Monday, February 20, 2017

Sebuah Catatan Harian: memelihara keriting









Memulai sebuah proyek baru tepat sehari setelah hari kasih sayang. Sebuah catatan harian untuk perempuan dengan rambut keritingnya. Saya sendiri perempuan dan berambut keriting secara alamiah ketika lahir. Tetapi ketika memasuki masa pubertas, saya merasa perlu meluruskan rambut saya. Alasannya seingat saya ketika itu adalah karena keriting itu tidak cantik.

Menjadi remaja dengan rambut keriting pada waktu itu adalah sebuah beban yang mendatangkan rasa malu dan tidak percaya diri. Saya ingat kami yang berambut keriting kerap mendapatkan julukan yang tidak sedap ketika berada di sekolah. Panggilan karibo, rambut sarang burung, rambut sasak, rambut kawat, menjadi sangat akrab di telinga.

Sementara iklan layanan masyarakat pada saat itu tidak jauh-jauh dengan menampilkan perempuan-perempuan dengan rambut hitam yang lurus dan berkilau. Mungkin masih ingat iklan shampo seperti Emeron, Dimension, Sunsilk, dengan gambar-gambar perempuan pada badan kemasannya. Hampir tidak ada yang keriting.

Saya punya dua kakak perempuan yang juga meluruskan rambutnya pada saat itu. Ini merupakan sebuah contoh lain yang saya lihat di depan mata kepala saya sendiri, bahwa memiliki rambut lurus adalah sesuatu yang mutlak. Rata-rata kami memakai obat pelurus rambut. Salah satu obat pelurus rambut yang terkenal pada saat itu adalah Makarizo, merek yang juga masih terkenal hingga sekarang. Setelah membeli krimnya, dengan menggunakan peralatan sederhana, kami lalu mengoleskannya pada rambut.

Tapi pernahkah terpikir olehmu, kenapa ya disebut dengan "obat rambut"? karena kata "obat" di situ memposisikan rambut keriting sebagai penyakit yang harus disembuhkan. 

Ketika menulis ini, saya ingat foto laporan pendidikan saya ketika jaman sekolah menengah pertama, bahkan pernah menjadi korban vandalisme diam-diam saya menolak rambut keriting. Di foto itu saya pernah mencoret rambut keriting saya menggunakan spidol, supaya foto rambut saya kelihatan lurus. Ya, saya melakukannya lantaran saya benci memiliki rambut keriting.

Keyakinan untuk kembali mencintai rambut keriting saya kembali tidak langsung serta merta tumbuh. Namun butuh proses yang cukup panjang­­­­. Sampai akhirnya saya berhenti meluruskan rambut saya dan memutuskan untuk memelihara rambut keriting saya secara lebih alami. Untuk itulah catatan harian #MemeliharaKeriting ini dibuat. Tujuannya sederhana saja, saya mau mengumpulkan cerita-cerita dari perempuan-perempuan lainnya yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan saya. Supaya saling berbagi dan menguatkan satu dengan yang lain untuk memeluk diri sendiri dengan cinta yang besar. Silakan kirimkan ceritamu di memeliharakeriting[at]yahoo[dot]com. Atau ikuti kami di instagram @memeliharakeriting. Sebab keriting adalah identitas, keriting adalah anugerah.   

Keriting adalah perlawanan.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...