Saturday, January 13, 2018

Tempat Paling Liar di Muka Bumi Berkunjung ke Kampus IAIN Ambon





foto dok kawan-kawan lintas IAIN Ambon.

Saya dan Weslly Johannes senang sekali dapat mengambil bagian hari ini untuk berbagi hal-hal kecil tentang proses menulis kreatif dan juga hal-hal menarik di balik buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di kampus IAIN. Kesan pertama saya, kampus ini sangat rimbun dan tenang.

Sebelum diskusi, kami sempat mendengarkan kawan-kawan memberikan sedikit testimoni tentang buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi. "Menusuk sampai ke hati," adalah satu kesan dari Oca, mahasiswi IAIN. Diskusi kami terbilang singkat, hangat, padat, dan penuh pertanyaan-pertanyaan kritis pun lucu.

Ihsan Reliubun membuka diskusi dengan memperkenalkan kami dan mempersilakan kami untuk berbagi. Beberapa hal yang kami bagi adalah: bagaimana memulai sebuah proses menulis, ritual-ritual yang biasanya dilakukan sebelum menulis, bagaimana mencari pemantik segar untuk terus menulis, dan eksperimen apa saja yang biasanya kami lakukan untuk menulis. Di sela-sela diskuisi Adam dan Rudi Fofid membaca beberapa puisi dan puisi-puisi itu sekaligus menjadi ilustrasi untuk memperjelas hal-hal yang sementara didiskusikan.

Dari keriuhan pertanyaan yang dimunculkan, terdapat di antaranya pertanyaan tentang metafora-metafora yang kami gunakan dalam menulis puisi. Metafora-metafora yang biasa dan sederhana karena begitu sehari-hari. Namun, ada dua metafora yang ditanyakan secara khusus: ranjang dan badan perawan. Metafora-metafora ini menarik perhatian, karena terkesan seksual walau sesungguhnya dua metafora itu mewakili keterlibatan dua orang pada kedalaman relasi tertentu, sebuah relasi yang tidak harus dimengerti sebatas persentuhan dua tubuh.

Diskusi santai diakhiri dengan eksperimen menulis puisi berantai. Sebuah puisi berjudul "Kampus Hijau" yang ditulis oleh lima orang itu dibacakan oleh Winda untuk menutup perjumpaan di ruang puisi.

Kami berterima kasih kepada kawan-kawan LINTAS IAIN untuk kesempatan dan rasa percaya pada kami; Piet Manuputty dan Rere Khairiyah untuk inisiatif memperjumpakan kami dengan kawan-kawan di Kampus Hijau, dan semua kawan-kawan yang hadir sore tadi. Kawan-kawan semua telah memungkinkan terjadinya sebuah perjumpaan yang hangat dan manis. Perjumpaan yang akan selalu kami rindukan.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...