Kali ini aku betul-betul bosan menulis di diary. Diaryku pun tampak sudah lelah, mendengar namamu aku tulis terus menerus. Aku ingin teriak ke dunia, aku ingin Ibu tahu, aku ingin teman-temanku tahu, aku ingin mantan-mantanku tahu, aku ingin setiap orang yang aku temui tahu: kalau aku cinta kamu.
Tumpukan hujan , yang kamu hadiahi ke padaku setiap kali kamu pulang dari bulan selalu aku simpan. Kamarku sudah penuh, rak-rak di dinding sudah penuh, lemariku juga sudah penuh, aku bahkan tak tahu harus menyimpannya dimana lagi. Ibu selalu mengomel, tiap kali masuk ke kamarku. Ya ampun nduk, mbok ya, kamarmu di beresin toh, kok kaya kapal pecah gini? hujan-hujan dalam kantong itu kalau sudah nggak kepake, dibuang saja. Begitu selalu omelannya, tiap kali masuk ke kamarku.
Tapi toh hujan-hujan ini kan hadiahmu, masa mau aku buang. Atau masa mau aku jual ke barang bekas. Sedangkan aku sendiri belum selesai merajut namamu di atas tumpukan hujan ini. Padahal sudah bertahun-tahun, aku mengerjakannya. Dan aku belum selesai juga.
Ibu bilang, kenapa sih aku harus percaya kepada laki-laki macam kamu, yang kerjanya di bulan, dan selalu membawa pulang hujan. Emang dia bisa ngasih kamu makan? kerjaannya sudah tetap apa? gajinya berapa? dan setumpuk pertanyaan lainnya, yang terkadang bikin aku pusing. Kalau sudah begitu, aku memilih masuk ke kamarku dan merajut kembali.
Hari ini, kamu ke bulan lagi. Seperti biasa sekantong hujan, selalu kamu bungkus untukku. Itu berarti peerku tambah banyak, satu per satu butirnya harus aku rajut dulu, menjadi garis-garis tipis pendek-pendek, kemudian dirajut lagi menjadi garis-garis panjang yang lebih tebal, dirajut terus, sampai akhirnya, aku bisa merajut namamu di tengah-tengahnya.
Entah kenapa, rajutanku selalu tersendat-sendat, ada ini lah, ada itu lah, ada apa lah, dan pada akhirnya, yah, terbengkalai lagi. Tertunda lagi. Tak selesai-selesai lagi. Padahal kalau sudah selesai, aku mau rajutan hujan itu menjadi tanda cintaku untukmu. Supaya setiap orang yang melihat hujan, akan melihat namamu di sana, dan mereka akan tahu, termasuk Ibu: kalau aku cinta kamu.
Bertahun-tahun sudah, hadiah hujan darimu selalu kutumpuk, kamarku bahkan sudah penuh, lemariku juga sesak, sampai aku bingung hadiah hujanmu mau aku simpan di mana lagi, dan ibu terus mengomel.
Maafkan aku hadiah hujanmu tergeletak dimana-mana, sampai kamarku berantakan seperti kapal pecah.
Dan bahkan sampai detik ini, aku belum selesai juga merajut namamu, yang hanya tiga huruf itu: B E N.
18.05.09, 00:30
*Terima kasih untuk Frau dengan lagu Mesin Penenun Hujannya, dan Deybie untuk nama papanya yang boleh saya pinjam.
Monday, June 14, 2010
Kau dan Buku
kau dan buku
buku membacamu, halaman demi halaman,
lembaran pertama sampai terakhir
aku dan hujan
hujan mengecup alis
turun ke pipi, kemudian bibirku
buku akan tua
dan pakai kacamata
tak mampu lagi membacamu
hujan awet muda
tambah tua tambah gaya
banyak maunya pula
kau dan buku
aku dan hujan
mari, sekali kali bertukar pasangan
(2010)
buku membacamu, halaman demi halaman,
lembaran pertama sampai terakhir
aku dan hujan
hujan mengecup alis
turun ke pipi, kemudian bibirku
buku akan tua
dan pakai kacamata
tak mampu lagi membacamu
hujan awet muda
tambah tua tambah gaya
banyak maunya pula
kau dan buku
aku dan hujan
mari, sekali kali bertukar pasangan
(2010)
Monday, June 7, 2010
Ada Hantu
bulan bermain di kuburan
mengukir namanya sendiri di atas batu nisan
siapa tahu terkenal pikirnya.
paling tidak di kalangan para hantu
yang katanya suka nongkrong di emperan kubur
sekedar makan sate, atau bakso yang lewat.
tapi bulan kecewa, sekarang kuburan kosong
para hantu sudah tidak betah lagi di kuburan
mereka pindah, lebih betah, di gereja.
(2010)
mengukir namanya sendiri di atas batu nisan
siapa tahu terkenal pikirnya.
paling tidak di kalangan para hantu
yang katanya suka nongkrong di emperan kubur
sekedar makan sate, atau bakso yang lewat.
tapi bulan kecewa, sekarang kuburan kosong
para hantu sudah tidak betah lagi di kuburan
mereka pindah, lebih betah, di gereja.
(2010)
Friday, June 4, 2010
Aku dan Diary
Dulu aku punya diary. Aku menulis cinta pertama di diary. Aku menulis menstruasi pertama di diary. Aku menulis tentang kecupan pertama. Euh. Belum. Aku belum pernah mengecup atau dikecup. Dicium atau mencium.
Sudahlah percaya saja.
