Saturday, July 2, 2016

Lelaki Bulan Juli








Saumlaki, Juli 2015

Aku mengingat kamu di bulan ini setahun yang kemarin, kita bertemu.

Kamu tidak spektakuler. Kamu datang di hari itu, sederhana, begitu tenang, dengan sepatu kulit berwarna coklat. Aku memang tidak katakan sebelumnya bahwa, lelaki dengan selera sepatu yang bagus itu kesukaanku. Kita lalu berbicara setelah pertemuan itu. Setelah sepatu, hal kedua yang aku perhatikan darimu adalah matamu. Matamu tidak pernah memandang aku ketika berbicara. Kamu begitu pemalu ketika pertama kali berjumpa.

Kamu seperti magnet ketika bercerita. Menceritakan hal-hal yang membuat matamu berbinar-binar atau sedih. Kayeli, rumah, Mama, puisi, orang muda, hutan Yamdena, dan Maluku adalah sebagian besar cerita-ceritamu yang aku simpan baik-baik. Aku sempat mewawancarai kamu untuk kepentingan tulisanku, dan sepanjang perjalanan pulang dari Saumlaki ke Ambon pada saat itu aku mendengarkannya diam-diam. Jika sedang rindu, aku suka membacanya. Hal lain yang sering aku lakukan adalah sering memutar video kita ketika melihat matahari terbenam. Sayang sekali video itu lenyap bersama hape-ku yang rusak.

Perjalanan pulang dari jembatan kayu itu adalah kali pertama aku berani memelukmu dari belakang. Dengan banyak sekali bintang-bintang di atas kepala. Dan di malam itu pada punggung yang kokoh dan bintang-bintang di atas kepala: aku tahu aku jatuh cinta.

Cinta datang begitu tenang.

***


Ambon, Agustus 2015

Setelah di Ambon segala sesuatu harus berjalan sebagaimana biasanya. Telepon dan saling mengirimkan pesan pendek tidak berhenti. Saling membacakan puisi di telepon dan berbagi cerita keseharian adalah kesukaan. Kemudian lahirlah sebuah ide gila untuk saling mengirimkan puisi melalui pesan pendek.

Ayo bikin jurnal puisi. Asal tidak saling menjebak!”
Jika ini adalah menjebak pun tidak apa-apa. Nekat.”
Oh Tuhan jauhkanlah kami dari pencobaan-pencobaan.”

Cinta tidak saling menjebak. Aku ingat setelah selesai saling mengirimkan pesan-pesan pendek. Kami bergantian saling mengirimkan puisi. Sekali lagi cinta tidak saling menjebak. Cinta mempertemukan. Aku dan kamu saling menemukan.

Perjalanan setelahnya adalah perjalanan puisi. Aku dan kamu lalu roboh kepada kata-kata. Cinta yang membuat kita takluk kepada senjata yang paling tajam: kata. Persetan orang mau bilang apa! Tetapi pencobaan-pencobaan memang nikmat.

Karena yang berdosa adalah ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya.

***


 Bandung, Agustus 2015 hingga Januari 2016

Ada orang yang datang ke dalam hatimu dan mengambil hatimu lalu pergi begitu saja. Mereka hanya singgah. Tetapi ada orang-orang yang bukan hanya singgah, mereka membangun rumah dan tinggal. Mereka tidak akan berubah menjadi kenangan.

(25 Agustus, Catatan Harian)

Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Apalah arti mencintai jika ada ketakutan-ketakutan.

(11 September, Catatan Harian)

Dear, Theoresia
Kamu adalah perempuan yang berbahagia.

(16 Oktober, Ketika Ulang Tahun, Catatan Harian)

Maka tugas Tuhan adalah berikan saya keyakinan.

(26 Oktober, Catatan Harian)

 Jangan marah sama cinta. Bahwa jatuh cinta adalah merdeka.

(7 Desember, Catatan Harian)

Di dalam segala ketidakmungkinan, jadilah tenang. Di dalam segala kesedihan jadilah tenang. Di dalam segala ketidakpastian jadilah tenang. Di dalam segala keraguan jadilah tenang.

(1 Januari, Catatan Harian)

Lelaki Bulan Juli, kamu tidak hanya datang dalam ketenangan. Kamu pun datang dalam setiap pertengkaran-pertengkaran, penyelesaian, rindu, bahkan juga secangkir kopi hitam.

Aku mengingat kamu sebagai Pulau Buru, sebuah langit hitam, gelap, dengan banyak bintang-bintang. Aku mengingat kamu dengan sebuah senyuman dengan gigi yang berderet-deret. Aku mengingat kamu dengan percakapan-percakapan di telepon hingga pagi hari. Aku mengingat kamu dengan setiap nyanyian karoke di telepon. Aku mengingat kamu dengan cerita-cerita mengunjungi orang lain. Aku mengingat kamu dengan sebagaimana aku adalah perempuan yang memilih tinggal.

***


Ambon, Februari, Maret, 2016

Tidak ada catatan yang ingin aku tulis pada periode ini selain:

Aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu tanpa kekhawatiran.

***


Bandung, April 2016

Rencana berangkat sekolah lagi ke Salatiga.  Aku mengingat kamu dalam tumpukan buku-buku.

***

Jakarta, Mei 2016

Kamu adalah tempat yang paling liar di muka bumi. Jakarta saksinya.

***

Salatiga, Juni 2016

Aku mengingat kamu pada sebuah sore berwarna merah muda yang menawan, berpotong-potong kue labu yang kita habiskan bersama. Jalan-jalan kaki di sepanjang Salatiga. Membawakan puisi Lawamena di kampus baru. Dan percintaan-percintaan liar.

***

Bandung, Juli 2016

Mau mengerjakan cinta dengan sungguh-sungguh mulai hari ini dengan segala kepenuhannya. Mulai hari ini dan seterusnya aku hanya mau sayang kamu sungguh-sungguh.

(Sebuah Catatan Harian)

***


Kepada Lelaki Bulan Juli, kamu yang aku sebut kekasih, terima kasih untuk perjalanan, yang sudah lewat, maupun yang akan datang. Biarlah selalu ada keyakinan yang menyala di dalam cintamu. Mari bercinta, dalam-dalam, sungguh-sungguh! 

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...