan seorang perempuan.

Sementara Dwayne tampak tidak peduli, ia berenang leluasa di dalam gelas anggur itu. Merentangkan tangannya lebar-lebar. Bermain-main dengan cairan anggur yang pekat—menyeruputnya seperti menyeruput kehidupan.

“Ayolah, King, Millo! Sini gabung sama aku.” Dwayne berteriak memanggil keduanya.

“Sebentar lagi, Dwayne. Sebentar lagi selesai, saya pasti nyusul.” Millo menjawab, sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya perlahan.

“Aku juga!” Tampak King menjawab, dengan mata yang tidak beranjak dari diary mungilnya.

“Baiklah, kalau begitu. Aku tunggu kalian di dalam sini.” Dwayne akhirnya membalas pasrah, masih bermain-main dengan cairan anggur di dalam gelas itu. Berenang. Berjinjit-jinjit. Mencelupkan jari-jari mungilnya ke dalam cairan anggur. Tak lupa kembali menyeruput cairan pekat itu.

Dwayne masih berenang di dalam gelas anggur itu. Kalaupun capek, ia akan menuju pinggiran gelas yang bening. Istirahat sebentar. Melihat keluar, melihat dunia di luar gelas anggur lebih tepatnya. Menempelkan pelipis dan hidungnya pada gelas bening itu, lalu menemukan sosok perempuan itu.

Di sana ia duduk. Millo dan King terlalu asik dengan kesibukan mereka, sampai tidak memperhatikan sosok perempuan ini, pikir Dwayne. Ia cantik dengan dagu mungil, bibir tipis. Rambut sepanjang bahu dan poni yang sesekali menusuk matanya—sedang memegang gelas anggur yang sama. Dimana Dwayne sedang berenang di dalamnya.

“Hey, kamu pasti Maradilla.”

“Betul, darimana kamu tahu saya Dwayne?” Perempuan itu menjawab dengan balas bertanya.

“Ah, semalam aku melihatmu di mimpiku. Kamu hendak ke dokter gigi, tampaknya ada gigimu yang bolong dan hendak dicabut.”

“Oh. Ya. Kalau begitu saya juga melihatmu, kamu asisten dokter itu. Yang memanggil namaku dengan nomor urut 3.”

“Hehe. Kamu ingat.” Dwayne membalasnya sambil nyengir. “Jadi, kamu akan menulis tentangku, tentang mimpi, jendela, kebun anggur, Marstonm, Hainesh, kedua temanku Millo dan King..”

“Setelah saya pikir-pikir, iya..” Perempuan bernama Maradilla itu menjawab mantap.

“Dilla, sebentar! Apa kamu melihat Millo dan King? Mereka tadi di sana, di dekat kamu. Persis di seberang meja kamu.

Perempuan itu menengok ke kanan dan ke kiri. Tampak mencari-cari dua sosok yang dimaksud Dwayne. Tapi tidak menemukan mereka.

“Sayang sekali, tidak Dwayne. Dari tadi di ruangan ini tidak ada siapa-siapa.” Perempuan itu menjawab.

“Ah, sudahlah. Mungkin mereka tidak akan datang.”

“Sudahlah, tak usah pikirkan mereka. Hubungan yang lebih dari dua, bisa jadi berhasil. Bisa jadi lebih kuat. Tapi di satu sisi, pada akhirnya kamu dan saya harus memilih. Seperti mimpi dan realitas. Mau hidup di mana, itu tergantung pilihan kita. Dan kali ini, saya memilih kamu. Kamu sudah siap Dwayne..” Perempuan itu bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Hmm, Dilla sebentar! Ketika aku ada di dalam perut kamu, apa aku masih bisa bermimpi?”

“Tentu saja Dwayne sayang.”

Tak lama kemudian, hanya terdengar bunyi glek, glek, glek perempuan itu menyeruput cairan pekat itu perlahan. “... seperti Cabernet Sauvignon dan Merlot, demikianlah kita saling melengkapi, Dwayne.”  


Kini, perempuan itu terlihat membersihkan sisa anggur di sudut-sudut bibirnya dengan serbet. 

***
Anggaplah ini semacam review. Komentar saya di-sms untuk Maradilla Syachridar ketika saya selesai membaca novelnya adalah “ini novel cerdas..” di satu sisi, saya merasa beruntung mengenal Dilla secara pribadi. Dan di sisi lainnya, saya merasa bangga, Indonesia memiliki seorang perempuan muda, penulis seperti dia. Terlalu! Kalau kamu tidak membeli dan membaca novelnya. Pesan dengan mention @maradilla :)

Dago 349. Minggu, 18 Juni 2010, 15:18 

2 comments:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...