Thursday, July 14, 2016

Bagaimana Saya Menemukan Album Tiga Pagi: Roekmana’s Repertoire, Roekmana Si Batu Tua







Saya cukup senang. Karena hari ini saya mengetahui bahwa alat pemutar CD saya masih berfungsi dengan baik. Selama ini alat pemutar CD saya yang sederhana itu, hanya cukup saya pakai untuk mendengarkan radio saja. Itupun sudah cukup lama saya tinggalkan, karena bahkan radio yang saya dengarkan darinya pun biasanya mengeluarkan bunyi kresek-kresek yang cukup mengganggu.

Tetapi ketika iseng memencet tombol play, ternyata ia berbunyi dengan baik. Dari baliknya saya mendengarkan suara vokal laki-laki dengan alunan gitar yang cukup dominan. Saya perhatikan liriknya. Tidak lama kemudian saya seperti dibawa mengunjungi sesuatu seperti cerita-cerita yang muncul di kepala. Mereka datang kepadamu dalam warna sephia. Tidak hitam dan tidak putih. Seperti kunang-kunang ketika malam. Ada diantara cerita-cerita tesebut yang menggelisahkan, membuatmu berpikir, sedih, lalu menangis. Tetapi kadang juga ingin membuatmu ingin segera melompat ke bagian cerita yang lain yang lebih bahagia namun tidak bisa. Seperti ada yang menahanmu untuk menyaksikan satu bagian cerita satu per satu hingga ia selesai.

Mengalir. Rasanya bagaimana cerita-cerita itu terus mengajakmu pergi ke dalam relung-relung diri. Dan di sana kamu akan menyaksikannya. Seperti menyaksikan hatimu sendiri, warnanya hitam pekat. Melihat bagaimana darah segarmu yang terpompa dari jantung menuju ke semua bagian-bagian tubuh yang lain. Kamu akan dapat melihat bagian perut. Bahkan rahimmu sendiri. Masuk terlalu dalam, hingga dalam. Lalu kamu akan mengenalinya. Mengenali apa? Entahlah. Tetapi hanya menemukan. Menemukan apa? Entahlah. Menemukan sesuatu yang hilang.  

Saya berhenti sebentar untuk menyesap kopi hitam saya. Baru kemudian melanjutkan perjalanan ini dan memperhatikan lekat-lekat.

Tetapi sayangnya cerita-cerita itu tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk berhenti. Mereka terus melaju. Setelah membawamu untuk menemukan sesuatu yang hilang tadi. Lantas sekarang mereka seperti membawamu menyusun kembali potongan-potongan gambar. Tidak boleh lepas. Seperti puzzle. Kali ini butuh ketepatan. Ketepatan untuk menyusun potongan-potongan tadi satu-persatu hingga menjadi gambar yang utuh kembali.


Pengalaman menemukan dan mendengarkan Roekmana’s Repertoire ini adalah pengalaman perjalanan ke dalam diri. Menemukan sesuatu yang pernah ada, namun hilang. Tidak apa jika ternyata diri yang kamu temukan  sedang hancur. Dan yang kamu temukan hanya berupa kepingan-kepingan.  

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...