Thursday, April 11, 2013

Namaku Awan Hitam. Padakulah Bulan Menggantung





Namanya Bulan. Kadang ia Bulan Sabit. Kadang ia bulan setengah. Kadang ia bulan hampir penuh. Kadang ia bulan bulat sempurna. Namaku Awan Hitam, padakulah ia biasanya menggantung.

Aku pernah mendengar tentang mitos yang mengatakan bahwa pada tubuh Bulan terperangkap seorang anak kecil bersama ibunya. Mereka suka bermain dengan ceria. Kadang ibu menyanyi, si anak kecil menari. Sebaliknya giliran si anak yang menyanyi, ibu akan berdendang.

Bulan tenang-tenang saja. Ia tahu pada tubuhnya hidup ibu dan anak kecil. Sedangkan aku adalah Awan Hitam. Padakulah Bulan menggantung. Dan sudah lama aku menaruh hati pada Bulan. Aku hanya Awan Hitam, aku kadang tidak kelihatan. Bulan yang keperakan terkadang merona ketika aku goda. Ketika tanganku tidak sengaja menyentuh lembut pipi Bulan. Ketika diam-diam aku punya sebuah keinginan sederhana, ingin mencium bibir Bulan.

Diam-diam aku suka membayangkan bibir Bulan. Bentuknya tebal sempurna. Aku suka membayangkan jika, kami saling memagut ketika hujan jatuh. Karena ketika itu, Bulan biasanya menyelip ke dalam sari sari bajuku yang hitam.

Hari yang kutunggu pun tiba. Aku sendiri malu jika mengaku kepada Bulan, bahwa aku sudah lama menginginkannya. Hujan jatuh ketika larut. Bulan masuk ke dalam sari sari bajuku yang hitam kelam. Dan ia bisa melihat tubuhku yang telanjang. Di sana, kami saling memagut. Bibirnya dan bibirku menyatu ketika hujan.

Di sana aku melihatnya, ia lebih perak daripada biasanya. Bulan kini memerah. Ia menggigil dalam pelukanku. Aku bisa merasakan nafas Bulan yang memburu pada helai helai rambutku, Awan Hitam, yang bahkan tidak pernah kelihatan selama ini.

Ibu dan anak kecil yang suka bermain pada tubuh Bulan, mendadak lenyap ketika hujan tiba. Mereka seakan mengerti bahwa, ketika itu Bulan adalah milik Awan Hitam sepenuhnya. Ya, ketika hujan.

Jadi, jika kamu tidak melihat Bulan alpa ketika hari hujan. Ia sedang bersamaku Awan Hitam. Yang biasanya padaku, ia menggantung.

1 comment:

  1. Aku suka metafora awan hitam, perempuan sore memang selalu bisa

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...