Tuesday, June 19, 2012

[Semacam Ulasan] Buku Ruang Temu, Maradilla: antara denting dan rahasia






Akhirnya membaca Ruang Temu. Remake dari Turiya. Pada dasarnya saya tertarik dengan tokoh perempuan yang absurd. Itulah mengapa saya jatuhsayang terhadap Dwayne pada buku sebelumnya Turiya. Ketika mendapat kabar bahwa Turiya akan di-remake oleh Bukune, terusterang ada kekuatiran Turiya akan menjadi populer dan lupa pada destini awalnya, ia bukan chicklit.

Tetapi kekuatiran saya akhirnya tidak terbukti. Setelah berkenalan dengan Ruang Temu, saya menemukan Deanna. Mielka. Rajasa. Gilang Ayu. Mereka ini merupakan kloningan dari Dwayne. Milo. King. Fro. Dan saya tidak akan membandingkan Ruang Temu dengan Turiya. Karena mereka adalah bayi yang berbeda. Saya percaya bahwa setiap karya punya sentuhan personalnya sendiri. Dan kita harus menghargai sentuhan personal tersebut sebagai sebuah pertumbuhan.

Terus terang saya kehilangan Dwayne pada diri Deanna. Perpaduan perempuan manis dan absurd yang membuat saya mencintainya entah kemana. Seperti hilang begitu saja. Tapi mungkin itu adalah karakter Deanna. Ia ingin terlepas dari bayang-bayang Dwayne. Dan ia ingin memenuhi karakternya sendiri. Saya menarik kesimpulan Deanna adalah versi Dwayne dewasa. Dwayne yang telah bertumbuh.

Mielka alias Milo. Tipe laki-laki kesukaan saya. Saya selalu jatuhcinta terhadap laki-laki model begini. Tetapi hanya sebatas jatuhcinta. Dan mungkin saja saya akan memilih menikah dengan Rajasa alias King. Karena terkadang kamu membutuhkan orang yang lebih dominan daripada dirimu. Dan bisa jadi mereka adalah pelengkap.

Membaca Ruang Temu di awal seperti banyak yang meloncat di kepala saya bahwa “ini seharusnya begini” “ini bukan begini” “ini terlalu cepat” dan saya meyakini bahwa pemikiran ini datang karena pada dasarnya pada kehidupan nyata: manusia selalu suka membandingkan.

Lalu ketika tenggelam lebih dalam pada Ruang Temu, saya akhirnya menerima sebuah kenyataan bahwa ia kepingin diterima tidak sebagai bayangan Turiya. Karena seperti yang ditulis pada mimpinya Mielka: bayangan adalah cerminan terhadap ketakutan. Ruang Temu ingin menghajar ketakutan itu. Baik ketakutan terhadap pembaca melainkan ketakutan terhadap dirinya sendiri (dalam hal ini penulis).

Gilang Ayu alias Fro digambarkan jauh berbeda. Lebih bertanggung jawab dan mengatur hidupnya dengan baik. Bagian ini (bisa saja) adalah sisi lain dari penulis yang ingin ditonjolkan bahwa ia kini beranjak dewasa. Oke, baru “beranjak” artinya belum dewasa.

Sekali lagi jika pada awalnya membaca Ruang Temu dan terdapat banyak loncatan di kepalamu. Anggaplah itu sebagai sebuah reaksi yang normal. Bahwa sesuatu yang bertumbuh itu pasti punya “protes”-nya sendiri.

Selamat membaca Ruang Temu: antara denting dan rahasia J

1 comment:

  1. Aku uda baca novelnya 2 kali mbak, dan masi ga ngerti sama ending novelnya

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...