Friday, February 3, 2017

Kekasih Saya Mungkin Tidak Tahu





Hari ini biasa saja. Seperti hari kemarin, bangun siang, membuka pintu lebar-lebar, menghirup udara dan rerumputan. Mandi lalu bergegas. Hari ini jadwal saya hanya mengambil file pekerjaan, makan siang, kemudian menyelesaikan sedikit pekerjaan rutin.

Sepanjang hari selalu ada kekasih. Bagi kami jarak bukan sesuatu yang harus diambil pusing. Karena segala macam teknologi dengan mudahnya mendekatkan kami. Walaupun risiko jarak, ya, memang harus ditanggung sendiri. Kami banyak menunda hal-hal seperti pelukan. 

Kemudian saya teringat bahwa saya harus menelepon ibu dari kekasih. Maksud hati yang satu ini memang sudah lama ingin dilakukan. Menelepon untuk mengabari bahwa saya sudah kembali di kota ini. Awalnya saya berpikir untuk ber-teleconference, supaya saya dan kekasih dapat berbicara langsung dengannya. Tetapi akhirnya, saya memutuskan untuk menelepon sendirian saja.

Mama.

Hampir tiga tahun belakangan ini, saya tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan 'mama'. Kata 'mama' lalu menjadi kata yang diam-diam saya rindukan. Saya sangat menginginkannya. Namun, malam ini rindu saya berubah menjadi semburat rasa tenang. Karena kesempatan itu akhirnya datang juga.

"Halo" sapa suara di seberang sana.

"Mama!" kata saya mantap dan ceria.

Terbit senyum di antara kami.

Percakapan pendek kami mungkin hanya kurang dari lima belas menit, saling bertukar kabar dengan cerita-cerita ringan. Kekasih saya mungkin tidak tahu betapa bahagianya saya malam ini, hanya karena memanggil seseorang di seberang sana, 'mama.'








No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...