Tuesday, October 1, 2013

Aru Lawan Menara Group Dari Rawa Eceng Gondok



Di dekat pompa bensin di Kelurahan Siwalima Dobo Kepulauan Aru, Maluku, ada sebuah lorong. Orang menyebutnya Lorong Agen.  Nah, di sisi lorong ini ada rumah papan yang belum rampung.  Belum ada daun pintu dan jendela.  Juga belum ada plafon, apalagi perabot.
Rumah ukuran sekitar 8 x 6 meter itu seperti banyak rumah di Dobo, dibangun di atas tanah rawa.  Tinggi di muka air sekitar 1 meter.  Untuk masuk ke dalam rumah, harus melalui dua lembar papan sebagai pengganti tangga supaya tidak tercebur ke dalam rawa yang ditumbuhi eceng gondok di mana-mana.

Di dalam rumah, hanya ada dua lembar tikar pandan di atas lantai papan.  Dua spanduk bekas kampanye pemilihan gubernur juga sebagai alas.  Di dekat pintu masuk, ada papan informasi.  Sebuah selebaran dan puisi provokatif ditempel di situ.  “Aru, Tarik Busurmu” begitu judul puisi. Sebuah tulisan lain dengan huruf besar, terbaca sangat jelas.

“Satu Hati, Tolak PT Menara Group dari Bumi Jargaria”

Di rumah milik aktivis Yusuf Parsin yang belum kelar inilah bermarkas Koalisi Pemuda dan Masyarakat Aru.  Mereka melakukan konsolidasi dan koordinasi pergerakan demi perlawanan terhadap rencana kehadiran PT Menara Group yang mau membangun kebun tebu seluas 500 ribu hektar  di atas tanah adat orang Aru.

Dipimpin Yos Sudarso Labok yang dikenal sebagai jurnalis dan aktivis, posko itu selalu rame.  Banyak aktivis berkumpul untuk melakukan advokasi dan saling menguatkan.  Beberapa perempuan Aru rajin menyuguhkan kopi tumbuk dan sagu pompom.

Para pemuda Aru ini datang dari berbagai latar belakang pendidikan, usia, jenis kelamin, agama, etnis dan sub etnis.  Ada mahasiswa, sarjana, Pegawai Negeri Sipil, bahkan penjual sayur di pasar tradisi.  Ada yang usianya belasan tahun, namun ada pula di atas 60 tahun.

Pemuda dan warga Aru punya seribu alasan, mengapa harus menolak investasi perkebunan di Bumi Jargaria, sebutan untuk Aru.  Selain kekayaan flora dan fauna khas Aru seperti cendrawasih, kakarua, kanguru, rusa, kasuari, di atas lahan yang diincar sebagai perkebunan tebu, bertebaran pula tempat-tempat sakral yang sangat dihormati orang Aru.

Dalam kisah Aru semasa purbakala, pernah ada tsunami yang dikenal sebagai peristiwa Enu-Karang.  Orang Aru di Pulau Enu dan Pulau Karang menyelamatkan diri dari gelombang pasang raksasa dengan belang. Tiap-tiap belang menemukan pulau-pulau besar di Aru sebagai tempat hunian baru.  Nah, marga-marga di Aru terhimpun dalam mata belang.  Setiap mata belang punya tempat sakral yang tersebar di dalam hutan-hutan Aru, sebab dahulu kala, kampung-kampung tidak berada di pesisir pantai melainkan di dalam hutan.

Kalau Menara Grup membuka lahan kebun di Aru, bukan saja cendrawasih dan hewan khas Aru terancam, namun tempat-tempat sakral juga akan dilindas traktor supaya dibuat bedeng-bedeng tanah tempat tebu tumbuh.  Itulah yang dicemaskan para pemuda dan tetua adat di Aru, saban kali mereka berdiskusi di Posko Eceng Gondok itu.

Berangkat dari kecemasan itu, ditambah kabar perizinan Menara Group yang dipaksakan oleh gubernur dan bupati, bahkan menteri kehutanan, maka dari posko ini, koalisi telah menggelar demo sepanjang jalan Kota Dobo.  Mereka memasang Sasi Sirsir yaitu sasi perempuan di pintu Gedung DPRD Aru.  Inilah sasi terberat dalam tradisi Aru.  Koalisi juga memasang palang di pintu Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Aru.  Semua ini sebagai ekspresi perlawanan rakyat terhadap konsorsium Menara Group. (teks rudi fofid/foto maichel koipuy)

*teks asli diambil dari sini, http://savearuisland.com/2013/09/28/aru-lawan-menara-group-dari-rawa-eceng-gondok/ postingan ini dimaksud untuk menyebarluaskan dan mendukung kampanye #SaveAruIsland yang akhir akhir ini sedang marak di timeline saya. Silakan follow SaveAruIslands untuk berkontribusi di sana. 



1 comment:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...