Tuesday, July 5, 2016

Malam Jelang Lebaran di Kota Kesepian








Saya mencari Hujan. Saya melihat iklannya di tv hampir sebulan yang lalu: HUJAN HILANG. Begitu bunyi headline dari berita-berita yang disiarkan. Dilanjutkan dengan banyak sekali sayembara yang diumumkan untuk mencari Hujan. Karena Hujan sudah lama hilang. Barang siapa yang menemukan Hujan, ia dapat membungkusnya dengan rapi dan dikirim ke si pembuat sayembara dengan jumlah imbalan yang tidak sedikit.

Saya sebagai penikmat Hujan merasa ini adalah sebuah  tantangan. Saya harus dapat menemukan Hujan. Itu sudah menjadi tekad saya. Tapi sayang sekali Hujan belum saya temukan.

Saya lalu melakukan perjalanan dari satu kota ke kota yang lain untuk mencari Hujan. Namun usaha saya masih sia-sia. Hujan masih misterius. Belum juga saya temukan. Sejak sebulan itu setiap hari saya berjalan ke lorong-lorong kecil, gang-gang-gang sempit, pasar, perumahan penduduk, jalan-jalan besar, sekolah-sekolah, halaman kosong. Namun Hujan belum juga saya temukan.

Saya lalu sampai di kota Kesepian, ini adalah kota pencarian saya yang terakhir. Barangkali saya menemukan Hujan di sini. Atau barangkali saja ada orang yang dapat memberitahukan kepada saya rahasia besar ini: dimanakah Hujan tinggal?

Malam ini kota Kesepian sepi. Tidak ada lagi orang-orang. Hanya saya dan lampu-lampu malam. Saya termenung-menung memandang lampu-lampu malam di kejauhan. Ajaib, lampu-lampu yang begitu meriah, warna-warni itu tampak kesepian. Mereka seperti sedang mencari sesuatu. Mereka seperti sedang menantikan sesuatu. Mereka seperti sedang ingin menceritakan sesuatu.

Saya mendekat kepada salah satu lampu malam berwarna kuning buram dan sedih.

“Hai, apakah kamu sedang sedih?”

“Iya, kok kamu tahu?”

“Hm, hanya bertanya. Barangkali kamu mau cerita?”

Ia lalu menggeleng perlahan. Menunduk. Dan tidak lagi menatap mata saya.

“Mereka semua pergi meninggalkan saya.”

“Ehm, apa, siapa, maksud saya, adakah yang pergi meninggalkanmu?”

“Iya, mereka semua pergi meninggalkan saya. Termasuk Hujan.”

Saya terlonjak kaget. Spontan saya bertanya.

“Eh, sebentar, kamu melihat Hujan? Kamu bertemu dengannya? Eh-eh dimanakah ia tinggal? Kamu tahu? Kamu bisa kasih alamatnya kepada saya? Saya pun sedang mencari Hujan?”

Saya memberondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Lampu malam berwarna kuning buram dan agak sedih itu lalu tertunduk lemas. Kali ini ia benar-benar tidak mau lagi memandang mata saya. Saya agak sedih. Saya lalu enggan melanjutkan bertanya-tanya kepada lampu malam kuning buram yang sedih itu. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Saya lalu pergi dari situ. Membakar sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Saya akan memberitahumu sebuah rahasia di muka bumi ini? Kamu, benar-benar kepengin tahu? Baiklah akan saya beri tahu: bahwa menghisap rokok itu paling nikmat jika kamu lakukan sambil memandang lampu-lampu malam ditemani Hujan.

Ah, sudahlah tapi sekarang saya hanya bertemu lampu-lampu malam. Tak ada Hujan. Dan ini kota Kesepian. Kemana saya harus mencari Hujan? Tanya saya di dalam hati.

Pada hisapan kedua, saya bertemu dengan lampu malam lainnya. Ia hijau. Tidak mencrang. Seperti hijau gorden yang sudah lama sekali tidak dicuci. Agak mbladus.

“Hei, saya tidak tahu kalau kamu merokok?” Lampu malam hijau mencrang seperti gorden itu menyapa saya duluan.

