Monday, June 23, 2014

[semacam review] Menonton Selamat Pagi Malam











Pernahkah kamu memandang langit malam, tanpa bintang. Hanya bulan setengah dengan sinar redup. Dari jendela kamarmu bahkan sinar redup bulan yang hanya setengah itu, tidak bisa menemani kekosongan yang ada di dalam hatimu. Itulah rasanya ketika menonton film Selamat Pagi Malam.

Selain itu Lucky Kuswandi sengaja memasukkan beberapa kritik sosial tentang Jakarta, bahwa manusia pada umumnya sudah kehilangan kemampuan untuk “membahasakan” perasaan-perasaannya secara langsung. Bahwa saat ini semua perasaan sudah tergantikan dengan gadget dan emotikon. Tetapi sungguh mereka lupa bahwa, emotikon titik dua bintang tidak sanggup untuk menggantikan rasa bibir ketemu bibir yang sebenarnya.

Selamat Pagi Malam banyak bicara banyak soal rasa. Tentang bagaimana mengungkapkan rasa dengan berani. Tentang “membahasakan” rasa. Tentang belajar untuk membaui sesamamu dengan jujur.


Film ini mengajak saya dan kamu untuk melihat sekelumit permasalahan orang-orang Jakarta, yang bisa saja salah satu dari orang-orang itu adalah saya atau kamu. Lalu ada sebuah pertanyaan besar di kepala saya ketika selesai menontonnya yaitu: apakah saya berani memaknai sebuah kekosongan?

1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...