Tuesday, April 1, 2014

Tentang Seorang Perempuan Bernama Ruth





Perempuan yang saya panggil Mama. Ia perempuan berambut keriting dengan hidung mancung dan mata besar dengan sinarnya yang lembut. Ia senang bernyanyi pada tiap kesempatan. Dengan senyum lebarnya, ia yang paling pertama mengancungkan tangan, ketika kebaktian Minggu dan pendeta bertanya “apakah ada solo atau paduan suara?” dengan lantang ia akan menjawab “saya.”

Perempuan yang ceria, tidak pernah mengeluh tentang kondisi badannya yang sudah semakin renta. Ia hanya terlalu bersemangat, melayani panggilan Tuhan di dalam hidupnya untuk menjadi seorang pendeta. Ia masih suka dipanggil melayani kebaktian walaupun jarak yang ditempuh terkadang jauh.

Ia yang menemani saya pergi beli beha untuk pertama kalinya. Dan bukan mengajarkan saya bagaimana pintar memasak di rumah, tetapi bagaimana jago berbicara di depan umum. Bukan hanya ayah. Mama yang adalah seorang pendeta pun adalah contoh bagaimana saya berani berbicara di depan umum.

Saya lupa ketika itu saya umur berapa, seingat saya sudah berusia sekolah, ketika sudah di Ambon dan kedua orang tua saya masih melayani di Larat, Tanimbar Utara, mereka mengunjungi kami hanya jika ada jadwal kapal ke Ambon. Dan setiap kali hendak berpisah lagi, karena mereka harus kembali ke Larat. Saya suka ngambek. Saya benci sekali perpisahan. Menurut saya yang masih kecil pada waktu itu, kenapa sih musti kembali lagi ke Larat dan meninggalkan kami, anak-anaknya di Ambon. Tetapi ketika dewasa saya mengerti bahwa mereka melakukannya karena pelayanan. Karena cinta terhadap Tuhan.

Saya tidak lupa ketika harus belajar mengelola uang yang ada sedikit sedikit ketika akhirnya sekolah di luar dan merantau, Mama selalu menasihati bahwa gaji pendeta itu gaji kecil, katong ini hidop hanya dari orang pung uang-uang kolekte. (kita ini hidup hanya dari orang punya persembahan di gereja).

Mama juga adalah seorang “pengumpul dokumentasi” yang handal. Ia senang merayakan momen. Ia bukan fotografer, tetapi kemanapun ia pergi, ia selalu menyempatkan untuk memotret apapun. Album kami, 3 bersaudara perempuan ketika bayi hingga wisuda, menikah, Mama mendokumentasikannya dengan lengkap.

Mama juga adalah seorang pejuang, sebagai pendeta, sebagai pelayan jemaat, ketika kerusuhan dan Jemaat Kezia yang tadinya berlokasi di kebun cengkeh harus keluar, ia dengan timnya mengusahakan untuk mencari lokasi baru, akhirnya lokasi Jalan Baru, Farmasi Atas, Dusun kate kate, Desa Urimessing yang kini kami tinggali, adalah salah satunya perjuangan dari Mama saya.

Ia mencintai ayah. Kisah cinta mereka dimulai sejak di bangku kuliah. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling melengkapi. Tidak hanya itu mereka adalah sepasang sahabat. Karena merekalah, saya belajar bahwa pada akhirnya setiap kita tidak hanya membutuhkan pasangan. Tetapi setiap kita membutuhkan sahabat: tempat berbagi, tempat bercerita.

Mama Ruth dengan pertandingannya telah usai. Untuk itulah ia akhirnya dipanggil pulang. Tidak ada yang terlalu cepat atau tidak ada yang terlalu terlambat. Waktu Tuhan selalu tepat.



2 comments:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...