Wednesday, June 13, 2012

[Semacam Ulasan] Buku Identitas, Milan Kundera





Membaca sebuah novel yang kemudian menyisakan sebuah misteri di kepala. Mungkin itulah gaya menulis dari Milan Kundera. Dan saya suka. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasanya hinggap dalam kehidupan pasangan. Saya membayangkan sepasang kekasih yang mengaku saling jatuh cinta tetapi sepanjang hidupnya mempertanyakan cinta mereka. 

Di sini saya merenung kembali soal keyakinan Chantal terhadap Jean-Marc, apakah laki-laki itu benar-benar jatuh cinta terhadapnya. Kemudian muncullah pertanyaan baru apakah indikasi seseorang yang benar-benar jatuh cinta terhadap seseorang. Saya kira tak ada yang bisa menjawabnya. 

Dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam kehidupan cinta pasangan tersebut. Maka yang bisa dilakukan adalah menjadi mata-mata. Saling memata-matai. Menulis surat sepotong tanpa nama pengirim. Setelah dibaca surat tersebut lalu dengan anggun diletakkan di dalam lemari di bawah beha-beha. Bukankah ini sangat metaforik. Bahwa di dalam kehidupan biasanya kita menyimpan sesuatu yang bagi kita mengandung “rahasia” di balik barang-barang pribadi kita. 

Nah, begitupun kita sering melakukannya kepada pasangan kita. Jika kita tak mau membuka sesuatu kita memilih untuk menutupnya. Buku ini tidak hanya mengandung kebingungan terhadap pasangan. Juga terdapat kebingungan terhadap diri sendiri. Indentitas. Identitas yang mungkin penuh. Separuh penuh. Atau tidak penuh sama sekali. 

Ketika membacanyanya pun silakan alami petulangan dari pikiran yang satu kepada pikiran yang lain. Lalu kembali merenungkannya. Silakan analisa dialog yang satu dan dialog yang lain. Siapa tahu kita juga pernah memikirkan atau merasa atau mengalami seperti mereka. 

Penggalan dialog Jean-Marc terhadap Chantal cukup sexy menurut saya ketika dia bilang seperti ini “aku kepingin melihat kelopak matamu membasahi kornea seperti wiper menyapu kaca mobil.” Tidak hanya sexy. Saya membayangkan Jean-Marc adalah seorang yang tidak biasa. 

Seperti halnya saya sering membayangkan diri saya sendiri ketika begitu menginginkan mata teduh seseorang saya ingin mencongkelnya. Supaya mata itu melihat saya setiap hari. 

Mungkinkah inilah indikasi seseorang ketika jatuh cinta setengah mati. Kamu hanya ingin mengabadikannya. Diam-diam atau terang-terangan. Atau bisa jadi jatuh cinta pun sebaliknya membuat kita ingin menjadi mata-mata terhadap diri kita sendiri maupun orang lain.


1 comment:

  1. Thats good kak Theo!! i love this entry. keep wrote yow! hehehe

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...