Friday, June 24, 2011

Perjalanan Aceh – Hari Pertama

Diawali dengan sebuah telepon di siang yang random, seorang Prita Laura (presenter Metro TV) mencoba peruntungannya dengan menawari saya sebuah pekerjaan. Sebutlah pekerjaan itu adalah jalan-jalan dan menulis. Sudah itu saja, semangat jalan-jalannya yang dia iming-imingi kepada saya. Dasar! Saya tukang jalan, saya langsung terima saja tawaran itu.

Dengan persiapan hanya satu hari, berangkatlah saya ke Aceh. Dengan beberapa teman lainnya, yang sebelumnya saya tidak kenal. Nah, lebih lanjut soal pekerjaan, lebih tepatnya keberadaan kita di Aceh adalah untuk membuat sebuah peta objek wisata yang representative untuk para wisatawan baik itu di dalam maupun luar negeri. 

Mengunjungi Aceh pernah terbersit di pikiran saya beberapa tahun yang lalu, tepatnya setelah Tsunami. Dan keinginan ini baru terjawab sekarang. Hari pertama tiba di Aceh, sangat menyenangkan.

Begitu turun dari pesawat, kita langsung diajak menuju Rumah Makan Rayeuk, di Jl. Lueng Bata, Banda Aceh.  Sebuah rumah makan dengan menu makan utama Ayam Tangkap. Jadi Ayam Tangkap ini adalah jenis masakan dengan ayam yang dipotong kecil-kecil yang digoreng dengan berbagai jenis daun antara lain daun temuru, daun sup, dan cabai hijau. Ayam-ayam kecil ini seperti bersembunyi di bawah daun-daun tersebut, jadi kita harus mencari mereka. Mungkin itu adalah filosofi dari nama Ayam Tangkap itu sendiri. Tidak lupa saya juga icip dendeng campur yang lezatnya minta ampun, juga berbagai sambal yang ditawarkan, beragam kuah-kuah, dan menutupnya dengan meminum jus terong belanda yang lezat!

Setelah itu, kita menuju hotel untuk istirahat sebentar. Oh ya, saya menginap di Hotel 61, di Jl. T. Panglima Polem no. 28. Setelah mendapatkan waktu untuk beristirahat sebentar, maka saya dan teman-teman berencana akan mengunjungi Museum Tsunami. Saya menunggu untuk menceritakan museum ini kepadamu. Museum ini terletak di Jl. Iskandar Muda, dan jika mengetik google, konon museum ini di-desain oleh Ridwan Kamil dan dibangun dengan tujuan untuk mengenang para korban Tsunami pada Desember 2004 yang lalu.

Setelah membeli karcis pada loket yang telah disediakan, kita akan masuk ke dalam pintu utama yang dijaga ketat oleh penjaga. Tas besar tidak boleh di bawa. Setelah masuk ke dalam, kita akan menemukan sebuah lorong yang begitu gelap. Dengan jalan yang agak turun ke bawah. Dan dinding-dinsing besar di sebelah kiri dan kanan yang dialiri oleh air. Jadi ketika masuk, saya bisa merasakan cipratan air di atas kepala dan muka saya.

Entah kenapa saya merinding, karena seperti dibawa menyaksikan pertunjukkan teater mengenai cerita Tsunami, lorong itu begitu gelap dan dingin. Seperti tidak ada pengharapan. Saya berjalan begitu hati-hati karena penerangan yang di sediakan pun hanya seadanya. Setelah menuruni lorong itu, saya  tiba di suatu ruangan. Kalau dilihat dari bentuknya, ruangan ini seperti ruangan audiovisual yang ada di kampus-kampus. Karena bentuknya dipenuhi dengan layar-layar dimana-mana. Tetapi layar-layar itu setelah didekati, akan terlihat “tayangan adegan Tsunami” yang akan membuatmu tercengang.

Dengan penerangan yang juga tidak seberapa. Sengaja dibiarkan gelap malah. Saya masuk ke dalam satu ruangan lagi yang disebut “sumur doa.” Memasuki ruangan ini, saya melihat sederet nama-nama yang terpampang di dinding. Nama-nama yang akan membuatmu bergidik, mereka bisa jadi adalah adik, kakak, ayah, ibu, sepupu, atau orang terkasihmu. Diiringi dengan suara adzan yang bergema, seperti selalu mendoakan mereka setiap detik. Pada atas ruangan itu, seperti menara yang sangat tinggi, atau memang sumur doa. Saya melihat nama Allah ditulis dengan huruf Arab yang begitu besar. Seakan mengingatkan semua orang yang menengok ruangan itu, tidak ada yang lebih tinggi dariNya.

Keluar dari “sumur doa” saya menemukan seperti jembatan yang menanjak. Ketika melihat ke atas, saya melihat banyak sekali bendera-bendera mancanegara yang terpampang di sana. Konon ini adalah penghargaan kepada negara-negara yang sudah membantu Aceh pasca Tsunami. Jika diperhatikan Museum Tsunami ini seperti berbentuk kapal, padahal bentuk Museum ini adalah pusaran air. Lalu bentuk anyaman yang melingkari bumbungan sebelum atap, melambangkan persatuan dan kegotong-royongan masyarakat Aceh.

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya, bangunan Museum Tsunami ini terletak di belakang kuburan Belanda Kerkoff Peutjoet. Mengingatkan saya lagi bahwa manusia hanya selangkah dengan kematian.


Selesai mengunjungi Museum Tsunami, saya dan teman-teman menuju Kapal PLTD Apung bekas Tsunami, konon kapal ini terbawa hampir lima kilometer dari tempat asalnya. Kapal yang cukup besar ini, akhirnya dijadikan pemerintah sebagai objek wisata yang menarik oleh pemerintah.  

Setelah itu kita menuju Coffee Bay, beberapa menu kita coba di sini. Salah satunya adalah kopi sanger yang terkenal itu. Lokasi Coffee Bay berdekatan dengan kantor Dinas Pariwisata Banda Aceh. Yang mana setelah itu saya dan teman-teman juga harus bertemu dengan Reza Fahlevi selaku Kepala Dinas. Bang Reza begitu beliau disapa, terlihat masih muda. Dan sangat bersemangat dengan kedatangan kita. Sekaligus, saya suka mendengarkan dia bercerita tentang visinya terhadap Pariwisata Aceh.

Diskusi dan obrolan berjalan lancar. Akhirnya saya dan teman-teman memustuskan makan malam di Warung Trigading di Jl. Daud Beureu. Saya mencoba beberapa menu, salah satunya adalah tiram berkuah yang lezat sekali.

Kembali ke hotel. Ini adalah perjalanan hari pertama saya. Slogan Aceh lalu terngiang-ngiang di kepala saya “memuliakan tamu adalah adat kami.”

Belum juga sehari di Banda Aceh. Tapi apa boleh buat, saya sudah merasa sangat dimuliakan. Jatuh cinta, Tapi sekarang mulai mengantuk ...







*berhubung meng-upload lama. Akan saya lanjutkan lagi. 

3 comments:

  1. wow, perjalanan yang sangat seru dan mengesankan. di tunggu cerita lainnya Tante! :)

    ReplyDelete
  2. wuaahh,,,saya seneng baca'a, kebetulan saya orang aceh!! mudah2an ga bosan untuk berkunjung ke aceh lg,,,

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...