Sunday, January 16, 2011

Surat Cinta #3: Untuk Hujan


weheartit

Ada apa denganmu, kenapa siklusmu berubah. Rajin sekali datang subuh-subuh menginjakkan tungkai kakimu yang panjang-panjang itu di atas genteng rumahku. Biasanya kan, kamu datangnya sore hari. Meleleh di jendela. Menyusup lewat gorden coklat tua. Merembes melalui dinding-dinding kamarku.

Jangan ngambek kalau aku menulis begini. Tak ada yang salah dengan kedatanganmu kok. Aku selalu suka kalau dikunjungi kamu kok. Lagipula sudah lama kita tidak berbagi cerita.

Hujan, aku mau tanya, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu masih sayang sama seseorang? Padahal sudah sekian lama ini, kalian tidak bertemu. Hanya saja, kamu masih punya deg-degan yang sama kalau ingat dia. Kamu masih punya senang kalau mengingat hal manis tentangnya.

Ketika menulis ini. Tiba-tiba rintik di luar. Aku menengok jam di layar hape bututku, jam 4 pagi dan hujan sudah datang lagi. Nah, baru juga aku menulis tentangmu di sini. Aku turun dari tempat tidur menemukan jendela, tempat aku mengintip kaki-kaki hujan yang panjang.

Lalu di sana. Aku melihat semacam tulisan di jendela kamarku. Huruf-huruf kecil dan tidak beraturan. Aku memincingkan mataku sedikit, lalu melihat semacam inisial namamu di sana. Aku sedikit kaget. Mundur sedikit. Betul, hujan menulis inisial namamu, sayang.

Hujan subuh ini. Aroma tubuhmu. Biasanya kita tidur berdampingan lalu berpelukan. Hei, di surga subuh begini, kamu sedang apa?

Mataku basah. Bukan karena hujan.

Saturday, January 15, 2011

Surat Cinta #2: Untuk Papa

weheartit




Papa, apa kabar? Lama kita tidak saling menelepon. 


Maaf, untuk sementara saya lagi “off” hape dulu, karena satu dan lain hal. Hal ini yang membuat saya juga lama tidak mengirim kabar. Kabar terakhir yang saya dengar tulang belakang Papa suka sakit-sakitan. Semoga tidak ada yang serius. Bagaimana dengan ayam-ayam dan cabe di sekitar rumah, semoga Papa selalu senang dengan menjadi petani di rumah.

Saya banyak susah akhir-akhir ini Pa, tapi saya berusaha survive. Yah, kalaupun saya susah ini mungkin adalah proses di hidup saya yang perlu saya lewati. Tapi saya tidak mau Papa dengar saya sedang susah, nanti Papa sedih lalu kuatir.

“Nona, su makan ka blom?”

“Nona, ada bae-bae?”

“Ingatang, jaga kesehatan.”

Nada suara itu saya kangen. Papa selalu tampak tegar. Papa selalu mau, kami anak-anaknya melihat bahwa Papa baik-baik saja. Tapi mungkin Papa punya sakit diam-diam, yang suka ditahan-tahan. Saya bertekad untuk pulang di tahun ini Pa, tinggal dulu sebentar bersama Papa dan Mama.

Sabar ya, semoga kalau uang saya cukup dan sudah waktunya. Saya pulang, kita bisa ngobrol lama-lama di teras. Makan sagu, minum teh manis lalu berbagi mimpi. Mengenai mimpi besar saya, pelan-pelan akan saya wujudkan Pa. Walau ternyata saya harus mulai dari bawah sekali. Dan percaya pada keyakinan saya.


Satu yang saya tahu, Papa percaya sama saya.

Terima kasih untuk kepercayaannya, tolong terus dukung saya dalam doa. Saya tahu kalau ketika sendirian dan saya ingat Papa, pasti Papa sedang mendoakan saya.

Tolong, jaga kesehatan Papa. Saya belum bisa kasih Papa, apa-apa. Tapi saya janji akan mengerahkan dan memaksimalkan segala sesuatu yang saya punya untuk menggapai mimpi saya di tanah rantau. Satu yang saya inginkan Papa bisa bangga sama saya. Sama anak perempuan bungsu Papa.

Mata saya mulai berair menulis ini Pa.

Di dalam jarak yang begitu jauh ini pun, saya percaya kita selalu saling menyayangi. Saya sudah bukan anak kecil ikat konde dua yang dulu suka Papa ajak naik speed boath lagi. Saya sudah menjadi perempuan dewasa yang punya keputusan sendiri.

