Friday, July 8, 2016

Kita Pernah Semalam Bersama-Sama Jauh Sebelum Akhirnya Kita Bersama








Adalah sebuah seingatan. Karena saya tidak mampu mengingat terlalu banyak apa yang telah terjadi di dalam hidup saya. Sejauh yang saya ingat, ketika masih sangat muda dulu, saya memang pernah bercita-cita kepengin punya kekasih yang bisa menulis.

Saya percaya bahwa laki-laki yang bisa menulis itu seksi. Baik menulis buku harian. Menulis cerita pendek. Menulis puisi. Menulis lagu. Atau menulis apapun. Saya memang bertemu dengan beberapa di antara mereka.

Kemudian kriteria hanyalah kriteria. Saya bertumbuh dan saya lupa. Seiiring dengan perjalanan, cinta adalah bagaimana ia menemukan kita, tidak peduli kepada siapa kita jatuh.

Saat ini saya sudah bertemu dengannya. Semalam di telepon di antara percakapan-percakapan saya dengannya, kita berbincang bahwa kita pernah bertemu sebelumnya. Kekasih saya mengirimkan beberapa foto yang ia temukan di dalam akun facebook seorang teman. Di foto-foto tahun 2012 itu saya melihat kita pernah ada di sebuah kesempatan bersama. Kita pernah menikmati satu malam di kota Ambon bersama. Ternyata kita sudah bertemu jauh-jauh hari sebelumnya.

Kekasih saya masih gondrong, ia memakai topi dan ia memakai kaos berwarna putih dengan aksen hitam pada bagian lengan. Beberapa hal yang saya tulis adalah detail kesukaan saya. Waktu itu saya memang belum tahu bahwa ia pun senang menulis. Saya melihat kembali foto-foto itu dan ada waktu jeda sebentar di antara percakapan-percakapan di telepon tadi malam. Saya seperti kembali ke malam di tahun 2012 itu, tetapi saya tidak mampu mengingat apa-apa.

“Memangnya kita nggak ngobrol sama sekali ya di malam itu?”

“Nggak. Kan waktu itu kamu sibuk ngobrol sama teman-teman lain yang juga kepengin ngobrol dengan kamu.”

“Ah, masa sih?!”

“Iya.”

“Tapi masa sih sama sekali kita nggak ngobrol? Kamu itu tipe aku banget. Dan rasanya kalau ada yang kayak kamu, biasanya aku ajak ngobrol.”

Tidak. Kita memang tidak bicara satu dengan yang lain. Padahal jarak kita begitu dekat. Tetapi saya pun tidak mampu mengingat. Apa yang membuat saya tidak mengajaknya berbicara duluan. Atau setidaknya ada percakapan sedikit. Tetapi jangankan dengannya, saya bahkan tidak mengingat apa yang saya bicarakan dengan teman-teman yang lain. Lagi-lagi foto-foto itu hanya menunjukkan bahwa kita berdua pernah menikmati satu malam bersama dengan senang.

Saya percaya bahwa jauh-jauh hari sebelumnya, kita sudah pernah bertemu dengan cinta. Bahkan di dalam pengalaman saya, saya sudah melihatnya tetapi seperti belum dipertemukan. Saya melihat cinta, tetapi di malam itu saya hanya diberikan kesempatan untuk melihat. Bertahun-tahun setelahnya adalah persiapan. Proses persiapan ini yang kemudian membuat saya semakin percaya bahwa alam semesta memang tidak pernah salah soal cinta. Mereka mempertemukan, memberikan ruang untuk dipersiapkan, mempertemukan kembali ketika memang sudah benar-benar siap.

Kamu tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang salah. Dan jangan pernah menganggap remeh perjumpaan-perjumpaan. Juga masa persiapan, ketika kemudian dipertemukan kembali kepada satu masa untuk bersama.

Cinta tidak dapat dipaksakan sebelum waktunya. Tetapi jadilah tenang dan tetap percaya kepada cinta dan bagaimana ia bekerja.  Ia keajaiban yang paling ajaib.


kekasih paling depan, berry, saya dengan topi merah di belakang, tahun 2012.






Saya dan kekasih ternyata sudah dipertemukan jauh-jauh hari sebelumnya. Kita pernah menikmati satu malam bersama-sama jauh sebelum akhirnya kita bersama. Saya tidak mampu mengingat perasaan-perasaan ketika malam itu. Tetapi saya mau mencatat beberapa hal hari ini: hidup adalah keajaiban-keajaiban kecil setiap detiknya. Jangan sampai lewat. 


No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...