Diaryku tidak pernah merah muda. Aku benci merah muda. Aku benci warna merah, merah selalu identik dengan darah. Apalagi kesini-sini, banyak yang suka bilang merah muda itu warna cinta.
Jadi maksudmu, mencintai seseorang itu harus sampai berdarah-darah. Merah muda: darah kental, yang dicampur dengan air. Jijik. Aku tidak suka.
Makanya diaryku tak pernah ada yang merah muda. Lebih banyak yang tak punya warna. Lebih banyak yang tak punya motif. Polos-polos saja.
Tapi aku selalu suka menulis. Aku suka menulis dengan warna. Ganti spidol. Pakai pensil warna. Diaryku selalu warna-warni. Itu cinta pikirku, kau tak hanya punya satu warna. Kau harus berwarna dulu. Sehingga kau bisa mewarnai orang lain.
Diaryku selalu mencatat cinta. Cinta-cinta tersembunyi. Tak kelihatan. Ngumpet di balik kata. Aku mencatat setiap detail perasaanku. Aku mengingat siapa yang aku cintai di balik goresan pensilku.
Kau, salah satunya.
Sekarang aku punya netbook.
Kau, tak lagi aku tulis di diary. Tapi netbook.
Aku mencintaimu hampir tanpa bunyi. Hampir tidak ada kata-kata manis yang keluar dari mulutku. Hampir tidak ada kata ILOVEYOU.
Aku memilih untuk diam dan menuliskanmu. Mengetik tawamu. Mengetik tangismu Mengetik kerut di sekitar matamu. Mengetik tiap keluhanmu. Mengetik lelahmu. Mengetik curhatmu. Mengetikmu utuh diantara huruf-huruf keyboardku.
Terus mengetikmu tanpa koma. Tanpa titik. Tanpa tanda baca. Mengetikmu tanpa spasi sama sekali. Kalaupun titik, koma, spasi jadi hambatan. Aku akan cungkil mereka dari keyboardku.
Aku penggal cintaku satu-satu. Lewat huruf-huruf mati ini. Mencintaimu tanpa spasi. Tanpa tanda seru.
Aku masih di sini. Belum selesai. Mencintaimu tanpa bunyi. Kecuali bunyi keyboard ini.
Tuk tik tuk tik.
(2010)
Sudahlah percaya saja.
Diaryku tidak pernah merah muda. Aku benci merah muda. Aku benci warna merah, merah selalu identik dengan darah. Apalagi kesini-sini, banyak yang suka bilang merah muda itu warna cinta.
Jadi maksudmu, mencintai seseorang itu harus sampai berdarah-darah. Merah muda: darah kental, yang dicampur dengan air. Jijik. Aku tidak suka.
Makanya diaryku tak pernah ada yang merah muda. Lebih banyak yang tak punya warna. Lebih banyak yang tak punya motif. Polos-polos saja.
Tapi aku selalu suka menulis. Aku suka menulis dengan warna. Ganti spidol. Pakai pensil warna. Diaryku selalu warna-warni. Itu cinta pikirku, kau tak hanya punya satu warna. Kau harus berwarna dulu. Sehingga kau bisa mewarnai orang lain.
Diaryku selalu mencatat cinta. Cinta-cinta tersembunyi. Tak kelihatan. Ngumpet di balik kata. Aku mencatat setiap detail perasaanku. Aku mengingat siapa yang aku cintai di balik goresan pensilku.
Kau, salah satunya.
Sekarang aku punya netbook.
Kau, tak lagi aku tulis di diary. Tapi netbook.
Aku mencintaimu hampir tanpa bunyi. Hampir tidak ada kata-kata manis yang keluar dari mulutku. Hampir tidak ada kata ILOVEYOU.
Aku memilih untuk diam dan menuliskanmu. Mengetik tawamu. Mengetik tangismu Mengetik kerut di sekitar matamu. Mengetik tiap keluhanmu. Mengetik lelahmu. Mengetik curhatmu. Mengetikmu utuh diantara huruf-huruf keyboardku.
Terus mengetikmu tanpa koma. Tanpa titik. Tanpa tanda baca. Mengetikmu tanpa spasi sama sekali. Kalaupun titik, koma, spasi jadi hambatan. Aku akan cungkil mereka dari keyboardku.
Aku penggal cintaku satu-satu. Lewat huruf-huruf mati ini. Mencintaimu tanpa spasi. Tanpa tanda seru.
Aku masih di sini. Belum selesai. Mencintaimu tanpa bunyi. Kecuali bunyi keyboard ini.
Tuk tik tuk tik.
(2010)
Thursday, June 3, 2010
Bunga Hujan
kau selalu suka bunga hujan
kau suka baunya, kau suka menikmati mekarnya.
ketika hujan sedang berbunga.
aku sengaja mengumpulkan helai demi helai hujan,
untuk aku jadikan buket bunga,
dan aku letakkan di dalam kamar kita.
manis bukan?
tapi sekarang aku kumpulkan helai demi helai hujan layu untukmu
akan mati di tanganmu.
(2010)
kau suka baunya, kau suka menikmati mekarnya.
ketika hujan sedang berbunga.
aku sengaja mengumpulkan helai demi helai hujan,
untuk aku jadikan buket bunga,
dan aku letakkan di dalam kamar kita.
manis bukan?
tapi sekarang aku kumpulkan helai demi helai hujan layu untukmu
akan mati di tanganmu.
(2010)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Featured Post
Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai
Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...