Thursday, April 18, 2013

Kenapa Harus Menulis?


“Orang boleh pandai dalam setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” [Pramoedya Ananta Toer]

Saya memulai menulis karena saya suka membaca. Ada sebuah proses serius yang diawali sebelum kita menulis. Bagi saya, tidak ada jalan lain selain membaca. Saya pernah bertemu dengan seorang penulis dalam sebuah interview, dan saya tidak setuju, bahwa setiap orang yang menulis adalah setiap orang yang suka membaca. Tetapi saya tetap dengan keyakinan saya bahwa, setiap tulisan itu berasal dari setiap bacaan.

Umpamanya, kamu suka sekali dengan indomie goreng. Dan setiap hari yang kamu makan hanya indomie goreng saja. Kamu lupa pada asupan sayuran dan buah yang mengandung vitamin bagi tubuhmu. Maka kamu akan tetap hidup. Tapi saya tidak bisa menjamin bahwa ususmu akan baik-baik saja.

Sama halnya dengan menulis. Sebelum menulis ada sebuah proses serius. Salah satunya adalah memilah bacaan. Seperti indomie, kesukaan saya biasanya disajikan dengan telor mata sapi. Dan menu ini akan hadir paling sedikit hanya sebulan sekali. Sehari-harinya saya akan makan makananan yang saya pikir sehat. Paling tidak, saya memperhatikannya. Tidak terlalu serius, tapi saya memperhatikan asupan makanan saya. Saya memilahnya. Sama seperti membaca. Saya tidak sembarangan membaca buku. Dengan memilih bacaan, ada sebuah proses ketat yang saya lakukan.

Karena bagi saya membaca itu seperti mengunyah. Dan saya hanya akan mengunyah makanan yang saya anggap ‘sehat.’ Sehat berbeda dengan masalah selera. Selera hanya mengacu kepada jawaban enak atau tidak enak. Sehatkan ‘sehat’ lebih kepada sesuatu yang bermanfaat. Dalam hal ini paling tidak untuk tubuh.

Haruki Murakami pernah berkata dalam bukunya Norwegian Wood: If you only read the books that everyone else reading, you can only think what everyone else is thinking.” Jika diterjemahkan dengan bebas, jika kamu [tidak memilih bacaanmu] hanya membaca buku yang dibaca oleh kebanyakan orang maka kamu akan berpikir sama seperti kebanyakan orang.

Jelas sekali bahwa Murakami bukan kebanyakan orang. Ia tidak berusaha untuk menjadi berbeda. Ia hanya selektif. Ia ketat terhadap dirinya sendiri. Karena ia tidak ingin berpikir seperti kebanyakan orang. Dan saya suka dengan pernyataan ini: berpikir berbeda. Tidak sama dengan kebanyakan orang.

Dengan membaca [buku yang berbeda] akan menjadikan kita sebagai manusia dengan cara berpikir yang berbeda. Setelah cara berpikir kita berbeda, maka kita tidak akan sama dengan kebanyakan orang.

Proses berpikir yang tidak sama dengan kebanyakan orang inilah yang menarik. Karena ketika kita hanya sama, kita akan rugi. Saya merasa rugi ketika hidup saya hanya sama dengan orang lain. Karena sebenarnya saya di-desain berbeda.

Setelah menyadari hal ini, maka saya sangat selektif. Saya cukup ketat. Paling tidak untuk diri saya sendiri. Paling tidak ada dua buku yang saya pinjam dari perpustakaan (Kineruku) dalam sebulan. Dan membeli buku satu dalam sebulan. Hanya demi sebuah kepentingan yaitu membaca. Jika saya bisa melakukan lebih dari jumlah yang di atas, itu bonus.

Bagaimana membuat sebuah tulisan menarik?

Menulislah Dengan Murni dan Tanpa Pretensi.

www.perempuansore.blogspot.com adalah sebuah blog yang sudah lama saya kelola. Kalau tidak salah sejak tahun 2008, saya menulis di blog ini. Sebelumnya saya bermain di friendster dan multiply. Untungnya semuanya sudah dihapus. Karena tulisan saya lebay, maklumlah masih abege. Tetapi ada proses pendewasaan yang terjadi. Saya bersyukur saya menulis ketika masa-masa itu, tanpa berpikir bahwa tulisan saya menarik atau tidak. Saya hanya menulis. Murni mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran saya, apa yang saya lihat, apa yang dengar, dan apa yang saya baui. Menulis dengan seluruh indera yang ada pada tubuh saya. Tidak ada pretensi apa-apa. Saya tidak pernah berpikir bahwa ketika saya menulis dengan murni dan tanpa pretensi, itu melatih saya untuk menjadi apa adanya.

Menulislah Dari Hati.

Saya percaya bahwa segala sesuatu yang berasal dari hati akan sampai ke hati. Ucapan pada kartu ulang tahun yang ditulis dengan tangan kepada kekasih kita, akan jauh lebih bermakna dari pesan pendek yang kita kirimkan. Tulisan tangan berbicara tentang jejak tubuh. Jejak tubuh dalam bentuk apapun itu selalu sexy. Bubuhkan jejak tubuhmu pada setiap tulisanmu. Usahakanlah menulis memakai hatimu.

Carilah Sudut Pandang Yang Berbeda.

Pada sebuah kafe, terdapat banyak hal: cangkir, musik, asbak, menu makanan, interaksi orang-orang, asap rokok, tertawa. Mulailah menulis dengan menjadi sebuah yang tidak kelihatan: lukisan di dinding misalnya atau pot bunga di sudut. Carilah sebuah sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang adalah bagaimana caramu melihat. Jangan melihat dari sudut mata kebanyakan orang. Carilah sudut yang sembunyi.

Tuliskanlah Segala Sesuatu Dengan Detail.

“Hari hujan, jalanan licin. Trotoar merah itu hampir tidak kelihatan karena genangan air yang cukup tinggi. Saya kesal hari ini karena saya memakai sepatu baru di hari hujan.”

Ini hanya contoh kecil. Ketika kita mencoba menggambarkan sesuatu dengan detail. Detail selalu berhubungan dengan sesuatu yang kecil untuk membangun sebuah gambaran yang lebih besar.
“Perempuan itu sudah lama ada di sudut. Memandang tajam dengan matanya yang penuh dengan celak. Sesekali bibirnya menyempit demi menghisap rokoknya dalam-dalam. Lalu menghembskan nafasnya. Saya bisa melihat bekas lipstik merah perempuan itu pada ujung-ujung rokoknya.”Gambarkan objek tulisanmu dengan detail. Jangan lewatkan setiap inci penting yang kepingin kamu tulis.

Menulis Saja. Jika Ada Yang Suka Dengan Tulisanmu. Itu BONUS.

Tidak perlu terburu-buru. Fokus saja kepada prosesnya bukan hasilnya. Jika tulisan kita memang bagus. Claim itu akan datang. Tenang saja.

Every Writer Is A Thief - Joseph Epstein.
One of the really bad things you can do to your writing is to dress up the vocabulary, looking for long words because you’re maybe a little bit ashamed of your short ones. - Stephen King.
Menulislah dan jangan bunuh diri.  –Theoresia Rumthe.

*Untuk workshop dan talkshow ketika generasi muda berbicara politik di Unpar, 17 April 2013.

 

3 comments:

  1. suka, style nya, tapi saya kalo nulis g mikir mb hehehhe..

    kalo sudah keluar bukunya saya boleh diberitahu mb :)
    senang kenal dengan mb theo
    saya ayu, salah satu finalis lomba kemarin :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...