Monday, April 14, 2014

Sebuah Perenungan Hari Ini












Bukan berarti nggak boleh kritis sama hidup. Tapi manusia terlalu kerdil untuk rencana rencana besar terhadapnya. Semua telah diatur.

Bunyi tweet saya. Bukan hanya sebuah tweet, tetapi itu juga dalah sebuah perenungan panjang, ketika akhir-akhir ini saya sering berpikir. Mendadak perenungan itu kok sepertinya menyiratkan bahwa kita “menyerah” terhadap hidup. Seakan-akan terlalu nrimo dan ujung ujungnya tidak mau berbuat apa-apa lagi.

Tetapi akhir-akhir ini saya sedang berpikir tentang sebuah penyerahan hidup yang paling dalam. Bahwa penyerahan hidup ini hanya semata-mata karena saya hanya terlalu kerdil untuk sebuah rencana rencana besar yang akan terjadi di dalam kehidupan saya. Sungguh saya tidak akan pernah mengerti jalan-jalannya. Sungguh saya tidak pernah mengerti karena konon otak saya hanya sebesar bakpau.

Pernahkah kamu bangun di pagi hari dan kamu mendapati dirimu masih diberikan kesempatan nafas hidup, lalu kemudian kamu turun dari tempat tidur, agak sedikit melakukan perenggangan sejenak, minum air putih yang banyak, membuka gorden jendela kamarmu lebar-lebar, melihat pucuk daun hijau di luar jendela kamarmu dan berpikir kenapa kamu masih hidup? ataukah kok bisa ya saya masih dikasih kesempatan untuk hidup? ini mungkin akan menjadi pertanyaan yang paling aneh yang kamu lakukan. Tapi begitulah, hidup tidak datang dengan sendirinya, begitupun mati, semuanya ada yang mengatur.

Sebagai manusia yang terlalu kerdil, ada kemungkinan saya tidak punya hak apa-apa untuk menggugat segala sesuatu yang terjadi. Satu hal yang saya pelajari dan coba renungi selama hari-hari ini adalah: bagaimana saya tetap mensyukuri hidup yang menghampiri saya, dan menyerahkan hidup saya ke tangan sang kuasa dalam-dalam. Ini bukan klise. Ini hanya sebuah keyakinan bahwa, apapun yang terjadi di dalam kehidupan saya tidak lepas dari  kendali dan pemeliharaan yang kuasa.


No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...