Semoga keputusan saya tidak salah, semoga dimanapun saya berada, saya akan selalu bikin Papa bangga. Jaga Mama baik-baik di Ambon.

I Love you Pa. 

Friday, January 14, 2011

Surat Cinta #1: Untuk Kamu

Ini 30 Hari Menulis Surat Cinta. Dan di hari pertama ini, saya ingin menulis tentang kamu. Sejak saya bangun pagi, saya mencium bau parfummu di kamar saya. Saya merasa sangat menyesal karena pernah mengijinkan kamu untuk pergi. Sejujurnya, saya tidak pernah melakukannya. Di dalam hati saya yang paling dalam kamu tetap ada. Saya bohong ketika saya bilang saya tidak lagi memikirkanmu, buktinya sepanjang hari ini saya melakukannya. Saya membayangkan setiap detail kebersamaan yang pernah ada. Awal bertemu. Obrolan pertama kita. Hal-hal manis. Senyum dan tawa pertama kita. Tidak ada keburukan yang saya bisa ceritakan di sini. Kau itu pria pertama yang membangun kebaikan di dalam perjalanan saya. Kau pria pertama yang ajarkan saya keberanian. Kau adalah pria pertama yang membawa saya mengenal dunia tulis menulis semakin dalam. Kau adalah pria pertama yang ajarkan saya mengobrol dalam-dalam. Awal tahun ini tekad saya adalah: move on. Saya sengaja tidak mau lagi berhubungan denganmu. Saya sengaja ingin melupakan dan menganggap kebersamaan diantara kita itu tidak pernah ada. Saya ingin menghilang saja. Tapi terlalu sulit. Kenapa kamu selalu ada. Saya sempat berpikir, mungkin kamu buat saya dan saya buat kamu. Hm, saya sendiri masih tidak terlalu yakin dengan ini. Mungkin kamu pun demikian. Kabar terakhir, kamu sedang dekat dengan orang lain. Sudahlah, mungkin orang itu yang terbaik untukmu. Kalau memang begitu, pergilah. Tadi, ketika di angkot, saya memejamkan mata saya dan berucap pelan kepada semesta yang mendengar saya: saya kangen kamu. Ini rasa kangen serius. Saya kangen segala kebaikan yang pernah kita lalui bersama. Saya kangen kamu dengan segala kekurangan yang kamu punya. Saya kangen suara beratmu. Saya kangen kerut-kerut di dahimu. Saya kangen sinar di matamu. Saya kangen berbagi cerita denganmu. Bahkan saya kangen cerita dua pelangi. Kamu ingat waktu kamu bilang bertemu dua pelangi. Saya terlalu percaya bahwa pelangi yang satu itu pekerjaanmu dan satunya lagi itu saya. Saya sangat senang waktu akhirnya kamu pindah ke Bandung. Lalu sejauh ini tidak ada yang buruk tentang kamu. Saya bahkan tidak punya alasan untuk menyuruh kamu pergi. Kamu sudah menjadi bagian dari hidup saya. Kamu pria yang buat saya pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Ini surat cinta buat kamu. Entah kamu membacanya atau tidak. Tapi ada satu hal yang tidak bisa membuat saya berhenti menulis: itu adalah sayang yang saya punya – sekali sayang, sampai kapanpun begitu, tidak berkurang. Dimanapun kamu, kamu selalu yang pertama di hati saya. Saya hanya mau bilang saya tidak pernah menyesal mengenal kamu, terima kasih untuk segala kebaikanmu, terima kasih selalu ada untuk saya sepanjang tahun-tahun kemarin, saya masih sayang sama kamu. 


Tiba-tiba saya merasa sentimentil mengingat ini, tapi kamu punya sepatu yang mirip ini. Dan saya suka memanggilmu Mr. White T-Shirt. 

Thursday, January 13, 2011

Hanya Ingin.

weheartit




"Hei, apa kabar."


Mendadak saya ingin menghubungimu. Bangun pagi dengan keinginan yang semakin menjadi. Tak ada yang menyuruh, bukan karena apa-apa. Bukan karena kenapa-kenapa. Hanya saja, saya ingin sekali melakukannya.

Hanya ingin tahu kabar kamu. Hanya ingin tahu, kamu sedang apa. Hanya ingin bercerita. Hanya ingin mengingat senyum kecilmu, sedikit saja. Lalu, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya mendoakanmu, semoga kamu tidak kenapa-kenapa.

