Wednesday, December 30, 2009

Hujan Pakai Sepatu Bola



Hujannya agak lengang kali ini. Tidak meriah. Tidak juga cerewet. Padahal biasanya, hujan suka menggodaku, menyentuh rambut keritingku, basahi pelipisku tipis-tipis, kecup pipiku hangat. Sepatunya juga bukan Lars. Tidak runcing seperti biasanya, agak mirip sepatu bola, kalau aku perhatikan.

“Mau ke mana?” sapaku hangat seperti biasa.

“Entah, berlari, atau main bola, mungkin … sama anak-anak yang lain.” balasnya sambil menerawang jauh.

“Eh Jan, aku mau tanya sesuatu, apa yang kamu lakukan kalau jatuh cinta ?”

“Hmmmm, aku menulis. Persis sepertimu. Bikin puisi. Kadang aku menulis namanya di aspal. Mengukir tanda LOVE di jendela kamarnya dengan ujung-ujung kakiku. Atau biasanya aku bernyanyi di atas genteng kamarnya. Sekali-kali, aku sengaja bernyanyi keras, supaya gentengnya bocor, dan aku bisa mengintip kamarnya. Mencium bau kamarnya”.

“Kamu nakal.” kataku dan kita berdua tertawa.

Lalu, kita diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Kamu tahu, kenapa hari ini aku pakai sepatu bola?” tanya hujan tiba-tiba padaku.

“Entah?” aku menggeleng perlahan.

“Dia sedang di lapangan, latihan kasti, dia bilang aku bisa mengikutinya kesana. Asal pakai sepatu bola. Katanya, dia bosan lihat aku pakai sepatu Lars terus. Juga supaya aku lebih lentur ketika mengejarnya. Alasku juga lebih empuk. Nggak bikin mukanya *pereus. Lagian, kali ini aku bisa menulis namanya besar-besar di lapangan itu.”

“Ya sudah sana pergi. Besok main lagi yah, Jan.” kataku kemudian.

“Baiklah manis, doakan aku, ssshhh, kamu mau tahu sesuatu lagi, sebenarnya sepatu bola ini agak kegedean. Aku jadi susah melangkah nih. Tapi, demi dia. Aku rela.”

Aku tersenyum. Punggung hujan kelihatan dari belakang. Ia lari miring-miring. Entah karena sepatunya yang kebesaran sampai ia tidak seimbang. Atau memang karena cinta, kadang bikin yang lurus jadi miring. Yang miring sengaja dilurus-lurusin.

Pantas saja, tadi kok lewat samping. Padahal biasanya ia ketok pintu depan dulu.


*Pereus : dari bahasa Sunda. Sampai saat saya menyelesaikan tulisan ini, nggak ada satu orang Sunda pun yang bisa mengartikannya dengan jelas. Mereka hanya memperagakan karet yang dijepret ke kulit saya. Ada yang bisa bantu?

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...