Sunday, October 2, 2011

Heart In Waiting


Cinta indah pada waktunya, gue bakal nunggu waktu yang tepat itu. Paling tidak, ini keyakinan gue.

Ini status tweet.

Ini curcol. Yes! norak?

Tidak.

Ini yang saya rasakan. Pernah dengar istilah: evaluasi hati? mungkin kamu pernah dengar tapi belum pernah coba untuk melakukannya. “Evaluasi Hati” adalah istilah yang biasanya saya gunakan ketika, saya hanya ingin sendiri “mendengarkan” hati saya.

Tetapi sebelum saya bisa “mendengarkan” hati saya. Saya mengobrol dengan beberapa orang yang sekiranya punya pemikiran dan masukan yang bagus untuk masalah yang sedang saya hadapi. Selanjutnya yang saya lakukan adalah saya akan duduk. Tenang. Mendengarkan hati saya.

Hati tidak bisa dibohongi. Ia seperti seorang sahabat, yang tidak hanya akan mendengarkan ceritamu. Ia mampu bicara. Ia mampu berbisik tentang nasihat yang ia rasa paling baik untukmu. Ia tidak akan membiarkan kamu jatuh. Ia tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan.

Ia begitu sederhana. Yang perlu saya dan kamu lakukan adalah mendengarkannya.

Untuk kasus tertentu—saya memilih untuk mendengarkannya. Walaupun dalam banyak hal, saya ini anak bandel dan suka semaunya sendiri. Tapi tidak kali ini. Kali ini saya musti taat. Dan mau mengalah untuk mendengarkan hati saya yang sebenarnya.

Sekitar setahun yang lalu bahkan lebih, saya pernah menulis begini : “kenapa musti takut patah hati? karena patah hati sebenarnya mengajarkan kita supaya lebih jago membalut.” Tetapi waktu itu, mungkin di hati saya masih terlalu sedikit borok. Belum terlalu banyak. Saya masih sanggup untuk membalutnya.

Tapi apa yang akan kamu lakukan jika borok di hatimu sudah begitu banyak? dan kali ini kamu kelabakan.

Saran saya : berhentilah sakiti hatimu sendiri.

Cobalah sekali-kali ajak hatimu mengobrol dan dengarkanlah dia.

Lebih baik menunggu—waktu yang tepat—supaya bertemu hati yang tepat.

Sampai di sini, akhirnya saya mulai mengerti sedikit tentang kalimat “jagalah hatimu dengan segala kewasapadaan, karena darisitulah terpancar kehidupan.”

Saya dan kamu punya sebuah tugas untuk menjaga hati kita—masing-masing. Bukan malah menitipkannya sembarangan kepada orang lain.

Dago 349. 2 Okt 2011. 00:47.—terimakasih kepada Sara Bareilles dengan Gravity-nya. 

7 comments:

  1. makasi ya kakak postingannya. indah dan tepat pada waktunya. :')

    ReplyDelete
  2. " Lebih baik menunggu—waktu yang tepat—supaya bertemu hati yang tepat. "

    setuju sama kalimat ini kak :)

    ReplyDelete
  3. ada lagu bagus tentang mengambil, membawa dan menitipkan hati...pernah denger soko ?

    ReplyDelete
  4. cinta, cinta, kenapa selalu menunggu...
    butuh satu kenekatan
    tentu saja pengorbanan
    mencari cinta yang sempurna
    dia akan menggerogoti waktu
    dan menjadi lapuk
    please............. belajar jadi pelayan

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...