Sudah lama saya tidak bercerita dengan mata yang berbinar. Sudah lama saya tidak punya perasaan deg-degan kecil di sini. Saya bahkan takut kalau mungkin saya kehilangannya. Walau sebenarnya saya sendiri tidak mau.

Lalu setelah melakukan beberapa hal, saya memutuskan menghubungimu. Agak ragu, tapi saya melakukannya. Agak takut dengan segala respon yang akan kamu berikan, tapi saya memberankan diri juga.

Dan kamu tahu, ternyata saya masih punya deg-degan yang sama. Setrum kecil tiba-tiba menjalar perlahan di sekitar jantung saya. Padahal saya pikir harusnya rasa itu sudah hilang. Tapi ternyata masih ada.


Kalau sudah begini, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Mungkin kamu adalah orang yang pernah membuat saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Mungkin kamu adalah orangnya yang ada di mimpi saya beberapa tahun yang lalu.

Disitu kita bersama, kita punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Kita seperti keluarga kecil yang bahagia. Sepertinya begitu. Di mimpi itu, kamu menyentuh lengan kiri saya dengan suara itu. Suara yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di kuping saya.

Saya sendiri heran. Bagaimana mungkin, setelah bertahun-tahun yang lalu, saya masih merasakan “setruman” yang sama.

Hm. Tapi bukankah setruman itu tidak pernah berbohong. 

Wednesday, January 12, 2011

Konser Faith, Hope, and Love






Ini akan menjadi minggu-minggu yang sibuk. Terhitung kurang lebih sebulan dari sekarang, saya dan teman-teman saya di Glorify The Lord Ensemble akan mengadakan konser mungil dengan tema: Faith, Hope, and Love Tribute to Daud P.M Saba. Tepatnya pada Minggu, 13 Februari jam 6 sore di Sabuga

Kalau ada diantara pembaca yang bertanya siapa atau apa itu Glorify The Lord Ensemble, saya akan menceritakannya sedikit. Glorify The Lord Ensemble (atau GTLE) adalah Paduan Suara anak muda di kota Bandung, yang dibentuk pada 9 Mei 1993 oleh Daud P.M. Saba.

Awalnya paduan suara ini, hanya terdiri dari beberapa orang saja kemudian seiring dengan waktu, bertambah terus. Hingga kini, total anak yang berlatih hampir 40-an orang. Kami berasal dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda-beda. Dan nyanyian yang menyatukan kami.

Pada 31 Januari 2010, Daud P.M.Saba pelatih, pembina, mentor, Papa kami telah dipanggil pulang mendahului kami. Kemudian tercetus ide untuk menyelenggarakan konser, sekaligus memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya terhadap beliau.

Konser mungil ini mungkin tidak dapat menggantikan kontribusi dan talenta Daud P.M. Saba, yang seumur hidupnya digunakan untuk mengasihi dan melayani sesama. Beliau yang seumur hidupnya memberikan pesan kepada generasi dan menularkan gairah “melayani” itu kepada kami anggota Glorify The Lord Ensemble termasuk saya.

Kini, kami selaku anak-anaknya tidak dapat memberikan banyak. Hanya konser mungil dengan beberapa musisi yang kami ajak kerjasama seperti Glenn Fredly, Barry Likumahuwa, Benny Likumahuwa, Dira Sugandi, Dewi Guna, Karen Pooroe, Gaby, dan masih banyak lagi.

Ketika saya menulis posting ini, ini adalah hari ke dua kami berlatih. Total lagu yang akan kami bawakan adalah sekitar 20-25 lagu. Dengan jadwal latihan yang akan padat ke depan, kami harus mengkompromikan segala sesuatu dan mulai memprioritaskan persiapan konser ini.

Banyak hal yang belum sempurna. Termasuk dana yang masih sangat minim. Hasil penjualan tiket dari konser ini, juga akan kami gunakan untuk membantu saudara-saudara yang kekurangan di Waikokak, Kupang. Tolong doakan kami, semoga apapun yang dikerjakan tidak sia-sia.

Bagi saya Glorify The Lord Ensemble lebih dari sekedar paduan suara. Ini semacam rumah untuk tumbuh bersama. Semoga kesehatian kami akan menulari kamu yang membaca postingan ini, juga bangsa ini.


Info lebih lanjut, boleh klik ini Jingle Radio atau boleh follow kami di twitter @GlorifyTheLordE

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...