Thursday, October 20, 2016

Sikat Gigi





Menyikat gigi adalah pengalaman yang menyenangkan dan indah. Bukan hanya karena semut-semut hitam yang berjejer senang di dekat jari-jari kakimu, melainkan juga aroma masa lalu kerap muncul ketika bulu-bulu halus sikat gigi itu mengenai gigimu.

Sejumput kenangan dari rambut abu-abu nyaris putih, sepasang mata dan sepasang gusi atas dan bawah. Lengan-lengan yang mati dan terbujur kaku di peti mati. 

Tak ada lagi kehidupan. 

Saya berhenti sebentar menyikat gigi. Dan merasakan busa-busa segar di sela-sela gigi. Merasakannya dengan lidah saya dan menelannya sedikit. Rasa pasta gigi yang bercampur dengan liur itu ternyata enak juga. 

Sementara udara segar dari ventilasi kamar mandi masuk dan menelusuri punggung. Irama lagu dari radio terdengar sayup-sayup dari kamar sebelah membelai telinga. Mengajak bersenandung walaupun sedang menyikat gigi. 

Sekelebat pertanyaan itu muncul di kepala begitu saja, sebutkan satu hal terakhir yang paling menyenangkan yang akan dilakukan sebelum mati?

Apakah itu sikat gigi?

Satu bulu sikat lepas dari tangkainya. Tercerai dari kawanan, sepi. Hilang ke dalam selokan. Di sana tidak ada gusi dan gigi yang merah pucat dan putih, seperti mayat. Tetapi basah dan bau tak sedap itu begitu akrab. 

Setiap pagi ia dibawa masuk ke dalam satu dunia yang sama sekali berbeda dari keranjang biru muda tempatnya bertengger sepanjang malam. Terdorong tanpa punya pilihan lain, selain melompat-lompat di atas barisan gigi yang tak simetris, menyelinap di celah-celahnya, atau masuk ke dalam lubang-lubang tempat kebusukan bersembunyi. 

Ia tak punya pilihan. Hidup yang tak punya pilihan sama saja dengan mati. Tercerai dari kawanan, hanyut ke alam lain, dan tinggal di dalam selokan sepanjang usia tulang-belulang.

Air menderas. Bulu sikat tertancap pada celah dasar selokan yang retak. Senandung dari dalam kamar mandi menggema di selokan. Ia rindu pada hidup yang dulu, meski melompat-lompat di antara barisan gigi yang mulai ternodai kopi dan nikotin.

I was born by the river hm hm hm hm hm..
O, and just like the river I've been running hm hm hm...”

Tiba-tiba ia ingin merasakan lagi dua katup bibir yang menggumamkannya. Bibir yang lembut dan memerah karena pasta gigi. Ia rindu ada di lagu itu. Lagu tentang hal-hal yang tidak dimengerti. Tentang hidup. Hidupnya yang tak ia mengerti tetapi entah untuk alasan apa terus saja ia lanjutkan, di keranjang biru, di antara barisan gigi, dan di selokan kini. 

(* adalah prosa pertama yang ditulis bersama. Saya dan weslly johannes mencoba menggarap proyek tulisan kedua kami secara serius sekaligus santai. Berbekal jarak dan ketabahan, semoga kami bertahan untuk menyelesaikannya.) 

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...