Monday, May 21, 2018

Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai: Salatiga (Bagian II)






Pada hari Rabu, 9 Mei 2018 lalu, kami mengadakan peluncuran buku "Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai" di Kafe Cindy's, Salatiga. Pada kesempatan itu kami  menghadirkan dua pembahas, Izak. Y.M. Lattu dan Jessy Ismoyo. Keduanya adalah dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, sahabat kami sekaligus teman diskusi yang menyenangkan. Diskusi yang panjang itu akan dipublikasi dalam beberapa bagian supaya tetap bisa dinikmati dengan santai: (1) Perihal Buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai; (2) Perihal Ciuman; (3) Perihal Puisi Kesukaan dan Rindu; (4) Perihal Cinta & Puisi. Selamat membaca!



Bagian II: Perihal Ciuman

Christian melanjutkan, “Ada isu apa di balik puisi Ciuman yang Menjaga Sebuah Bangsa?” Theo atau Weslly yang lebih dulu, silakan.

“Awalnya puisi ini hanya mau bercerita tentang ciuman tetapi karena menulis apa pun, termasuk menulis puisi, adalah kegiatan yang tidak mungkin terisolasi dan bersifat dialektis, maka ‘obrolan’ saya dan Theo tentang ciuman itu akhirnya menyentuh juga pengalaman-pengalaman lain di sekitar kehidupan kita. Saya percaya bahwa semua kita punya ingatan manis tentang bangsa ini, walaupun itu tidak lalu berarti mengabaikan berbagai persoalan hidup bersama sebagai bangsa yang kerap muncul pada hari-hari belakangan ini. Puisi ini ditulis dan meluas dalam tegangan itu. Pada dasarnya, ciuman di dalam puisi ini adalah usaha menyeberangi keterasingan yang terbentang antara manusia yang satu dengan manusia lainnya,” jawab Weslly.

Sementara menurut Theo, “puisi Ciuman yang Menjaga Sebuah Bangsa adalah titik tenang untuk memandang dan memahami diri sendiri juga hubungan-hubungan manusia dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa. Membaca berita pada hari-hari belakangan kadang membuat hatimu cukup patah. Puisi adalah ruang untuk kemudian mengingat lagi hal-hal manis tentang bangsa ini dan tempat di mana harapan-harapan baik dan kebaikan-kebaikan itu dijaga dan dibiarkan untuk terus bertumbuh.”

“Awalnya puisi ini hanya mau bercerita tentang ciuman tetapi karena menulis apa pun, termasuk menulis puisi, adalah kegiatan yang tidak mungkin terisolasi dan bersifat dialektis, maka ‘obrolan’ saya dan Theo tentang ciuman itu akhirnya menyentuh juga pengalaman-pengalaman lain di sekitar kehidupan kita, ujar Weslly Johannes.





“Puisi Ciuman yang Menjaga Sebuah Bangsa kalau kita bicara tentang semiotika adalah tanda dari betapa kita merindukan intimasi pada sebuah bangsa,” demikian Izak Lattu. “Kita merindu pada saat intimasi itu hilang. Kita merindu pada apa yang membuat kita menjadi bangsa, yaitu rasa paling dalam. Dalam konteks itu, bangsa tidak hanya bisa diikat oleh hukum. Dalam buku ‘Menolak Narasi Tunggal’, saya juga pernah bilang, kalau bangsa yang cuma diikat oleh hukum saja, itu namanya persatean; kalau bangsa diikat juga oleh rasa, itu namanya persatuan. Oleh karena itu, cinta menjadi kekuatan berbangsa di dalam puisi ini. Tidak ada orang yang bisa menjadi warga bangsa yang baik, kalau dia belum pernah mencium dan mencintai. Hanya orang yang mencium dan mencintai yang bisa merasakan arti sebuah bangsa.”

“Mencium dan mencintai itu bukan kekuatan fisik, tetapi kekuatan rasa yang paling dalam dan kita ingin, dalam konteks bersatu sebagai bangsa itu seperti orang menikah, misalnya. Cinta itu tidak membutuhkan pengorbanan, sebab ketika kita sudah merasa berkorban, kita sudah tidak lagi mencintai, tetapi berinvestasi, melainkan kita betul-betul ingin membangun ikatan dengan saling mengaitkan kedekatan kita pada orang lain dan itu yang kemudian membuat kita menjadi bangsa. Kembali pada konteks ‘persatean’ tadi. Kita tidak mau bangsa ini hanya terikat karena hukum belaka. Kita punya pancasila, tetapi pancasila itu akan tidak ada artinya, jika orang tidak belajar untuk saling mencintai pada level keseharian. Level keseharian ini yang bisa memperkuat bangsa. Bangsa ini punya kekuatan untuk saling terikat kalau kita belajar mencintai, kalau orang boleh mencium (intimasi), saling berpelukan, dalam arti ‘menghapus jarak’. Jika kita mau menjadi bangsa, kita harus bisa menghapus ‘distance’ antara kita dengan orang lain,” tutur Izak Lattu.

“Ciuman yang nasionalis,” ucap Christian sambil tertawa, “membuat kita sadar bahwa bangsa ini masih memiliki sesuatu yang manis untuk menjadi kekuatan yang mengikat kita.”

(bersambung)


No comments:

Post a Comment

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...