Thursday, October 20, 2016

Sayang Sekali Kita Terlanjur Melihat Cinta Sebagai Sebuah Pemikiran Remeh





Saya memulai kalimat-kalimat saya dengan ini : “yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya.” Kalimat-kalimat itu saya ucapkan pada suatu sore selesai ciuman yang sederhana. Saya menyukai bagaimana cinta merasuk dan menghisap darah manusia seperti kutu busuk. Berawal dari jumpa dan melihat kekasihmu berubah menjadi hantu di dalam tidurmu.

Bagaimana kau mencintai bau kulitnya yang berminyak. Bau tembakau yang menempel. Pelukan di bagian punggung. Urat-urat di mata. Kelopak mata yang tertutup. Tungkai jenjangnya yang seperti perempuan di atas catwalk. Atau caranya membikinkan kopi untuk bekal menulis. Sungguh; itu semua adalah hal-hal sederhana yang tidak akan ada artinya tanpa kesungguhan.

Emma Stone berkata ia tidak akan bisa hidup tanpa cinta. Ahok tidak akan bisa bertahan tanpa cinta. Kawan-kawan yang berdemo kemarin-kemarin tidak akan melakukannya tanpa cinta. Bob Dylan tidak akan membuat lirik-lirik yang bagus tanpa cinta. Bahkan Pramoedya menulis dari dalam penjara karena cinta.

Sayang sekali kita terlanjur melihat cinta sebagai sebuah pemikiran remeh, rendah, dan mengangkang. Satu-satunya yang kerap dekat dengannya adalah orgasme: asal satu orang senang. Padahal cinta bukan masalah satu melainkan dua. Satu tambah dua sama dengan tiga. Saya ditambah kamu sama dengan Indonesia. Saya membayangkan apa yang ada di dalam benak pencipta ketika ia mencipta Indonesia. Sudah pasti bukan siapa yang paling berkuasa. Atau sudah pasti bukan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin sementara yang lain tidak layak. Tidak pantas. Tetapi rasanya ia mencipta karena cinta. Maka setiap orang memiliki cinta berhak untuk memimpin.  

Siang tadi kami membaca Sartre, ia menulis ada seorang laki-laki yang punya lubang hidung begitu besar sehingga ketika ia bernafas keluarganya pun akan ikutan hidup. Diam-diam saya berpikir tentang hal lainnya tentang cinta. Cinta adalah membiarkan yang lain hidup. Tetapi bukan yang lain lantas mati. 

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...