Wednesday, June 20, 2012

[Semacam Ulasan] Pertunjukkan Mwathirika






Saya hanyalah sebuah peluit. Tiup saya perlahan; siapa tahu suara saya bisa memecah kehilangan.

Tupu meniup saya membangunkan malam. Ia sengaja membunyikan saya supaya Moyo mendengarkan dan siapa tahu juga Baba mendengarkan. Suara saya terdengar lemah di keheningan malam. Memanggil lirih. Tak ada yang bangun. Tak ada yang peduli. Ada yang mendengar tapi mungkin memutuskan untuk pura-pura tidak dengar.

Gadis kecil di kursi roda lalu datang menghampiri Tupu. Namanya Lacuna. Ia ikat konde dua. Kotak musik mengalun pelan. Lacuna hendak memberikan kotak musik itu kepada Tupu. Mungkin bisa menghibur Tupu yang sedang sedih.

Tapi Tupu menolaknya dengan menggelengkan kepalanya perlahan. Sorot matanya sayu. Air matanya jatuh perlahan di pipi. Ia hendak mengatakan sesuatu kepada Lacuna. Seperti hanya sepotong kata “rindu” tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.

The Story of Loss. The Loss of History.

Balon merah yang terjatuh di pojok adalah saksi bisu. Mainan roda-rodaan yang pernah dibetulkan oleh Baba pun demikian. Ketika Tupu sendirian, saya sempat berpikir untuk memeluknya kencang. Atau mungkin mengajaknya pergi membeli es krim supaya rasa kehilangannya terobati. Atau mengajaknya bermain roda-rodaan. Sempat terbersit juga dalam kepala saya, kenapa Haki, tetangga sebelah, tidak datang hanya untuk sekedar menyelematkan Tupu. Tidak juga. Haki begitu tega, pikir saya.

Belum lagi Moyo yang tak pulang-pulang. Padahal antara Tupu dan Moyo ada saya. Saya peluit yang menghubungkan mereka berdua. Gara-gara saya Tupu pernah terhindar bahaya. Sekali saja. Dan kali ini saya merasa bersalah karena saya tidak bisa melakukan sesuatupun untuk Tupu.

Saya merasa tidak berguna. Ketika hanya tergantung di leher Tupu, saya tidak bisa berbuat apa. Ingin sekali saya berteriak meminta tolong kepada orang-orang di kampung untuk datang menolong. Tapi apalah daya saya.

Napas Tupu semakin lemah. Ia tidak lagi kuat menghembuskan napas. Ia terduduk lemas di antara malam. Dengan sekuat tenaga, Tupu mengerahkan sisa tenaganya. Mengepitkan bibirnya kepada saya. Mungkin inilah yang bisa saya lakukan, mengeluarkan bunyi saya untuk terakhir kalinya. Kepada siapapun yang mendengar. Semoga mereka bisa datang menolong.

5 4 3 2 1. Pelan-pelan saya menghitung dalam hati. Tidak ada orang yang datang. Tupu melepaskan bibirnya dari saya. Saya terjatuh lunglai di dadanya. Dengan lemah dan tangan-tangan kecilnya Tupu memeluk dirinya sendiri.

Malam semakin tua. Dalam dekapan Tupu. Dengan kepala yang tertunduk semakin dalam. Dalam hati saya berdoa: semoga Tupu tidak dengar ini. Saya peluit merah yang menangis. Pelan sekali.




*mencoba review, pertunjukan Mwathirika oleh papermoonpuppet pertunjukan keren yang sampai saat saya menulis cerita ini pun masih membuat saya tercekat dan merinding membayangkannya. Kamu harus nonton pertunjukannya, teman :)



3 comments:

  1. tulisan ini sungguh kereeeeen! :D perempuansore memang jagonya!

    ReplyDelete
  2. wih kereeeen. nice post :D
    Kak Theo sering-sering post dong :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...