“Ah, ya! Saya ng-eh- iya, tidak juga. Saya memang tidak merokok. Tapi ada satu rahasia: bahwa menghisap rokok itu paling nikmat jika kamu lakukan sambil memandang lampu-lampu malam bersama Hujan. Jadi ya begitulah.” Jawab saya sambil mengedikkan bahu.

Lampu malam hijau mencrang seperti gorden itu tertawa.

“Ah, kamu bisa saja! Itu hanya alasan. Padahal kamu tahu kan, kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatan kamu?”

Saya tersenyum.

“Tidak apa-apalah kalau sekali-kali.” Jawab saya enteng.

“Mau kemana malam-malam begini?”

“Tidak. Hanya jalan-jalan. Saya mencari ... eh, saya mencari ...” Tiba-tiba saya agak kebingungan melanjutkan jawaban saya. “Saya mencari sesuatu. Saya mencari Hujan. Apakah kamu tahu dimanakah Hujan tinggal? Dimanakah saya dapat bertemu dengannya?”

“Hujan? Mereka pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Mereka pergi. Pulang. Meninggalkan kami. Biasalah, ini kan jelang Lebaran. Dan Hujan pulang ke kampung halamannya.”

“Kampung halaman? Saya bahkan tidak tahu jika Hujan punya kampung halaman.” Jawab saya bingung. Dapatkah kamu beritahu kepada saya, dimanakah kampung halaman Hujan?” Tanya saya, begitu penasaran.

“Loh, saya juga nggak tahu. Jelang Lebaran, Hujan pun pulang meninggalkan kota Kesepian. Setiap orang di kota ini pun pulang. Mereka pulang ke rumah mereka yang sebenarnya. Di kota Kesepian ini mereka hanya singgah. Dan selama-lamanya jelang Lebaran, kota ini akan kembali kesepian, seperti namanya. Bahkan Hujan pun pulang meninggalkan kamu. Ke rumah mereka yang sebenarnya. Meninggalkan kami, lampu-lampu malam. Itu sebabnya, kami selalu sedih menjelang Lebaran. Tak ada lagi yang menikmati keindahan kami. Bahkan Hujan pun tidak menemani kami. Oh, mungkin hanya kamu. Kamu dengan sebatang rokokmu itu.” Jawab lampu malam hijau mencrang seperti gorden itu panjang lebar.

Saya lalu agak sedih. Karena Hujan pun sudah tidak dapat ditemukan di kota Kesepian. Jelang Lebaran, Hujan pulang. Entah kemana. Meninggalkan kota Kesepian.

“Saya mau memberitahumu sebuah rahasia: kami, lampu-lampu malam di kota Kesepian tidak pernah pulang jelang Lebaran. Tugas kami jelang Lebaran memang bukan untuk mencari Hujan seperti yang kamu lakukan. Tetapi kami ada untuk menerangi jalan-jalan di kota Kesepian. Supaya, ya, paling tidak, orang-orang seperti kamu tidak berjalan di dalam kegelapan. Atau tidak merasa kesepian di kota Kesepian. Walaupun terkadang, kami dingin dan sepi. Itu biasanya akan membuat kami agak sedih, warna kami akan berubah menjadi agak buram. Tapi kami tetap tegak, berdiri di jalan-jalan menerangi kota Kesepian.”

Rokok di jari saya sudah habis. Saya sudah tidak lagi punya persediaan rokok. Sudah tidak ada lagi warung atau toko yang buka. Sudah tidak ada lagi orang-orang yang berseliweran. Kota ini benar-benar kesepian seperti namanya. Saya merasa, saya sudah tidak bisa lagi mencari Hujan. Karena ini adalah kota terakhir dari perjalanan saya. Ini jelang Lebaran. Dan katanya Hujan telah pulang. Pulang ke rumahnya yang sebenarnya. Rumahnya yang sebenarnya dimana pun saya tidak tahu. Lampu-lampu malam pun tidak ada yang tahu. Ini pun kota Kesepian. Tidak ada lagi orang yang bisa saya tanyakan.

“Dimanakah Hujan tinggal? Kemanakah ia pulang?”

Ini jelang Lebaran di kota Kesepian. Saya masih juga belum menemukan Hujan. Saya tidak lagi dapat bertanya kepada lampu-lampu malam. Separuh dari mereka sudah redup. Mungkin mereka tidur.  







No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...